Bocoran Bos Danantara: Keuangan Garuda Indonesia dan Citilink Positif Kuartal I 2026

COO Danantara Dony Oskaria menuturkan dampak dari suntikan dana terhadap kinerja Garuda Indonesia dan Citilink.

Diterbitkan 29 Maret 2026, 21:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengungkapkan peluang kinerja keuangan grup PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA mencatatkan positif pada kuartal I-2026. Suntikan sana yang diberikan Danantara dan proses transformasi disebut menjadi faktor pendorongnya.

Dony meyakini, anak usaha GIAA, Citilink dipastikan mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2026 ini. Termasuk dampak dari suntikan dana yang diberikan oleh Danantara.

"Intervensi yang kita lakukan itu baru dicairkan di akhir. Nanti akan terlihat performa di awal 2026 Nanti kita akan keluarkan di kuartal 1 dan kuartal 2. Quarter 1, sebagai gambaran buat temen-temen sekalian, kuartal 1 itu Citilink itu udah positif," ungkap Dony, ditemui di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026).

Dia menjelaskan, suntikan modal dari Danantara ke Grup Garuda Indonesia bisa membantu perbaikan armada pesawat yang dimiliki. Lantaran, hal itu jadi salah satu penyebab operasional maskapai pelat merah belum maksimal.

"Kita mulai melakukan perbaikan dengan skala kajian dan lain-lain. Kemudian baru cair itu akhir tahun (2025), tetapi proses perbaikan sudah kita lakukan dari pertengahan tahun. Makanya dampaknya sudah terasa di 2026 ini. 2026, quarter 1 nanti kita akan lihat," bebernya.

Tak hanya Citilink, Dony juga memperkirakan kinerja keuangan Garuda Indonesia akan ikut mencatatkan positif. "Citilink sudah positif, Garuda sekarang kita lagi lihat Insya Allah akan positif juga. Ini quarter 1, quarter 2, quarter 1-nya nanti," ucap Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) ini.

 

Masih Ada PR Transformasi

Meski meyakini proses perbaikan sudah mulai terlihat di awal 2026, Dony menyadari proses memperbaiki tata kelola maskapai tidak mudah. Prosesnya tidak bisa selesai sekadar melalui suntikan modal dari pemegang saham.

"Nanti teman-teman lihat dan kritisi saya di 2026. Lihat, bandingkan. Performance-nya setelah intervensi, betul enggak menjadi lebih baik. Nah, tetapi meskipun demikian, kita masih banyak PR-nya yang terus kita lakukan," ujarnya.

"Karena kan tidak cukup hanya dengan memberikan uang. Termasuk tadi itu, jumlah pesawat yang tadinya di-grounded berapa, sekarang sudah terbang berapa, pendapatan bandingin year-on-year-nya seperti apa, akan kita lakukan," Dony menambahkan.

Alasan Garuda Indonesia Rugi Rp 5,42 Triliun pada 2025

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria buka suara mengenai membengkaknya kerugian yang dialami PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atah GIAA. Beban operasional menjadi salah satu alasannya.

GIAA mencatatkan kerugian sebesar USD 319,39 juta atau setara Rp 5,42 triliun (asumsi kurs Rp 16.990) sepanjamg 2025 lalu. Angka tersebut melonjak drastis dari USD 69,77 juta atau Rp 1,18 triliun di 2024. Dony mengamini, beban operasional menjadi salah satu alasan membengkaknya kerugian tersebut.

"Jadi dulu memang mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan pesawat mereka," kata Dony saat ditemui di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026).

Banyak Armada Rusak

Dia mencatat banyak armada dalam grup Garuda Indonesia yang tidak bisa digunakan imbas kerusakan yang belum diperbaiki. Hal ini menjadi beban lagi bagi perusahaan

"Bayangkan teman-teman sekalian bahwa mereka punya pesawat, di-grounded semua, dan itu harus dibayar terus leasingnya, tapi tidak mendapatkan penghasilan. Inilah yang menyebabkan makanya kerugian tahun 2025 itu besar," tutur dia.

Dony mengungkapkan, perbaikan armada pesawat milik Garuda Indonesia juga tidak mudah. Mengingat adanya tantangan industri penerbangan global.

"Ternyata untuk mencari MRO untuk perbaikan itu tidak semudah itu juga. Beberapa engine kita, engine-engine kita masuk ke shop itu, itu juga masih belum dapat antrian," ujarnya.

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6