Mahasiswa dan Remaja Diduga jadi Motor Lonjakan Pasar Taruhan di AS

Pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket mengalami lonjakan pesat. Analis menilai mahasiswa dan remaja usia 18–20 tahun menjadi pendorong utama pertumbuhan, terutama lewat taruhan olahraga perguruan tinggi.

Diterbitkan 19 Januari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar taruhan atau pasar prediksi global tengah menikmati pertumbuhan pesat seiring meningkatnya volume perdagangan dan partisipasi pengguna. Namun, di balik lonjakan tersebut, analis menilai terdapat sumber pertumbuhan yang tidak terduga, yakni mahasiswa dan remaja berusia 18 hingga 20 tahun.

Dikutip dari CNBC, Senin (19/1/2026), kelompok usia ini dinilai menjadi salah satu pendorong utama melonjaknya aktivitas di platform pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket, yang memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil berbagai peristiwa, mulai dari politik, budaya pop, hingga olahraga.

Analis Truist, Barry Jonas, dalam laporannya menyebutkan kelompok usia 18–20 tahun, yang umumnya belum memenuhi syarat usia legal untuk berjudi di sebagian besar negara bagian AS, kemungkinan besar berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan pasar prediksi atau pasar taruhan.

Hal ini terjadi karena platform prediksi umumnya memperbolehkan pengguna berusia 18 tahun ke atas, berbeda dengan taruhan olahraga online yang sering kali mensyaratkan usia minimal 21 tahun.

Fenomena ini menjadi semakin menarik karena pasar prediksi juga berkembang pesat di negara bagian yang belum melegalkan taruhan olahraga online, sehingga menjadi alternatif baru bagi para penjudi muda yang ingin tetap berpartisipasi.

Data dari HoldCrunch, perusahaan analitik yang didirikan oleh mantan eksekutif FanDuel, menunjukkan bahwa taruhan sepak bola perguruan tinggi justru menjadi kategori paling populer di Kalshi. Selama pekan yang berakhir pada 4 Januari, taruhan sepak bola perguruan tinggi menyumbang 32 persen dari total nilai taruhan di platform tersebut.

Sebagai perbandingan, taruhan NFL hanya menyumbang 24 persen, sementara NBA sebesar 22 persen. Menurut Kalshi, tren dominasi olahraga perguruan tinggi ini telah terlihat sejak Oktober, mengindikasikan keterlibatan kuat mahasiswa dan kalangan muda dalam aktivitas pasar prediksi.

HoldCrunch mencatat bahwa analisis dilakukan berdasarkan “handle setara taruhan olahraga”, bukan sekadar jumlah transaksi, sehingga mencerminkan nilai uang yang benar-benar dipertaruhkan.

Celah Regulasi Jadi Daya Tarik

Pasar prediksi dengan cepat mengisi celah regulasi di berbagai wilayah. Di negara bagian seperti California dan Texas, yang belum melegalkan taruhan olahraga online, penggunaan pasar prediksi tercatat cukup tinggi. Aplikasi pelacak taruhan Juice Reel menemukan 9 persen penggunanya di California dan lebih dari 6 persen di Texas memiliki akun pasar prediksi yang terhubung.

Menariknya, New York, meski sudah memiliki taruhan olahraga online legal, juga mencatat tingkat penggunaan pasar prediksi yang tinggi. Hal ini diduga karena kombinasi faktor usia muda dan keberadaan pelaku pasar keuangan yang terbiasa dengan instrumen derivatif berisiko tinggi.

Risiko dan Tantangan ke Depan

Pertumbuhan pasar prediksi atau taruhan juga memunculkan kekhawatiran regulator. Presiden NCAA, Charlie Baker, bahkan meminta Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) untuk menghapus olahraga perguruan tinggi dari pasar prediksi, setidaknya sampai sistem perlindungan yang lebih ketat diterapkan.

Analis menilai pasar prediksi memperbesar peluang keuntungan bagi pengguna bermodal besar, namun juga meningkatkan risiko kerugian bagi pengguna dengan modal terbatas.

Tren ini menunjukkan di balik peluang bisnis yang besar, pasar prediksi juga membawa tantangan serius dari sisi regulasi dan perlindungan konsumen.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6