Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, mengungkapkan dampak pernyataan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings yang menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil, terhadap rumah tangga.
"Dampak untuk rumah tangga biasanya datang lewat tiga jalur yang mudah dikenali," kata Syafruddin dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
Dampak pertama, harga dan daya beli. Rupiah melemah menaikkan biaya impor pangan, energi, obat, bahan baku, dan barang modal. Perusahaan bisa meneruskan biaya itu ke harga jual, sehingga masyarakat merasakan tekanan pada biaya hidup.
Advertisement
Kedua, suku bunga kredit dan akses pembiayaan. Ketika yield obligasi dan premi risiko naik, perbankan dan perusahaan menghadapi biaya dana lebih tinggi.
"Bank cenderung menahan ekspansi kredit atau menaikkan bunga kredit. UMKM, KPR, dan pembiayaan kendaraan paling cepat merasakan pengetatan," ujar dia.
Dampak ketiga, lapangan kerja dan pendapatan. Ketidakpastian kebijakan menahan investasi. Penundaan investasi mengurangi pembukaan kapasitas produksi baru dan perekrutan tenaga kerja, sehingga pemulihan pendapatan berjalan lebih lambat.
Dampak outlook negatif Moody’s ke depan Syafruddin menyebut, dampak outlook negatif Moody's ke depan terhadap perekonomian RI yakni, dampak pertama muncul lewat biaya pendanaan. Ketika outlook memburuk, investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang risiko Indonesia. Efeknya terasa pada harga obligasi (yield naik) dan biaya penerbitan utang baru, baik untuk pemerintah maupun korporasi.
Dampak kedua, lewat nilai tukar. Outlook negatif memperkuat narasi, risiko kebijakan meningkat, sehingga permintaan aset rupiah melemah. Rupiah yang melemah dapat menambah tekanan inflasi melalui harga barang impor dan biaya produksi yang memakai input impor.
"Dampak ketiga menyentuh arus modal dan pasar saham. Outlook negatif memperkuat sikap “risk-off” investor asing, terutama saat isu transparansi dan likuiditas pasar ikut mencuat. Reuters mencatat arus jual asing dan pelemahan IHSG di awal tahun, yang menunjukkan pasar menghukum lewat harga, bukan lewat debat," pungkasnya.
Respons BI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
Sebelumnya, lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif dari stabil pada Kamis, 5 Februari 2026. Dalam laporannya, Moody's menyatakan afirmasi rating Indonesia pada Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil dan solid, serta didukung oleh kekuatan struktural termasuk sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, yang menopang prospek pertumbuhan jangka menengah. Afirmasi rating Indonesia juga didukung oleh kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal yang terjaga, yang mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Sementara itu, revisi outlook dipengaruhi oleh pandangan Moody's akan risiko dari penurunan kepastian kebijakan, yang apabila berlanjut dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian.
Menanggapi keputusan Moody's tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menuturkan, penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia.
“Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%,” ujar Perry dikutip dari laman BI, Kamis (5/2/2026).
Selain itu, inflasi tetap terjaga pada 2,92%, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia.
“Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah,” kata Perry.
Perry menambahkan, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi.
Advertisement
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5196554/original/086520400_1745413930-20250423-Perkotaan-ANG_1.jpg)
Moody's memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga. Moody's menilai, defisit fiskal diperkirakan tetap akan berada di bawah 3% Produk Domestik Bruto (PDB), sementara kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi.
Moody's juga memperkirakan, rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers.
Namun demikian, menurut Moody's, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan basis penerimaan, yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan. Dalam hal ini, Moody's mengapresiasi upaya Pemerintah untuk mendorong penerimaan antara lain melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan.
Ke depan, Bank Indonesia memprediksi, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tetap solid dengan tren meningkat, didukung oleh inflasi yang terkendali.
“Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diprakirakan meningkat di kisaran 4,9-5,7% ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan berbagai kebijakan Pemerintah dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan Bank Indonesia,” ujar Perry.
Kinerja positif tersebut akan terus meningkat pada 2027, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,1-5,9%, serta inflasi yang akan tetap terkendali.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4536545/original/069114500_1691974925-cek_fakta_satir_ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299087/original/053914000_1784192454-cek_fakta_-_Sherly_Tjoanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4691763/original/031604000_1702982141-Serangan_macan_tutul_melukai_tiga_orang_di_Guwahati-AP__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298603/original/082269600_1784175792-gsafss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029352/original/041405400_1579686482-20200122-Penguatan-Rupiah-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4893064/original/098068400_1721122752-FotoJet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297435/original/065011900_1784091222-000_C27U8NQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298223/original/011449900_1784155410-063_2286282854.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288267/original/024620600_1783308427-eng10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5936533/original/005039500_1778833892-063_2276293040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298567/original/084606300_1784174337-000_C2B89X9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298224/original/042744300_1784155877-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298444/original/012761000_1784171006-Argentina_s_Leandro_Paredes__5__falls_as_he_battles_for_the_ball_with_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298306/original/004606900_1784166640-tuchel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298289/original/003845200_1784165599-063_2286277553.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298237/original/082194800_1784160981-England_head_coach_Thomas_Tuchel_talks_to_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298232/original/069179300_1784159975-England_s_Jude_Bellingham__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298612/original/078139900_1784176536-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-16T113248.324.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298638/original/011169100_1784178463-IMG_2226.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293440/original/090158600_1783706879-Bali_PSEL.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298140/original/097956800_1784127137-IMG_5346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298240/original/010107000_1784162387-20260715_135911.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298101/original/039516800_1784119903-WhatsApp_Image_2026-07-15_at_15.57.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298041/original/072295600_1784115559-WhatsApp_Image_2026-07-15_at_15.56.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297960/original/080980600_1784112251-Direktur_Utama_BEI_Jeffrey_Hendrik-15_Juli_2026a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292471/original/054670300_1783597457-Ketua_Dewan_Komisioner_OJK_Friderica_Widyasari_Dewi-9_Juli_2026h.jpeg)