Afrika Selatan Diprediksi jadi Negara dengan Pertumbuhan Miliarder Tercepat di Dunia

Afrika Selatan juga dinilai konsisten mempertahankan posisi dengan ekonomi terkaya di Benua Afrika.

Diterbitkan 27 Mei 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Afrika Selatan termasuk di antara negara-negara yang diprediksi mencatat pertumbuhan miliarder tercepat secara global selama lima tahun ke depan. Hal ini terjadi di tengah pergeseran global yang meluas dalam pola penciptaan kekayaan.

Hal itu berdasarkan laporan Knight Frank’s Wealth pada 2026, demikian mengutip Business Insider, Rabu (27/5/2026).

Laporan itu juga memprediksi jumlah miliarder di Afrika Selatan akan meningkat dari 10 pada 2026 menjadi 14 pada 2031, itu menunjukkan kenaikan 40%. Adapun Afrika Selatan menempati peringkat ke-13 secara global dalam daftar miliarder  dengan pertumbuhan tercepat yang mencerminkan peran pentingnya sebagai pusat kekayaan pribadi terbesar di Afrika meski hadapi tantangan ekonomi dan struktural yang terus menerus.

Afrika Selatan secara konsisten mempertahankan posisinya sebagai ekonomi terkaya di benua Afrika dalam hal konsentrasi modal swasta. Menurut Laporan Kekayaan Afrika Henley & Partners, negara ini memiliki sekitar 41.100 jutawan, konsentrasi tertinggi di seluruh Afrika.

Pergeseran Kekayaan

Temuan ini muncul di tengah pergeseran global yang lebih luas dalam pola penciptaan kekayaan. Meskipun Amerika Serikat dan China terus mendominasi dalam hal total kekayaan miliarder, banyak populasi miliarder yang tumbuh paling cepat di dunia semakin muncul di luar pusat keuangan Barat tradisional.

Arab Saudi diproyeksikan memimpin pertumbuhan miliarder global hingga 2031, menyoroti peran Timur Tengah yang semakin besar dalam pembentukan modal global. Program investasi yang didukung pemerintah, ekspansi industri, ekosistem teknologi, dan aktivitas startup membantu menciptakan konsentrasi kekayaan baru di seluruh Teluk, Asia Tenggara, dan sebagian Eropa Timur.

Salah satu tema utama yang diidentifikasi dalam laporan ini adalah redistribusi aliran modal global yang sedang berlangsung. Seiring dengan ekspansi manufaktur, investasi energi, dan industri digital ke pasar baru, negara-negara di luar Amerika Utara dan Eropa Barat semakin menghasilkan individu dengan kekayaan sangat tinggi dengan kecepatan yang lebih cepat.

Terlepas dari pergeseran ini, Amerika Serikat tetap menjadi ekonomi dengan miliarder dominan di dunia, didukung oleh sektor teknologi yang besar dan konsentrasi perusahaan global.

Era Super Kaya: Miliarder Dunia Diprediksi Tembus 4.000 Orang di 2031

Sebelumnya, jumlah miliarder di dunia diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, angkanya diproyeksikan mendekati 4.000 orang pada 2031, seiring percepatan akumulasi kekayaan di kalangan super kaya.

Dikutip dari The Guardian, Sabtu (25/4/2026), berdasarkan analisis perusahaan properti global Knight Frank, saat ini terdapat sekitar 3.110 miliarder di seluruh dunia. Jumlah tersebut diperkirakan naik 25% dalam lima tahun ke depan menjadi sekitar 3.915 orang.

Tidak hanya miliarder, kelompok individu dengan kekayaan ultra tinggi juga tumbuh pesat. Jumlah orang dengan kekayaan minimal 30 juta dolar AS melonjak drastis, dari 162.191 orang pada 2021 menjadi 713.626 orang saat ini—naik lebih dari 300%.

Kepala riset Knight Frank, Liam Bailey, menyebut lonjakan kekayaan ini didorong oleh sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).

“Kemampuan untuk mengembangkan bisnis dalam skala besar belum pernah setinggi ini,” ujarnya.

Menurut Bailey, perkembangan teknologi dan AI mempercepat proses penciptaan kekayaan dalam waktu singkat.

“Hal ini mendorong kemampuan untuk menghasilkan kekayaan besar dengan cepat, yang dipercepat oleh teknologi dan AI,” katanya.

 

 

Arab Saudi Paling Cepat

Secara geografis, pertumbuhan miliarder diperkirakan paling cepat terjadi di Arab Saudi, negara kaya minyak. Jumlah miliarder di negara tersebut diproyeksikan melonjak dari 23 orang pada 2026 menjadi 65 orang pada 2031.

Selain itu, Polandia dan Swedia juga diprediksi mengalami lonjakan signifikan. Jumlah miliarder di Polandia diperkirakan naik dari 13 menjadi 29 orang, sementara di Swedia meningkat dari 32 menjadi 58 orang.

Namun, di balik pertumbuhan ini, ketimpangan ekonomi global juga semakin melebar. Laporan ketimpangan dunia menunjukkan kurang dari 60.000 orang—atau sekitar 0,001% populasi dunia—menguasai kekayaan tiga kali lipat dibanding setengah populasi dunia terbawah.

Organisasi Oxfam mencatat jumlah miliarder global kini telah melampaui 3.000 orang, dengan total kekayaan mencapai 18,3 triliun dolar AS.

Dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes, CEO Tesla Elon Musk masih menempati posisi teratas dengan kekayaan mencapai USD 785,5 miliar.

Ia diikuti oleh pendiri Google, Larry Page, dengan kekayaan USD 272,5 miliar, serta pendiri Amazon, Jeff Bezos, dengan USD 259 miliar.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6