Pengangguran Ternyata Bisa Bikin Orang Jadi Tertutup Secara Emosional dan Berbahaya

Pakar menilai tekanan sosial dan makna pekerjaan memperparah rasa malu serta berdampak pada kesehatan mental dan kehidupan kencan.

Diterbitkan 14 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kehilangan pekerjaan  atau menjadi pengangguran ternyata tidak hanya berdampak pada stabilitas keuangan. Namun juga membawa konsekuensi besar terhadap kondisi emosional dan hubungan sosial seseorang.

Survei terbaru dari perusahaan perjodohan Tawkify menunjukkan bahwa 38 persen orang dewasa menjadi lebih tertutup secara emosional selama masa pengangguran. Temuan ini menyoroti sisi psikologis pengangguran yang kerap luput dari perhatian, khususnya dalam konteks kehidupan sosial dan relasi personal.

Dikutip dari CNBC, Rabu (14/1/2026), survei yang melibatkan lebih dari 1.000 responden dewasa di Amerika Serikat itu mengkaji bagaimana kehilangan pekerjaan memengaruhi kehidupan kencan, baik pada tahap kencan pertama maupun hubungan jangka panjang.

Hasilnya, banyak responden mengaku membatalkan kencan karena keterbatasan finansial, ragu untuk memulai hubungan baru, hingga menarik diri secara emosional dari pasangan maupun calon pasangan.

Peneliti senior Kinsey Institute untuk riset seks dan hubungan, Justin Lehmiller, menilai hasil survei tersebut bukanlah hal yang mengejutkan. Bahkan, ia memperkirakan angka orang yang menutup diri secara emosional selama menganggur bisa lebih tinggi.

Menurut Lehmiller, dalam budaya masyarakat modern, khususnya di Amerika Serikat, pekerjaan sering kali menjadi tolok ukur utama nilai diri seseorang.

“Jika Anda memikirkan pertanyaan pertama yang diajukan seseorang saat bertemu Anda,” kata Lehmiller, “seringkali pertanyaannya adalah, ‘Apa pekerjaan Anda?’”

Pandangan ini sejalan dengan pendapat Steven Vallas, profesor emeritus sosiologi dari Northeastern University, menyebut pekerjaan sebagai sarana utama individu memperoleh rasa hormat dan pengakuan sosial. Ketika pekerjaan hilang, bukan hanya penghasilan yang terdampak, tetapi juga rasa percaya diri dan identitas personal.

“Di AS, pekerjaan adalah satu-satunya cara terpenting untuk membuktikan nilai diri” sebagai seorang individu, kata Steven Vallas, profesor emeritus sosiologi di Northeastern University.

Rasa Malu dan Kecemasan Semakin Memperparah Kondisi Emosional

Lehmiller menambahkan, kuatnya makna sosial pekerjaan dapat “benar-benar memperparah perasaan malu dan kecemasan akibat pengangguran”. Kondisi ini membuat banyak orang sulit bersikap terbuka, jujur, dan rentan secara emosional—hal-hal yang justru penting dalam membangun hubungan yang sehat.

Akibatnya, sebagian orang memilih menarik diri dari kehidupan sosial dan asmara, bukan karena kurangnya keinginan, tetapi karena tekanan psikologis yang belum terkelola dengan baik.

Pakar: Tidak Masalah Rehat dari Kencan Saat Menganggur

Menghadapi kondisi tersebut, para ahli menilai rehat sementara dari dunia kencan bukanlah hal yang salah. Lehmiller menyarankan agar individu yang sedang menganggur memberi ruang bagi diri sendiri untuk memulihkan kesehatan mental.

Mantan praktisi SDM di sejumlah perusahaan besar, Dan Space, juga menyarankan agar seseorang sesekali berhenti memikirkan lamaran kerja dan menikmati hal-hal sederhana yang dapat menjadi pelarian emosional, seperti menonton film atau bersantai di rumah.

Namun, para pakar mengingatkan agar rehat dari kencan tidak berarti menutup diri sepenuhnya. Dukungan dari keluarga dan teman tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan mental selama masa pengangguran “kemampuan untuk bersandar pada keluarga dan teman sangatlah penting,” katanya.

 

Sumber: https://www.cnbc.com/2026/01/12/thirty-eight-percent-of-people-become-emotionally-closed-off-during-unemployment.html

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6