Penyebab Pesawat ATR 42-500 Jatuh Diselidiki KNKT, Black Box Belum Ditemukan

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menuturkan, ada 1.200 personel yang diterjunkan dalam tim gabungan untuk proses pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500.

Diterbitkan 20 Januari 2026, 19:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyampaikan penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 masih diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Hingga kini disebut black box pesawat belum dapat ditemukan.

Dia menjelaskan, mulanya pesawat itu sempat hilang kontak sebelum ditemukan jatuh di Gunung Bulusaraung, di perbatasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Baru ada dua jenazah korban yang ditemukan dalam proses evakuasi.

"Sebab dari kejadian tersebut kami tentunya masih menunggu hasil dari penyelidikan KNKT berkaitan dengan sebab-sebab kejadian," kata Dudy dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Dia juga mengatakan, black box pesawat ATR 42-500 belum ditemukan hingga pagi tadi. Dengan begitu, rekaman perjalanan belum bisa didapat untuk proses investigasi lanjutan.

"Bahwa sampai kemarin dan sampai pagi tadi kami belum dilaporkan apakah sudah ditemukan atau tidak black box-nya," ucap Dudy.

Dia menuturkan, ada 1.200 personel yang diterjunkan dalam tim gabungan untuk proses pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500. Meskipun, prosesnya kerap terkendala oleh cuaca ekstrem dan medan pegunungan yang cukup terjal.

Kronologi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi membeberkan kronologi jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pesawat tersebut sempat dilaporkan hilang kontak dan ditemukan serpihan badan pesawat di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Pesawat ATR 42-500 dengan registrasu PK THT yang dioperasikan Indonesia Air Transport (IAT) itu berangkat dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026 pukul 08.08 WIB.

"Pesawat PK THT atau ATR 42-500 melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar dengan jumlah manifest 10 orang terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan," kata Dudy dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, Selasa pekan ini.

Hilang Kontak

Kemudian, pada pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke landasan Pacu Runway 21, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Namun, ATC mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya dan mengarahkan koreksi posisi kepada awak pesawat, serta menyampaikan instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur. 

"Kemudian komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau lost contact, dan ATC segera mendeklarsikan fase darurat atau distress phase sesuai prosedur," ucapnya.

Atas kondisi itu, AirNav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI Polri, pemerintah daerah hingga instansi terkait untuk membentuk pusat penanganan krisis yang disiapkan di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

 

Pencarian Dimulai Minggu Pagi

Berikutnya, Dudy menjelaskan proses pencarian pesawat tersebut dilakukan sejak Minggu, 18 Januari 2026 pukul 06.15 WITA. Operasi pencarian dimulai dengan menggunakan drone milik TNI Angkatan Udara ke wilayah Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.

Pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan. Pukul 07.49 WITA, ditemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya. Pada pukul 10.05, konferensi pers dilaksanakan di bawah koordinasi Basarnas dan pihak terkait.

Pukul 11.59 WITA, Pos Komando Krisis Center Basarnas menerima laporan penemuan satu jenazah berjenis kelamin laki-laki dan segera dilakukan proses evakuasi.

"Pukul 18.30, kami berserta dengan Ketua Basarnas melakukan rapat koordinasi dengan seluruh aparat yang terkait, seluruh pihak yang terkait untuk memonitor perlaksanaan dari operasi SAR yang dilakukan atau yang dipimpin oleh Basarnas," tuturnya.

 

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6