Pemerintah Ungkap Alasan Tak Naikkan Harga BBM Subsidi

Demi lindungi daya beli nelayan dan petani, pemerintah pastikan harga Pertalite dan Biosolar tak naik hingga akhir 2026.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 12:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mengambil langkah tegas untuk melindungi daya beli masyarakat menengah ke bawah dengan memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini diambil sebagai perisai utama dalam mengendalikan laju inflasi nasional di tengah gejolak harga minyak dunia. 

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga energi ini.

"Yang paling utama dari pengendalian inflasi dari BBM ini adalah menjaga agar BBM subsidi, solar, dan bensin itu di harga tetap, tidak ada kenaikan," ujar Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, dipantau dari kanal resmi Kementerian Dalam Negeri, Senin (5/10/2026).

Ia menambahkan, keputusan menahan harga Pertalite dan Biosolar diprioritaskan karena dampaknya yang sangat vital bagi sektor-sektor produktif rakyat kecil. "Karena ini (BBM bersubsidi) adalah komponen terbesar yang juga dipakai oleh nelayan dan petani," kata Laode.

Arahan Presiden Prabowo

 

Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan bahwa pemerintah terus memantau dinamika harga minyak global, namun keselamatan ekonomi masyarakat tetap menjadi prioritas tertinggi di atas konsekuensi beban fiskal.

"Pemerintah memutuskan tetap menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak naik sebagai langkah melindungi daya beli masyarakat menengah ke bawah," tegas Bahlil.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjamin kepastian harga BBM subsidi di tengah memanasnya geopolitik dunia, mulai dari konflik di Selat Hormuz hingga perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.

Airlangga optimistis Indonesia mampu meredam guncangan eksternal tersebut dengan memanfaatkan daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai bantalan ekonomi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6