Rupiah Ditutup Melemah, Harga Minyak dan Sikap The Fed Jadi Pemicu

Nilai tukar rupiah kembali tertekan akibat sentimen global dan domestik, termasuk konflik geopolitik serta pernyataan Presiden Prabowo.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin. Mata uang Garuda turun ke level Rp17.668 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.597 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) yang dipicu kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar sebelumnya.

“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target 2 persen The Fed,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Selain sentimen suku bunga, pasar global juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Upaya penghentian konflik AS-Israel dengan Iran dinilai belum menunjukkan perkembangan berarti.

Situasi semakin memanas setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan diserang. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran.

Pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu juga dinilai belum menghasilkan solusi terkait konflik AS-Iran.

 

Menungg Perkembangan Suku Bunga

Ketegangan geopolitik tersebut semakin memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Serangan drone di UEA dan Arab Saudi, ditambah retorika keras dari AS dan Iran, meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Pejabat UEA menyatakan pihaknya masih menyelidiki sumber serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah. Pemerintah UEA juga menegaskan memiliki hak untuk merespons “serangan teroris” tersebut.

Dari dalam negeri, pasar juga menyoroti pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah. Presiden sebelumnya menyebut sebagian besar masyarakat di daerah tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari sehingga dampak pelemahan rupiah dinilai tidak terlalu langsung dirasakan.

Selain kurs rupiah di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah. Pada perdagangan hari ini, JISDOR berada di level Rp17.666 per dolar AS, turun dibanding posisi sebelumnya di Rp17.496 per dolar AS.

Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan kebijakan suku bunga The Fed serta dinamika geopolitik global yang dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6