Bos IMF Wanti-wanti Dunia soal Inflasi dan Suku Bunga: Winter is Coming

Perang Iran dan guncangan energi yang menyertainya telah mendorong inflasi global sejak Februari tahun ini.

Diterbitkan 24 September 2026, 16:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perekonomian global sejauh ini masih mampu bertahan menghadapi harga minyak yang mencapai US$ 100 per barel. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak akan berlangsung selamanya.

Bahkan, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengingatkan jika harga energi akan terus meningkat. 

“Musim dingin akan datang (winter is coming),” kata dia dalam acara Next 3 Billion yang digelar Semafor di New York, Kamis (24/9/2026).

Perang Iran dan guncangan energi yang menyertainya telah mendorong inflasi global sejak Februari, sehingga bank-bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut meningkatkan biaya pinjaman.

Amerika Serikat bahkan akan menghabiskan lebih banyak uang tahun ini untuk membayar bunga utang nasional dibandingkan untuk militernya. Akibatnya, ruang untuk meredam dampak ekonomi dari kondisi tersebut menjadi semakin terbatas.

Meskipun AI telah mendorong perkembangan ekonomi global secara signifikan dan membantu mengimbangi sebagian dampak guncangan energi, teknologi tersebut masih belum mampu sepenuhnya mengompensasi dampak penutupan Selat Hormuz.

Georgieva juga mencermati dampaknya terhadap perekonomian riil. “Kita harus bersiap menghadapi kemungkinan masyarakat menjadi semakin tidak puas,” ujarnya.

Ia mengatakan IMF sejauh ini belum melihat permintaan terhadap investasi terkait AI mengurangi kemampuan pemerintah di seluruh dunia untuk melakukan pinjaman. Namun, menurutnya, “hal ini mungkin saja menjadi masalah sehingga kita harus mengawasinya,” lanjut dia.

Upaya Dunia

Georgieva menuturkan bahwa banyak negara dengan perekonomian berbasis pasar telah melakukan berbagai upaya luar biasa untuk mengurangi tingkat utang, menerapkan disiplin fiskal, dan mempersempit spread biaya pinjaman mereka.

Namun sekarang, ketika suku bunga meningkat, kemajuan yang telah diperoleh dengan susah payah di negara-negara berkembang mulai tergerus.

Jadi, ini bukan soal persaingan mendapatkan dana, tetapi negara-negara berkembang harus menanggung dampak dari kesalahan pihak lain.”

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6