Kurs Dolar AS Lesu, Rupiah Melesat Tersengat Sentimen Global

Analis mengungkapkan sejumlah faktor yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) baik sentimen global dan domestik. Berikut sentimen globalnya.

Diterbitkan 27 Januari 2026, 19:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melesat pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Analis menilai, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS didorong sentimen globalKurs rupiah terhadap dolar AS naik 14 poin atau 0,08% menjadi 16.768 per dolar AS dari sebelumnya 16.782.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini malah bergerak melemah ke level Rp 16.801 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.779 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi sentimen global yang relatif kondusif.

"Penguatan rupiah hari ini lebih mencerminkan respons terhadap sentimen global yang relatif kondusif,” ujar  dia seperti dikutip dari Antara, Selasa pekan ini.

Taufan menuturkan, pergerakan rupiah masih sejalan dengan arah dolar AS dan sentimen risiko pasar keuangan internasional.

Dolar  AS yang melemah dan selera risiko pelaku pasar yang membaik turut memberi ruang bagi mata uang emering markets untuk menguat, termasuk rupiah.

Kendati demikian, penguatan tersebut masih terbatas seiring pasar tetap berhati -hati terhadap ketidakpastian kebijakan moneter global dan rilis data ekonomi AS yang berpotensi memicu volatilitas.

Melihat sentimen domestik, ia menambahkan, pasar mencermati faktor kebijakan dan persepsi terhadap kredibilitas otoritas moneter.

Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) turut menjadi perhatian, kata dia, tetapi dampaknya cenderung bersifat psikologis dan jangka pendek.

“Pelaku pasar valuta umumnya lebih menimbang isu independensi bank sentral dan konsistensi kebijakan stabilisasi nilai tukar dibandingkan figur personal,” kata Taufan.

Seiring hal itu, selain pengaruh sentimen global yang kondusif, penguatan rupiah juga cermin dari keyakinan pasar terhadap BI yang tetap menjaga stabilitas, bukan semata akibat perubahan jabatan di internal bank sentral.

 

USD Keok, Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Level Segini

Sebelumnya, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat  (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa 27 Januari 2026. Rupiah bergerak menguat 2 poin atau 0,01 persen menjadi 16.780 per dolar AS dari sebelumnya 16.782 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah menguat terbatas seiring investor wait and see menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

“Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS yang masih dalam tekanan namun penguatan mungkin terbatas (seiring) investor juga wait and see hasil FOMC besok (Rabu 28/1),” katanya dikutip dari Antara, Selasa (27/1/2026).

Mengutip Anadolu, Federal Reserve diprediksi akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen para pertemuan pertama di tahun 2026.

 

Investor Menanti Pernyataan Pimpinan The Fed

Sebelumnya, FOMC telah memangkas suku bunga Fed sebesar total 75 basis points (bps) pada bulan September, Oktober, dan Desember 2025. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan politik dan perselisihan hukum yang sedang berlangsung dengan melibatkan bank sentral.

Presiden AS Donald Trump berulang kali meminta The Fed untuk memangkas suku bunga, dan pemerintahannya juga tengah menyelidiki dugaan tindakan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

“Yang dinantikan investor adalah sikap/nada dari pernyataan Kepala The Fed apakah hawkish atau dovish. Investor mungkin mengharapkan The Fed akan dovish merespons perkembangan geopolitik belakangan ini yang kurang begitu baik. Kalau dovish, dolar AS akan terus melemah, hal ini akan mengurangi beban terhadap rupiah” ungkap Lukman.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6