2 Kapal Pertamina Masih Terjebak di Selat Hormuz, Bahlil: Antrean Panjang

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menuturkan, Selat Hormuz yang sudah dibuka menjadi perkembangan positif. Namun, saat ini masih negosiasi untuk 2 kapal Pertamina.

Diterbitkan 17 Maret 2026, 17:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia masih melakukan negosiasi terhadap dua kapal milik Pertamina yang tertahan di Teluk Persia, dan belum bisa keluar dari Selat Hormuz.  

Bahlil meminta publik bersabar, lantaran proses negosiasi untuk mengeluarkan dua kapal Pertamina dari Selat Hormuz membutuhkan waktu tidak sebentar.

"Masih negosiasi sekarang. Ini antrean panjang. Lagi dalam negosiasi, ya. Kasih kami waktu ya. Masih negosiasi, masih negosiasi," kata Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Meskipun begitu, Bahlil bersyukur lantaran Selat Hormuz telah kembali dibuka oleh Iran untuk pelayaran internasional, terkecuali Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sehingga, pasokan energi bisa kembali lancar usai jalur vital tersebut bisa dilintasi lagi.

"Alhamdulillah ya, sekalipun dalam kondisi ekonomi, dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai, tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz, itu sudah mulai ada kebijakan tutup buka," ujarnya.

"Artinya, bagi kapal-kapal, bagi negara-negara yang bukan Israel dan Amerika itu bisa sekarang untuk terjadi komunikasi. Dan ini sebenarnya adalah sebuah perkembangan yang positif," kata Bahlil. 

Stok Energi Indonesia Aman

Meskipun situasi di Timur Tengah masih lantas, Bahlil menjamin stok energi di Tanah Air terjaga aman, khususnya jelang periode Lebaran 2026. Termasuk untuk bahan bakar minyak (BBM), LPG, hingga listrik. 

"Ketersediaan BBM, LPG, listrik untuk Indonesia, semuanya masih dalam keadaan terkendali, aman, sesuai dengan standar minimal stok nasional kita. Menyangkut dengan LPG, kita juga sekarang di akhir bulan ini akan ada yang masuk juga. Jadi relatif oke. Yang mau Hari Raya nggak ada masalah," ungkapnya. 

"Batu bara juga untuk PLN, rata-rata di 14-15 hari itu memang batas minimal standar nasional kita. Jadi relatif, enggak ada isu," tegas Bahlil.

 

Bahlil Dapat Angin Segar Usai Iran Buka Kembali Selat Hormuz

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersyukur lantaran Selat Hormuz telah kembali dibuka oleh Iran untuk pelayaran internasional, terkecuali Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sehingga, pasokan energi bisa kembali lancar usai jalur vital tersebut bisa dilintasi lagi.

"Alhamdulillah ya, sekalipun dalam kondisi ekonomi, dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai, tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz, itu sudah mulai ada kebijakan tutup buka," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

"Artinya, bagi kapal-kapal, bagi negara-negara yang bukan Israel dan Amerika itu bisa sekarang untuk terjadi komunikasi. Dan ini sebenarnya adalah sebuah perkembangan yang positif," kata Bahlil. 

Meskipun situasi di Timur Tengah masih lantas, Bahlil menjamin stok energi di Tanah Air terjaga aman, khususnya jelang periode Lebaran 2026. Termasuk untuk bahan bakar minyak (BBM), LPG, hingga listrik. 

"Ketersediaan BBM, LPG, listrik untuk Indonesia, semuanya masih dalam keadaan terkendali, aman, sesuai dengan standar minimal stok nasional kita. Menyangkut dengan LPG, kita juga sekarang di akhir bulan ini akan ada yang masuk juga. Jadi relatif oke. Yang mau Hari Raya nggak ada masalah," ungkapnya. 

"Batu bara juga untuk PLN, rata-rata di 14-15 hari itu memang batas minimal standar nasional kita. Jadi relatif, enggak ada isu," tegas Bahlil. 

Selat Hormuz Terbuka untuk Dunia

Beberapa hari lalu, Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz telah terbuka untuk pelayaran internasional, namun tidak bagi kapal yang berasal dari Amerika Serikat dan Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut hanya ditutup bagi kapal milik negara yang dianggap sebagai musuh Iran.

"Faktanya, Selat Hormuz terbuka. Jalur ini hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kami, yakni mereka yang menyerang kami dan sekutu kami. Negara lain bebas melintas,” kata Araghchi dikutip dari Hindustan Times.

Pernyataan itu muncul di tengah laporan bahwa ratusan kapal masih tertahan di jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sejumlah kapal tersebut termasuk kapal yang berasal dari India.

Alasan Keamanan

Araghchi menuturkan, pembatasan tersebut dilakukan karena alasan keamanan.“Banyak kapal memilih tidak melintas karena kekhawatiran keamanan mereka sendiri. Itu tidak ada hubungannya dengan kami. Pada saat yang sama, masih banyak kapal tanker dan kapal lain yang tetap melewati Selat Hormuz,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan, jalur tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup. "Selat ini tidak ditutup. Hanya kapal Amerika dan Israel yang tidak diperbolehkan melintas,” kata Araghchi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6