Anak Yatim Piatu Miskin Jadi Raja Mobil Listrik Berharta Rp 431 Triliun

Kisah inspiratif pendiri BYD Wang Chuanfu. Sempat mau putus sekolah karena miskin, kini anak petani yatim piatu ini punya ratusan triliun.

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keteguhan hati, pengorbanan keluarga, dan penguasaan sains menjadi kunci utama Wang Chuanfu dalam mengubah takdir hidupnya. Lahir pada 1966 di Kabupaten Wuwei, Provinsi Anhui, China, ia tumbuh dari keluarga petani miskin dengan delapan bersaudara. Ujian hidup menghantamnya lebih awal saat sang ayah wafat akibat penyakit kronis ketika ia baru berusia 13 tahun, disusul ibunya dua tahun kemudian. 

Dikutip dari Our China Story, Jumat (2/10/2026), status yatim piatu di usia 15 tahun sempat membuat Wang Chuanfu berniat putus sekolah agar tak membebani keluarga. Namun, sang kakak, Wang Chuanfang, bersama istrinya menolak keras keputusan tersebut. Sang kakak rela berhenti sekolah demi berdagang kecil-kecilan untuk membiayai pendidikan Wang. Bahkan, sang kakak ipar tak ragu menjual perhiasan maskawinnya demi membelikan buku latihan ujian akhir SMA untuk Wang. 

Pengorbanan itu dibayar tuntas. Wang menjadi satu-satunya siswa kelas sains dari sekolahnya yang lolos ke perguruan tinggi negeri ternama pada 1983. Sadar pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, Wang selalu mengejar beasiswa selama kuliah di Central South University.

Hal itu ia lakukan demi meringankan beban kakak dan kakak iparnya yang bahkan rela pindah rumah demi terus mendukung studinya.

Keberanian Mengejar Naluri Bisnis dan Riset Baterai

Melansir The Economic Times, kecerdasan akademis membawa Wang melanjutkan studi magister bidang metalurgi dan teknologi baterai di Beijing. Riset mendalam di lembaga penelitian pemerintah mengantarkan dirinya menjadi ahli muda yang diperhitungkan. Kariernya melesat cepat hingga dipercaya menjabat manajer umum di perusahaan baterai milik lembaga risetnya di Shenzhen pada usia muda. 

Namun, naluri bisnis membuat Wang mengambil keputusan berani. Pada 1995, di usia 29 tahun, ia mundur dari posisi nyamannya dan mendirikan pabrik baterai sendiri bernama BYD. Bermodal pinjaman dana dari sepupunya sebesar 250.000 yuan (sekitar US$ 30.000 saat itu), ia memulai langkah bisnisnya.

Mengandalkan keahlian teknis serta efisiensi manufaktur yang ketat, usaha Wang berkembang pesat. Dalam waktu kurang dari satu dekade, bisnis baterainya berhasil menguasai pasar baterai ponsel global sekaligus menggeser dominasi raksasa asal Jepang dan Korea Selatan.

Visi Terdepan Kendaraan Listrik dan Kesederhanaan Hidup

Dikutip dari EL PAÍS English, tak puas di industri elektronik konsumer, Wang mengambil langkah ekstrem pada 2003 dengan mengakuisisi perusahaan mobil lokal yang sedang krisis. Visi utamanya bukan sekadar membuat mobil konvensional, melainkan menjadikan mobil sebagai 'wadah' besar bagi penerapan teknologi baterai buatannya.

Keberanian dan visi riset kendaraan listriknya memikat investor legendaris Warren Buffett untuk menyuntikkan modal besar pada 2008. Langkah ini melambungkan reputasi BYD. Puncaknya pada 2009, Wang berhasil menduduki posisi puncak daftar orang terkaya di China. Saat ini, kekayaan bersihnya diperkirakan mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 24 miliar atau sekitar Rp 431 trililun (kurs Rp 17.963 per US$). 

Kendati berstatus konglomerat papan atas, ulasan Roger Zhang di Medium menyebut Wang Chuanfu tetap sosok yang sangat bersahaja. Ia kerap terbang di kelas ekonomi, membawa koper sendiri tanpa pengawalan ketat, hingga makan di kantin bersama para stafnya. Bahkan, ia memilih tetap tinggal bersama keluarga besar sang kakak yang dulu berkorban demi masa depannya. 

Perjalanan hidup Wang Chuanfu membuktikan bahwa keterbatasan latar belakang bukanlah penghalang untuk menggapai puncak sukses. Penguasaan ilmu pengetahuan, keberanian mengambil risiko, serta karakter yang tetap membumi menjadikan sosoknya salah satu figur pengusaha paling inspiratif di dunia bisnis modern.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6