Investasi Jawa dan Luar Jawa Hampir Seimbang, Realisasi Capai Rp 249 Triliun

Realisasi investasi luar Jawa melampaui Pulau Jawa dengan nilai Rp249,4 triliun pada periode terbaru.

Diterbitkan 15 Januari 2026, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Realisasi investasi di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa menunjukkan pembagian yang relatif seimbang. Pada periode terbaru, investasi di luar Jawa tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa, menegaskan bahwa pemerataan investasi nasional mulai berjalan dan tidak lagi terpusat di satu wilayah saja.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, perbedaan nilai investasi antara Jawa dan luar Jawa hanya terpaut tipis, meski secara utuh penanaman modal dalam negeri tumbuh 16,2 persen. Investasi di luar Jawa mencapai Rp249,4 triliun, sedangkan di Jawa sebesar Rp247,5 triliun atau sekitar 49,8 persen.

“Bedanya kurang lebih hanya hampir Rp2 triliun. Jadi perbandingannya seimbang, hampir sama,” ujar Rosan di BKPM, Kamis (15/1/2026).

Untuk sebaran daerah, Jawa Barat masih konsisten menjadi provinsi dengan realisasi investasi terbesar. Nilainya mencapai Rp78,7 triliun, disusul DKI Jakarta sebesar Rp66,8 triliun, kemudian Jawa Timur dan Banten. Menariknya, Sulawesi Tengah secara konsisten masuk dalam lima besar nasional, bersama Maluku Utara.

“Ini membuktikan bahwa hilirisasi kita berjalan secara berkesinambungan,” jelas Rosan.

Menurut Rosan, tingginya investasi di Jawa Barat tidak terlepas dari kuatnya sektor manufaktur yang terkonsentrasi di wilayah utara provinsi tersebut. Kawasan industri di Karawang, Bekasi, Subang, dan Purwakarta menjadi magnet utama masuknya investasi.

“Manufaktur di sana memang banyak, kawasan industrinya berjalan, termasuk industri kendaraan bermotor,” ujarnya.

 

Realisasi Investasi Triwulan IV 2025 Tembus Rp 496,9 Triliun

Realisasi investasi Indonesia pada triwulan keempat 2025 menunjukkan penguatan yang signifikan dengan total nilai mencapai Rp 496,9 triliun. Capaian ini mencerminkan kinerja investasi nasional yang tetap solid di tengah dinamika global dan sekaligus menjadi fondasi penting dalam mengejar target investasi tahunan sebesar Rp 1.950,6 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, capaian triwulan IV tersebut meningkat 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 452,8 triliun.

“Kalau kita lihat dari yoy, kurang lebih ada peningkatan 9,7 persen. Ini merefleksikan sekitar 26,1 persen dari target investasi nasional,” ujar Rosan di BKPM, Kamis (15/1/2026).

Selain dari sisi nilai, investasi juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Pada triwulan keempat ini, total tenaga kerja yang terserap mencapai 754.196 orang. Angka tersebut meningkat hampir 30 persen atau tepatnya 29,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penyerapan tenaga kerjanya meningkat sangat baik, hampir 30 persen. Ini menunjukkan investasi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

PMA dan PMDN

Rosan merinci, kontribusi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) relatif seimbang. PMA tercatat sebesar Rp256,3 triliun atau 51,6 persen, sementara PMDN mencapai Rp240,6 triliun atau 48,4 persen.

“Perbedaannya tidak terlalu besar. PMA sedikit lebih tinggi, tapi pertumbuhan PMDN secara yoy justru lebih besar, yakni 16,2 persen,” katanya.

Menurut Rosan, investor asing tetap menjaga kepercayaan terhadap Indonesia karena stabilitas politik dan ekonomi yang terjaga, terutama pada kuartal keempat.

“Mereka melihat stabilitas politik, ekonomi, serta kebijakan pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi. Ini direspons positif oleh para investor,” ujarnya.

Dari sisi sebaran wilayah, realisasi investasi di luar Pulau Jawa sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa. Investasi di luar Jawa mencapai Rp249,4 triliun, sedangkan di Jawa sebesar Rp247,5 triliun atau sekitar 49,8 persen.

“Perbandingannya seimbang, hampir sama. Ini menunjukkan pemerataan investasi terus berjalan,” kata Rosan.

Untuk provinsi, Jawa Barat masih menjadi tujuan utama investasi dengan nilai Rp78,7 triliun, disusul DKI Jakarta Rp66,8 triliun, Jawa Timur, Banten, serta Sulawesi Tengah yang secara konsisten masuk lima besar.

“Masuknya Sulawesi Tengah dan Maluku Utara membuktikan bahwa program hilirisasi berjalan berkesinambungan,” ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6