Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61%, Pengusaha Wanti-Wanti Ancaman Pertumbuhan

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkap sejumlah tantangan ekonomi Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi 5,61%.

Diterbitkan 10 Mei 2026, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% mendapat respons positif dari kalangan dunia usaha. Namun, di balik capaian tersebut, pelaku usaha mengingatkan adanya tantangan serius terkait keberlanjutan pertumbuhan dan kualitas struktur ekonomi nasional.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tengah pelemahan rupiah menunjukkan ketahanan permintaan domestik. Meski demikian, tekanan eksternal dinilai tetap menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Shinta mengatakan kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pelemahan rupiah mencerminkan dua kondisi berbeda yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat, terutama dari sisi konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi dalam negeri.

"Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pelemahan rupiah sebenarnya mencerminkan dua hal sekaligus," kata Shinta kepada Liputan6.com, Minggu (10/5/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya domestic demand resilience atau ketahanan permintaan domestik yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Indonesia.

"Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa fundamental domestik Indonesia masih cukup kuat, terutama dari sisi konsumsi dan aktivitas ekonomi dalam negeri. Ini adalah bentuk domestic demand resilience yang menjadi kekuatan utama ekonomi Indonesia," ujar dia.

Ia menilai, kekuatan konsumsi domestik menjadi faktor penting yang menjaga pertumbuhan tetap positif di tengah ketidakpastian global. Aktivitas ekonomi masyarakat yang tetap berjalan dinilai berhasil menopang sejumlah sektor usaha. Meski demikian, Shinta mengingatkan bahwa pertumbuhan yang tinggi belum tentu mencerminkan penguatan struktural ekonomi secara menyeluruh.

 

Tantangan Eksternal

Sebab, sejumlah tantangan eksternal masih memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Pelemahan Rupiah Jadi Sinyal Tekanan Eksternal

Namun, di sisi lain, pelemahan rupiah yang signifikan, hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah, tidak bisa diabaikan sebagai sinyal adanya tekanan eksternal yang cukup kuat. Faktor seperti ketegangan geopolitik global, kenaikan harga energi, serta dinamika pasar keuangan internasional memberikan dampak nyata terhadap stabilitas nilai tukar.

"Dalam konteks ini, kondisi yang kita hadapi dapat dikategorikan sebagai 'externally driven pressure on an otherwise resilient economy.' Bagi dunia usaha, yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana kombinasi ini ke depan dapat mempengaruhi biaya produksi, daya beli masyarakat, serta keputusan investasi. Jika tekanan eksternal ini berlanjut, maka ada risiko bahwa pertumbuhan yang saat ini terlihat kuat dapat menghadapi tantangan dari sisi sustainability dan quality of growth," jelasnya. 

Industri Padat Karya Hadapi Tekanan Besar

Apindo menilai momentum pertumbuhan 5,61% ini perlu dijaga melalui penguatan stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor manufaktur dan industri padat karya yang saat ini menghadapi tekanan biaya cukup besar.

Ke depan, yang menjadi kunci bukan hanya menjaga pertumbuhan tetap tinggi, sehingga pertumbuhan tidak menjadi sekadar short-term spike yang belum sepenuhnya mencerminkan penguatan struktural ekonomi nasional.

"Perlu untuk memastikan pertumbuhan lebih broad-based, lebih inklusif terhadap dunia usaha, dan semakin memperkuat struktur ekonomi domestik agar lebih tahan terhadap guncangan eksternal," pungkasnya.

 

 

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% pada Kuartal I 2026

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada kuartal I 2026. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan pertumbuhan tersebut dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.

"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 bila dibandingkan triwulan I 2025 atau secara year on year (YoY) tumbuh 5,61 persen," ujar Amalia, Selasa (5/5/2026).

Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen (YoY). Dengan demikian, terjadi peningkatan kinerja ekonomi pada awal 2026.

Meski mencatat pertumbuhan positif secara tahunan, BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara triwulanan (quarter to quarter/qtq).

Di sisi global, International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1 persen pada April 2026. Sementara itu, ekonomi negara berkembang diproyeksikan tumbuh sebesar 3,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Proyeksi IMF juga menunjukkan inflasi di negara berkembang pada 2026 masih relatif lebih tinggi dibandingkan inflasi global.

Amalia menambahkan, sejumlah negara mitra dagang Indonesia juga menunjukkan dinamika pertumbuhan ekonomi yang beragam pada kuartal I 2026.

"Tiongkok tumbuh menguat dibandingkan kuartal IV 2025, AS tumbuh menguat dibandingkan triwulan IV 2025, sementara Malaysia, Singapura, dan Vietnam tumbuh melambat dibandingkan triwulan IV 2025, tetapi menguat dibandingkan triwulan I 2025," jelasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6