Bahlil Pasang Syarat Ekspor Listrik: Harga Kami yang Tentukan

Tak Mau didikte negara pembeli, Bahlil Lahadalia patok syarat ketat ekspor listrik EBT. Indonesia yang pegang kendali harga.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 20:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, memberi sinyal tegas terkait wacana ekspor listrik ke luar negeri. Ia menekankan, Indonesia tidak akan asal-asalan melepas pasokan listrik hijau jika harga jualnya tidak ditentukan oleh negara sendiri.

Bahlil mengungkapkan, permintaan ekspor listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) dari negara tetangga sebenarnya sudah bergulir sejak 2020 lalu.

"Dunia sekarang lagi mendorong untuk bagaimana industri mereka, produk mereka itu memakai green energy,” ujar Bahlil dalam acara di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Ia menyoroti gelagat negara pembeli yang ingin menguasai pasokan energi sekaligus menentukan harganya sendiri.

"Bayangkan kalau ada satu negara, dia enggak punya energi, tapi dia punya modal dan dia punya teknologi, ruangnya sudah tidak ada lagi, kemudian dia impor dari kita, minta, habis itu bahan bakunya dari kita. Ya sudah, kita serahkan kita punya kepala saja,” tambahnya.

Jaga Kedaulatan dan Posisi Tawar Bangsa

 

Bahlil menilai penentuan harga ekspor listrik secara mandiri merupakan bagian krusial dari upaya menjaga kedaulatan bangsa dan posisi tawar (bargaining position) Indonesia.

"Saya pikir boleh kita ekspor, yang penting harganya kita yang tentukan. Kau mau beli barang, tapi harga pun kau yang tentukan, emang kau pikir negara kita ini negara orang yang enggak punya otak apa? Sudah dia mau menentukan harganya, pengusahanya pun dia mau tentukan. Ini Abuleke kelas tinggi ini," tegas Bahlil.

Menurutnya, perdagangan internasional tetap harus menjunjung prinsip saling menghargai. "Jadi boleh kita dagang tapi juga harus menjaga kedaulatan kita. Jangan diri kita kita jual murah, enggak boleh. Kita harus sama-sama punya bargaining position yang sama," lanjutnya.

Prinsip Saling Menguntungkan

Sikap tegas ini sejatinya selaras dengan pernyataan Bahlil sebelumnya dalam ajang Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026). Saat itu, ia menegaskan bahwa Indonesia pada dasarnya bersedia membantu negara tetangga melalui ekspor listrik, asal mekanismenya menguntungkan kedua belah pihak. 

"Beberapa negara tetangga kita meminta untuk kita melakukan ekspor listrik, bagi kami Indonesia tidak apa-apa kita ekspor, kita harus saling membantu. Tapi harganya juga jangan harga yang mau kamu saja, enggak boleh, harganya yang harus win-win. Kerja sama itu saling menguntungkan, bukan kerja sama itu saling menekan," bebernya.

Bahlil memungkas dengan mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia senantiasa bersahabat dengan semua negara tanpa harus bisa ditekan.

"Kita ingin untuk berkawan kepada semua orang, tetapi perkawanan itu harus dimaknai sebagai bentuk itikad baik dengan saling menghargai. Tapi jangan coba-coba menekan negara kami, jangan coba-coba," pungkas Bahlil.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6