Harga BBM Pertamax Naik, Pengusaha Minta Ini ke Pemerintah

Apindo berharap kenaikan harga Pertamax tidak berdampak signifikan ke inflasi.

Diterbitkan 11 Juni 2026, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat, peluang dampak kenaikan harga BBM Pertamax ke daya beli masyarakat. Hal tersebut dinilai akan turut berpengaruh ke sisi permintaan produk-produk perusahaan.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani mengatakan, kelompok kelas menengah jadi yang paling rentan terdampak kenaikan harga Pertamax. Kelompok ini kemungkinan merubah pola konsumsinya karena tekanan biaya transportasi dari kenaikan BBM tadi.

"Dari sisi daya beli, kenaikan Pertamax juga dapat menekan kelompok konsumen kelas menengah pengguna kendaraan pribadi. Walaupun Pertamax merupakan BBM nonsubsidi, kenaikan harga yang cukup besar tetap dapat mengubah pola konsumsi rumah tangga, terutama jika biaya transportasi harian meningkat," kata Shinta saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (11/6/2026).

Dia menerangkan, ketika sebagian pendapatan masyarakat terserap lebih besar untuk mobilitas dan energi, ruang konsumsi untuk barang dan jasa lain dapat ikut berkurang. Shinta meminta bagian ini yang perlu diantisipasi agar dampaknya tidak melebar ke permintaan domestik.

Dia menuturkan, pemerintah perlu memperkuat upaya pengendalian inflasi, terutama pada komponen biaya transportasi, distribusi, dan bahan pangan. Efisiensi logistik perlu terus didorong agar kenaikan biaya energi tidak otomatis diterjemahkan menjadi kenaikan harga barang secara luas.

"Kami juga melihat pentingnya menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah dan menengah ke bawah, karena konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi," ucap dia.

Masyarakat Bisa 'Ngerem' Belanja

Shinta menilai, jika tekanan dari biaya energi ini tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa menyasar ke biaya produksi pengusaha. Pada saat yang sama juga menekan keinginan masyarakat.

"Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha dari sisi biaya produksi dan operasional, tetapi juga dari sisi permintaan karena konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja," ungkapnya.

 

Harapan Pengusaha

Dia berharap, kebijakan harga energi dapat semakin diprediksi dan disertai langkah mitigasi yang memadai. Shinta mengamini harga BBM nonsubsidi sepatutnya mengkuti harga pasar, tetapi perlu kepastian tak ada dampak lainnya yang bisa mengganggu daya beli masyarakat.

"Pemerintah perlu memastikan agar transmisi kenaikan tersebut tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan tidak mengganggu pemulihan daya beli serta aktivitas dunia usaha," pintanya.

Harga Pertamax Naik

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) non subsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Harga BBM Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara  Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

Keputusan penyesuaian harga BBM ini dikatakan setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

 

Pastikan Stok BBM Tersedia

Pertamina Patra Niaga senantiasa berupaya menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

"Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina,” jelasnya.

BBM Subsidi Tidak Naik

Sementara harga BBM Pertalite dan Biosolar dikatakan tidak berubah.

"Dalam komitmen melaksanakan tugas pendistribusian BBM Bersubsidi baik BBM jenis gasoline yaitu Pertalite dan BBM jenis gasoil yaitu Biosolar, Harga jual kedua produk BBM bersubsidi tersebut tetap dilayani dengan harga jual Pertalite Rp 10.000/liter dan Biosolar Rp 6.800/liter," mengutip penjelasan Pertamina.

Berikut Daftar Harga BBM Retail Non Subsidi melalui SPBU per 10 Juni 2026:

Pertamax Series

• Pertamax (RON 92): dari Rp 12.300/liter menjadi Rp 16.250/liter

• Pertamax Green 95 (RON 95): dari Rp 12.900/liter menjadi Rp 17.000/liter

• Pertamax Turbo (RON 98): Rp 20.750/liter (tetap)

Dex Series

• Dexlite (CN 51): Rp 23.000/liter (tetap)

• Pertamina Dex (CN 53): Rp 24.800/liter (tetap)

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

  • liputan6
    APINDO adalah singkatan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia.
    apindo
  • liputan6
    Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang kegiatan usaha atau pekerjaannya melakukan usaha perdagangan.
    Pengusaha
  • liputan6
    Informasi terkini mengenai harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dari berbagai penyedia seperti Pertamina, Shell, BP, dan Vivo, serta panduan terkait pendaftaran QR Code BBM subsidi dan jenis-jenis BBM yang tersedia.
    Harga BBM
  • liputan6
    Pertamax adalah salah satu jenis BBM yang digunakan di Indonesia.
    pertamax
  • Daya beli