Raffi Ahmad Ingatkan Anak Muda: Jangan Investasi karena FOMO

Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad membagikan tips finansial untuk generasi muda. Ia mengimbau anak muda agar tidak asal FOMO saat berinvestasi.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad mengingatkan generasi muda agar tidak asal terjun berinvestasi hanya karena dorongan tren atau Fear of Missing Out (FOMO).

Raffi menegaskan, aktivitas investasi harus didasari oleh tujuan yang jelas serta pemahaman mendalam terhadap instrumen yang dipilih. Anak muda wajib mengkalkulasi risiko sebelum menempatkan dananya di pasar keuangan.

"Investasi itu yang paling penting dimulai dari tujuan dan pemahaman, bukan karena FOMO," ujar Raffi di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Raffi menyarankan para pemula untuk konsisten mempelajari produk investasi terlebih dahulu. Jika belum paham, investor dapat berkonsultasi dengan pendamping atau tenaga profesional yang tepercaya.

"Jangan berinvestasi pada sesuatu yang tidak kita pahami. Kalau belum tahu, pelajari dulu, ukur risikonya, dan tetap rasional," tuturnya.

Selain itu, ia mewanti-wanti agar modal investasi tidak diambil dari dana kebutuhan harian. Menurutnya, tiap instrumen investasi memiliki profil risiko dan jangka waktu yang berbeda-beda sehingga harus disesuaikan dengan profil kemampuan finansial.

"Jangan pernah mempergunakan kebutuhan pokok kita untuk berinvestasi, jangan," tegas Raffi.

 

Bedakan Penghasilan dan Kekayaan

Tak hanya soal investasi, Raffi juga mengajak anak muda untuk memahami perbedaan mendasar antara penghasilan (income) dan kekayaan (wealth).

Ia menerangkan, penghasilan adalah uang yang diterima secara berkala, seperti gaji. Sedangkan kekayaan mencakup kepemilikan aset, mulai dari properti hingga nilai kepemilikan bisnis.

Atas dasar itu, Raffi menyarankan agar anak muda tidak perlu terburu-buru mengejar status kaya. Langkah yang lebih bijak adalah mengasah kemampuan diri dan mengelola penghasilan secara bertahap.

"Pikirannya jangan mengejar kaya dulu. Yang paling penting itu cari berkah dulu," ucapnya.

Ia juga berpesan agar kenaikan pendapatan tidak diimbangi dengan lonjakan gaya hidup yang konsumtif.

"Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Gaya hidup tinggal kita sesuaikan dengan kemampuan saat ini saja," tambahnya.

 

Pentingnya Membangun Aset Masa Depan

Raffi menilai perubahan pola pikir menjadi kunci bagi kemandirian finansial generasi muda. Anak muda tak boleh sekadar fokus mencari penghasilan bulanan, tetapi juga harus mulai membangun portofolio aset untuk masa depan.

Proses belajar tersebut dapat dilakukan secara terbuka tanpa memandang usia. "Senior bisa belajar sama junior, yang junior juga belajar dari senior," kata dia.

Perkembangan teknologi yang begitu masif menuntut anak muda untuk terus beradaptasi dan belajar. Raffi mengingatkan bahwa kesuksesan butuh proses dan kegagalan merupakan bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.

"Jangan pernah bilang kita gagal. Bilang saja belum berhasil, belum rezekinya," kata Raffi.

Menurutnya, reputasi, karakter, kredibilitas, dan relasi adalah modal utama bagi generasi muda dalam memupuk karier maupun membangun bisnis.

"Fondasi yang kuat itu jauh lebih penting daripada hasil yang serba cepat," tutupnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6