Pesawat ATR 42 Hilang Kontak di Maros Sulsel, Segini Harga Pesawatnya

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pesawat ATR 42-500 memiliki mesin baru dan memiliki kapasitas penumpang hingga 46 kursi.

Diterbitkan 18 Januari 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan jatuh di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel), setelah sempat hilang kontak. Dalam penerbangan dengan pesawat ATR 42-500 itu terdapat 10 orang, termasuk tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Mengacu laman Aero Corner, Minggu (18/1/2026), nilai satu unit pesawat ATR 42-500 diperkirakan mencapai USD 12,1 juta atau setara Rp 204,6 miliar (asumsi kurs Rp 16.909 per dolar AS). Pesawat ini mulai diproduksi pada 1994 dan pertama kali digunakan untuk operasional pada akhir 1995.

ATR 42-500 memiliki kecepatan lepas landas 112 KCAS, dengan kecepatan jelajah maksimum hingga 556 km per jam. Performa tersebut didukung kemampuan pendakian 1.851 kaki per menit serta kecepatan pendakian optimal 160 KCAS. Dengan berat lepas landas maksimum 18.600 kilogram, pesawat ini tergolong lebih ringan dibandingkan pesawat sekelasnya dan memiliki jangkauan terbang hingga 716 nautical mile.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pesawat yang terdaftar dengan registrasi PK-THT tersebut diproduksi pada 2000 dengan nomor seri 611 dan dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) selaku pemegang AOC 034.

Merujuk informasi di laman resmi Indonesia Air, seri ATR 42 disebut sebagai versi produksi terbaru dengan berbagai pembaruan desain yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja dan kenyamanan penumpang.

"Pesawat ini memiliki mesin baru, baling-baling baru, kabin yang dirancang baru, dan peningkatan kapasitas bobot. Seri ATR 42 kami terdaftar dalam Program Part by Hour dari Sabena," tulis Indonesia Air dalam laman resminya.

Pesawat ini mampu terbang hingga ketinggian maksimum 7.620 meter dengan kecepatan 556 km per jam serta jarak tempuh mencapai 2.037 kilometer. Spesifikasi tersebut memungkinkan pesawat menempuh rute Yogyakarta–Maros/Makassar dengan jarak sekitar 1.147 kilometer.

ATR 42-500 memiliki kapasitas hingga 46 kursi penumpang, di luar kursi untuk pilot dan kru.

"Dirancang untuk memberikan penerbangan yang nyaman, seri ATR 42-500 kami dapat menjadi ruang kantor dan konferensi anda di udara," kata Indonesia Air.

Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros, Kemenhub Kasih Penjelasan

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menerima laporan terkait hilangnya kontak (loss contact) pesawat udara jenis ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat dengan registrasi PK-THT ini dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa menyampaikan, pesawat ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta Adi Sucipto (JOG) menuju Makassar Sultan Hasanuddin (UPG), dengan Pilot in Command Capt Andy Dahananto.

Berdasarkan informasi kronologis terbaru pada pukul 04.23 UTC, pesawat diarahkan oleh Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

 

Sempat Keluar Jalur

"Dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi," jelas Lukman, Sabtu (17/1/2026).

Lukman mengatakan, ATC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan guna membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur.

"Setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, komunikasi dengan pesawat terputus (loss contact)," ungkap dia. 

Deklarasi Fase Darurat

Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.

AirNav Indonesia Cabang MATSC segera melakukan koordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Kepolisian Resor Maros melalui Kapolsek Bandara guna mendukung langkah pencarian dan pertolongan.

"Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar telah melakukan persiapan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi," kata Lukman. 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6