Sukses

Sempati Air, Matinya Maskapai Kontroversial dengan Segunung Utang

Kemolekan bisnis penerbangan Indonesia seolah tak pernah sirna meski sudah berlangsung puluhan tahun. Tak hanya swasta, bisnis maskapai penerbangan juga mampu menjadi magnet bagi keluarga bisnis penguasa Orde Baru, Soeharto.

Tommy Soeharto, putra bungsu dari keluarga presiden ke-2 Indonesia termasuk salah satu pebisnis yang masuk dalam industri maskapai penerbangan. Lewat bendera Sempati Air, Tommy mengubah bisnis angkutan sewaan untuk pekerja Migas ini menjadi maskapai penerbangan kelas atas.

Sama seperti Adam Air (Baca: Adam Air Tutup dengan Penuh Misteri) dan Batavia (Baca: Maskapai yang Tak Pernah Kecelakaan Tapi Jatuh Juga), nasib kurang mujur juga dialami Sempati Air. Ambisi menjadi maskapai sekelas Singapore Airlines dan Garuda Indonesia pun harus kandas. Maskapai ini cukup kontroversial mulai dari siapa pemiliknya hingga matinya perusahaan dengan meninggalkan tumpukan utang.

Meski memiliki prospek bisnis semanis madu, ketatnya persaingan memaksa seleksi alam bagi maskapai penerbangan yang mau mengadu nasib di Indonesia.

Berikut artikel ketiga kami yang akan mengupas nasib tragis Manusia Elang Raksasa, Sempati Air yang merupakan bagian dari artikel berseri berjudul Maskapai yang Gulung Tikar sepekan ini:

Sempati Air, Si Manusia Elang Raksasa

Perusahaan yang didirikan pada Desember 1968, awalnya hanya merupakan angkutan sewaan para pekerja Minyak dan Gas Bumi (Migas). PT Tri Utama Bhakti (Truba) merupakan pendiri awal dari perusahaan yang diberi nama PT Sempati Air Transport. Nama Sempati diambil dari istilah Jawa yang berarti manusia elang raksasa, kakak dari Jatayu. Meski kala itu banyak orang menyindir Sempati sebagai akronim dari 'Sembilan Panglima Tinggi' mengingat keterkaitannya dengan pucuk pimpinan TNI Angkatan Darat yang bernaung di Yayasan Kartika Eka Paksi.

Bermodalkan satu unit pesawat jenis Douglas DC-3, Sempati Air semula menjalankan bisnis penerbangan tak berjadwal. Tak butuh waktu lama bagi Sempati Air untuk mengubah hal itu dan membawa perusahaan menjadi salah satu maskapai besar di tanah air.

Hal ini tak terlepas dari langkah ekspansif perusahaan yang mendatangkan 6 pesawat baling-baling F-27. Setahun kemudian pemerintah memberikan izin kepada Sempati untuk menambah pesawat jet. Bermodalkan tambahan pesawat ini, Sempati pun memulai petualangan sebagai maskapai penerbangan berjadwal dengan rute ke Singapura, Kuala Lumpur, dan Manila.

Ikut Perang Vietnam

Sempati yang awalnya dipimpin penerbang, Mayor Dolf Latumahina melakukan pelayanan pengantaran pegawai perminyakan dan peralatan pengeboran ke daerah-daerah terpencil lewat udara. Tercatat penerbangan charter pertama Sempati menggunakan DC-3 PK-JDB untuk mengantar karyawan dan teknisi Union Oil dilakukan pertama kali pada Juni 1969. Seiring waktu, aset pesawat terus bertambah dan Sempati akhirnya bisa membeli enam unit DC-3 untuk mendukung operasionalnya.

Periode 1970-1980, armada terus diperbaharui dengan kehadiran Fokker F27 turboprop. Sebuah F27 beregistrasi PK-JFF memulai operasinya pada tahun 1971 diikuti setahun kemudian PK-JFK. Kehadiran enam unit F27 yang dimiliki Sempati itu pun bisa menggantikan peran dari pesawat DC-3 yang telah masuk usia uzur.

Tak hanya dari perusahaan minyak, Sempati juga mendapat order charter di Vietnam dan Kamboja di tengah Perang Vietnam yang tengah berkecamuk. Sempati juga memperoleh permintaan dari Brasil yang disebut-sebut sangat menguntungkan. Fokker F27 pun menjadi mesin uang utama Sempati.

Pada akhir 1989, Sempati melayani penerbangan charter dan berjadwal dengan tujuan ke Pontianak, Bangka, Belitung, Tanjungpinang, Pekanbaru, dan Malaka, Malaysia.

Masuknya Keluarga Soeharto

Bisnis yang makin membesar, membuat nama Sempati makin harum dan menjadi incaran pemilik dana. Akhirnya, pada penghujung 1980-an, Sempati Air kedatangan investor baru. Adalah Hutama Mandala Putra atau yang terkenal dengan panggilan Tommy Soeharto, yang masuk menjadi salah satu investor. Tommy tak sendiri, putra bungsu Soeharto ini juga mengajak mitranya dari Nusantara Ampera Bakti (Nusamba) lewat tokohnya Bob Hasan yang mengantongi saham 35%, Truba (40%), dan Humpuss (25%).

Hutomo Mandala Putra selain pemegang saham juga berposisi sebagai presiden komisaris.

Di bawah kendali Humpuss Group, Sempati akhirnya menjelma menjadi maskapai besar dengan berbagai ekspansi yang dilakukan di awal 1990. Sang CEO, Hasan Soedjoko bahkan telah merancang strategi lompatan lima tahun berupa target menjadi salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia Tenggara setelah Singapore Airlines, Garuda Indonesia, Malaysia Airlines, dan Thai Airways International.

Periode 1991-1994, mungkin menjadi tonggak perubahan paling drastis Sempati Air setelah disindir sebagai gerobak udara. Bahkan Sempati Air mampu mempertegas posisinya sebagai maskapai bagi para eksekutif.

Status baru Sempati air ini dipertegas dengan tambahan rute-rute baru yang dilayani oleh perusahaan. Bahkan sejak Juli 1994, Sempati memperluas bisnisnya ke mancanegara seperti Singapura, Penang, Kuala Lumpur, Taipei, Yangon, dan Madras. Setahun sebelumnya, Sempati juga membuat terobosan besar dengan membuka rute ke Perth, Australia.

Masuknya Hutomo dan para mitranya juga berhasil mendongkrak kinerja keuangan perusahaan. Pada 1994, Sempati Air membukukan pendapatan Rp 1,5 triliun dengan laba Rp 24 miliar. Meski pendapatan turun pada 1005, Sempati Air justru bisa membukukan laba yang lebih tinggi hingga Rp 28,6 miliar.

Niat Naik Derajat dengan Gelar IPO

Kinerja yang cemerlang selama tahun keemasan, melecut semangat manajemen Sempati Air untuk naik derajat. Salah satu caranya adalah dengan menjadi perusahaan publik yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menjelang momen besar itu, Sempati Air sempat kedatangan investor baru. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sepakat untuk menggandeng ASEAN Aviation inc (AAI) menjadi penegang saham Sempati Air. Dana sebesar Rp 150 miliar pun masuk kocek perusahaan.

Masuknya investor baru otomatis mengubah kepemilikan saham tiga pemegang saham lama. Truba tercatat hanya bisa menggenggam saham Sempati Air sebesar 25%, sementara Bob Hasan melalui Nusamba mengantongi 20% saham dan Humpuss hanya menyisakan 15% saham Sempati Air.

Seiring rencananya masuk menjadi emiten BEI, data-data keuangan yang selama ini ditutup rapat manajemen pun harus dibuka lebar. Sempati Air selama ini ternyata memiliki tumpukan utang yang terlampau besar. Bahkan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan status waspada pada keuangan perusahaan.

Kabar negatif itu pun memupuskan niat Sempati Air menggelar penawaran umum perdana saham (IPO) yang direncanakan berlangsung pada Oktober 1996. Alasan situasi pasar yang kurang menguntungkan pun dijadikan alasan Sempati untuk menangkis kegagalan IPO.

Krismon Tumbangkan Manusia Elang

Terbukanya borok keuangan perusahaan yang dikomandani oleh Preskom Tommy Soeharto pun makin menyudutkan posisi Sempati Air.

Niat Sempati Air membeli Boeing 767 dari Boeing gagal karena kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan. Sementara itu, Garuda Indonesia juga membatalkan rencana penjualan pesawat DC-10. Untuk menyiasati kondisi tersebut, Sempati pun membeli 4 unit kapal bekas Pan Am, Airbus A300B4, yang dirancang untuk melayani penerbangan regional.

Besarnya tekanan serta kegagalan IPO membuat manajemen Sempati Air pun jadi sorotan. Puncaknya, pemegang saham memutuskan mengganti Hasan Sadjono terhitung sejak 9 Desember 1996. Sayang dua kali pergantian direksi tak sanggup mengangkat kembali pamor Sempati Air.

Upaya perbaikan pun tinggal menjadi kenangan. Efisiensi dan hilangnya layanan inovasi khas Sempati membuat konsumen kabur. Kondisi diperparah dengan perekonomian Indonesia yang terkena badai Krisis Moneter (Krismon) Asia.

Badai Krismon ini pula yang menghempaskan Sempati yang memilih menghentikan seluruh operasi penerbangan dan memberhentikan karyawan. Beban biaya operasional seperti sewa pesawat, perawatan pesawat dan asuransi yang seluruhnya dalam mata uang dolar AS, harus ditanggung perusahaan lima kali lebih berat.

Tutup dengan utang menggunung

Tanggal  5 Juni 1998, Sempati secara resmi tidak terbang lagi. Perusahaan hanya bisa menyisakan tumpukan utang yang harus segera dibayar. Tak tahan dengan tagihan dari kreditor, Sempati pun mengajukan pailit ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mulai awal 1999. Sempati akhirnya menang dan dinyatakan pailit sejak 5 Juli 1999.

Hingga napas terakhirnya, Sempati meninggalkan catatan utang sebesar Rp 1,1 triliun dengan kreditor 470 perusahaan. Tumpukan utang tersebut tercecer di sejumlah perusahaan seperti Pertamina, Asuransi Jasa Raharja, DAMRI, Garuda Indonesia, Angkasa Pura, Pelita, dan Aerowisata Catering. Dari luar negeri, sempati meninggalkan beban utang kepada Fokker Aircraft, Freeport, Malaysia Air System, dan Korean Airlines.

Sempati memang tak punya uang. Aset terakhir yang dimilikinya hanya bernilai Rp 71,2 miliar berupa aset pesawat plus peralatan, tanah dan bangunan, kas di bank, dan piutang dengan merinci lagi dimana aset tetap senilai Rp 44,6 miliar. Bahkan armada Sempati berupa 4 unit Fokker F27 dan lima B737-200 cuma terpakir selama setahun tidak beroperasi di bandara Soekarno-Hatta. (Shd/Igw)