Radiologi jadi Bukti AI Tak Gantikan Pekerja Manusia tapi Mitra

Sempat diramal akan punah karena AI, profesi dokter radiologi justru makin dibutuhkan. Simak bagaimana AI menjadi mitra kerja, bukan pengganti manusia.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa tahun lalu, muncul kekhawatiran massal kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan segera menggantikan peran manusia di berbagai sektor. Salah satu profesi yang akan tergantikan adalah dokter spesialis radiologi.

Bahkan, pada 2016, ilmuwan komputer legendaris Geoffrey Hinton yang dijuluki sebagai "Bapak AI" mengatakan agar dunia berhenti melatih tenaga radiolog. Alasannya? AI dianggap bakal jauh lebih pintar mendeteksi penyakit lewat gambar medis dalam waktu singkat. Demikian mengutip CNN, Rabu (11/2/2026).

Namun, kenyataan pada 2026 ini justru berkata sebaliknya. Bukannya hilang ditelan mesin, radiologi justru menjadi studi kasus utama bagaimana AI bekerja sebagai mitra, bukan pengganti.

Bukan Menggantikan, tapi Mempercepat

Dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos baru-baru ini, para petinggi teknologi menyoroti radiologi sebagai contoh sukses integrasi AI. Dr. Po-Hao Chen dari Cleveland Clinic menjelaskan radiologi adalah "ladang emas" bagi AI karena memiliki data digital yang sangat melimpah.

"Hampir setiap rontgen, CT scan, dan MRI di AS sudah berbentuk angka nol dan satu. Ini memudahkan AI untuk belajar," ungkapnya.

Alih-alih mengambil alih diagnosis akhir, AI kini digunakan untuk tugas-tugas administratif dan teknis yang melelahkan, seperti, menentukan hasil pemindaian mana yang paling darurat untuk segera diperiksa dokter, menghasilkan pemindaian MRI berkualitas tinggi dengan waktu pemeriksaan yang lebih singkat, membantu meringkas temuan medis sehingga dokter bisa fokus pada pasien.

 

Lowongan Kerja Justru Naik 5 Persen

Data membuktikan ramalan kepunahan radiolog meleset jauh. Biro Statistik Tenaga Kerja memproyeksikan lapangan kerja di bidang ini justru tumbuh 5 persen hingga 2034, melampaui rata-rata pertumbuhan pekerjaan lain yang hanya di angka 3 persen.

Laporan dari platform pencarian kerja Indeed juga menunjukkan jumlah lowongan kerja radiolog pada 2025 tetap lebih tinggi dibandingkan lima tahun lalu. Meningkatnya populasi lansia dan kebutuhan akan diagnosis medis yang akurat menjadi penggerak utama permintaan profesi ini.

“Ini bukan sesuatu yang menggantikan siapa pun, tetapi hanya membuat pekerjaan kita lebih efisien dan lebih bermakna,” kata Dr. Shadpour Demehri dari Johns Hopkins Medicine.

 

Waspada Jebakan Ketergantungan

Meski masa depannya cerah, para ahli tetap memberikan catatan merah. Dr. Chen memperingatkan adanya risiko bias dan potensi ketergantungan AI. Sebuah studi dari MIT pada 2022 menemukan AI bisa memprediksi ras pasien hanya dari rontgen, sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia dan ini memicu kekhawatiran akan adanya bias dalam pemberian perawatan.

Selain itu, ada kekhawatiran pemilik fasilitas kesehatan mungkin mencoba mengganti dokter spesialis dengan tenaga medis umum yang dibantu AI demi menekan biaya.

"Performa algoritma itu hebat karena hasilnya ditinjau oleh seorang ahli. Kolaborasi antara mesin dan ahli inilah yang membuat peningkatan layanan kesehatan menjadi nyata," tegas Chen.

Goldman Sachs memang memperkirakan AI bisa menggantikan 6 hingga 7 persen tenaga kerja di AS secara total. Namun, jika belajar dari radiologi, AI lebih berpotensi menjadi alat pendukung yang justru meningkatkan nilai ekonomi.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6