Bank Indonesia: Hilirisasi Jaga Neraca Transaksi Berjalan Tetap Sehat

Bank Indonesia optimistis neraca transaksi berjalan tetap terkendali berkat hilirisasi dan perluasan pasar ekspor.

Diterbitkan 09 Februari 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) meyakini kebijakan hilirisasi industri dan diversifikasi ekspor mampu menjaga neraca transaksi berjalan Indonesia tetap berada dalam kondisi yang sehat. Optimisme ini disampaikan di tengah berbagai tantangan eksternal, mulai dari tekanan kinerja ekspor komoditas hingga kebutuhan impor untuk mendukung investasi.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya, mengatakan struktur ekspor Indonesia mulai menunjukkan pergeseran positif sebagai dampak kebijakan hilirisasi. Hal tersebut tercermin dari komposisi ekspor dalam neraca perdagangan Desember 2025.

“Ekspor tidak lagi hanya berbasis sumber daya alam mentah, tetapi juga mencakup produk industri, termasuk logam dan produk kimia. Komoditas-komoditas tersebut masih menjadi penopang surplus neraca perdagangan,” kata Juli dikutip Senin (9/2/2026). 

Menurutnya, perubahan struktur ekspor ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Neraca transaksi berjalan sendiri merupakan salah satu indikator utama yang mencerminkan kekuatan ekonomi nasional dalam menghadapi gejolak global.

Dalam neraca transaksi berjalan tercakup berbagai komponen pembayaran Indonesia dengan negara lain, antara lain Neraca Barang, Neraca Jasa, Neraca Pendapatan Primer, serta Neraca Pendapatan Sekunder. Pergerakan komponen-komponen tersebut turut memengaruhi arus devisa dan stabilitas nilai tukar rupiah.

 

Diversifikasi Ekspor

Juli menjelaskan, selain hilirisasi, diversifikasi negara tujuan ekspor juga menjadi faktor krusial dalam menjaga kinerja neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Indonesia dinilai tidak lagi hanya bergantung pada mitra dagang utama, tetapi mulai memperluas pasar ekspor ke berbagai negara lain.

Langkah ini dilakukan baik dari sisi tujuan ekspor maupun jenis produk yang dipasarkan. Fokusnya adalah mendorong ekspor produk bernilai tambah lebih tinggi agar ketahanan ekonomi semakin kuat.

“Ekspor tidak hanya bergantung pada mitra dagang utama, tetapi juga diperluas ke negara-negara lain di luar mitra tradisional,” ujarnya.

Meski demikian, Juli mengakui impor masih akan menjadi tantangan ke depan. Kebutuhan impor barang modal dan bahan baku diperkirakan tetap tinggi seiring berlanjutnya aktivitas investasi di dalam negeri.

“Namun, ke depan ketergantungan impor diharapkan dapat berkurang seiring kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan produksi dalam negeri, termasuk melalui penerapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada sejumlah sektor seperti kendaraan listrik,” kata dia.

Menurut BI, kombinasi antara penguatan struktur ekspor dan kebijakan substitusi impor menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan eksternal perekonomian nasional.

 

Neraca Transaksi Berjalan Terkendali

Dengan berbagai kebijakan tersebut, Bank Indonesia menilai posisi neraca transaksi berjalan Indonesia masih berada dalam kondisi yang terkendali. BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan pada 2026 berada di kisaran 0,1 persen hingga 0,9 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, pada 2027, defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar ke rentang 0,4 persen hingga 1,2 persen dari PDB. Proyeksi ini lebih besar dibandingkan realisasi defisit transaksi berjalan pada 2024 yang tercatat sebesar 0,6 persen.

Adapun untuk 2025, BI memproyeksikan transaksi berjalan berada pada kisaran 0,1 persen hingga minus 0,7 persen dari PDB.

Selain neraca transaksi berjalan, Bank Indonesia juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di rentang 4,9 persen hingga 5,7 persen. Sedangkan pada 2027, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkat ke kisaran 5,1 persen hingga 5,9 persen.

BI menilai prospek tersebut sejalan dengan upaya berkelanjutan pemerintah dan otoritas moneter dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6