Liputan6.com, Jakarta - PT Gagas Energi Indonesia atau PGN Gagas bersama PT Pindad tengah mengkaji pengembangan tabung compressed natural gas (CNG) yang dapat diproduksi di dalam negeri.
Langkah tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan CNG di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan tabung CNG yang digunakan saat ini masih didatangkan dari luar negeri.
Advertisement
"Karena memang bisa berproduksi hari ini dari luar. Ada Cina, ada Eropa," ujar Santiaji di Yogyakarta, dikutip Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, Pertamina Group bersama Pindad kini tengah melakukan kajian untuk mengembangkan kemampuan produksi tabung CNG di dalam negeri.
"Kita lagi, Pertamina Group, termasuk kami, sudah punya CIG. Mudah-mudahan nanti di akhir-akhir tahun sudah muncul produk yang dari Pindad lah yang bisa dibutuhkannya," jelas Santiaji.
Dia menekankan, proses pengembangan produk tersebut tetap harus memperhatikan aspek keselamatan. Pasalnya, tabung CNG digunakan untuk menyimpan gas dengan tekanan tinggi.
"Mudah-mudahan lah ya, karena kajiannya terus-lagi terus proseskan ya, supaya safety, lagi-lagi kita harus safety-safety, karena ini kan dipakai untuk masyarakat," ujarnya.
Â
CNG Bertekanan Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328043/original/020282200_1787133583-WhatsApp_Image_2026-08-19_at_16.45.12__2_.jpeg)
Tabung CNG memiliki fungsi penting dalam sistem distribusi gas bumi untuk pelanggan komersial.
Berbeda dengan sistem jaringan pipa, CNG dapat dikompresi dan diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM) maupun tabung untuk kemudian disalurkan kepada pelanggan.
Tekanan gas saat berada dalam sistem transportasi dapat mencapai sekitar 200 bar. Karena itu, aspek keselamatan menjadi perhatian utama mulai dari proses pengisian, pengangkutan, penyimpanan hingga penyaluran kepada pelanggan.
Untuk pelanggan komersial, PGN Gagas menempatkan tabung CNG di ruang khusus atau gas room. Dari lokasi tersebut, gas kemudian dialirkan menuju dapur atau area penggunaan melalui jaringan.
Santiaji mengatakan tabung yang ditempatkan secara permanen dapat diisi kembali menggunakan sistem CTF sehingga tidak perlu dilakukan penggantian tabung secara berkala.
"Jadi kita gak bolak-balik ganti? Karena satu tabung besar itu, tabungnya CNG itu 180 kilo," katanya.
Sementara untuk pelanggan dengan kebutuhan lebih kecil, sistem penggantian tabung masih dapat dilakukan.
Â
Advertisement
Tabung Milik PGN Gagas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328041/original/026206100_1787133531-WhatsApp_Image_2026-08-19_at_16.45.12.jpeg)
Dalam sistem pemanfaatan CNG tersebut, tabung yang digunakan pelanggan bukan berarti menjadi milik pelanggan.
Santiaji menjelaskan aset tabung tetap berada pada pihak penyedia, sementara pelanggan membayar gas berdasarkan volume yang digunakan.
"Alat milik aset kita. Mereka hanya beli isinya saja. Jadi semua tabungnya Pindad punya kita. Mereka hanya isi saja," katanya.
Penggunaan gas juga tetap menggunakan meter untuk memastikan transparansi transaksi antara penjual dan pembeli.
"Dan mereka nanti walaupun tabung, tapi tetap pakai meteran. Jadi ada meterannya, karena itu transparansi kita berkontrak penjual-beli supaya tetap ada meter," jelas Santiaji.
Dengan sistem tersebut, pelanggan membayar berdasarkan konsumsi gas yang tercatat pada meter.
"Intinya sama lah kalau gas pipa atau CNG, pakai dulu baru bayar. Itu mudah. Pakai dulu baru bayar," tambahnya.
Â
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327521/original/042881300_1787113384-Screenshot_2026-08-19_110246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328042/original/038836800_1787133558-WhatsApp_Image_2026-08-19_at_16.45.12__1_.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4974417/original/045881900_1729481891-WhatsApp_Image_2024-10-20_at_16.13.44__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4973769/original/095902300_1729402707-WhatsApp_Image_2024-10-20_at_12.32.56__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5592383/original/095089200_1778149812-IMG-20260507-WA0029.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562094/original/020205200_1776778989-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-21_April_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5672054/original/062116600_1778467235-Screenshot_2026-05-11_093214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495652/original/062697000_1770385761-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_RI_Airlangga_Hartarto-_6_Februari_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192690/original/063821500_1595929323-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-5.jpg)