Ribuan Barang Tertinggal di LRT Jabodebek, Nilainya Capai Rp 797 Juta

Sepanjang 2025, layanan LRT Jabodebek mencatat sebanyak 6.995 barang tertinggal di area stasiun dan rangkaian kereta.

Diterbitkan 07 Januari 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang 2025, layanan LRT Jabodebek mencatat sebanyak 6.995 barang tertinggal di area stasiun dan rangkaian kereta. Dengan estimasi nilai mencapai Rp797,7 juta.

Dari jumlah tersebut, 3.399 barang berhasil dikembalikan kepada pemiliknya, sementara sisanya masih dalam pengelolaan petugas.

Manager Public Relations LRT Jabodebek Radhitya Mardika mengungkapkan, ditengah kepadatan dan ritme perjalanan harian, pengelolaan barang bawaan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan bersama. Transportasi publik merupakan ruang bersama yang menuntut kesadaran kolektif antar pengguna.

"Barang bawaan adalah bagian dari aktivitas masyarakat kota. Ketika ditempatkan secara tepat, ruang perjalanan dapat tetap berfungsi optimal bagi semua pengguna," ujar Radhitya, Rabu (7/1/2026).

PT KAI (Persero) juga mengatur ketentuan bagasi di layanan LRT Jabodebek, dengan ukuran maksimal 100 x 40 x 30 cm, serta larangan membawa barang berbahaya.

Di dalam rangkaian kereta, pengguna dapat memanfaatkan rak di atas kursi dan area khusus penyimpanan agar tidak menghambat pergerakan penumpang lain.

Layanan Penitipan Barang

Selain itu, KAI menyediakan layanan penitipan barang di Stasiun Halim yang beroperasi setiap hari pukul 05.00–23.00 WIB, dengan durasi penitipan maksimal 72 jam.

Radhitya mengutarakan, layanan penitipan barang dan Lost and Found merupakan bagian dari upaya menghadirkan sistem transportasi publik yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat urban.

"Transportasi publik tidak hanya berbicara tentang perpindahan dari satu titik ke titik lain, tetapi tentang bagaimana ruang mobilitas dikelola. Pengaturan bagasi, penitipan barang, hingga layanan barang temuan menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang aman, tertib, dan berkelanjutan," tuturnya.

 

Naik 10%, LRT Jabodebek Angkut 1,3 Juta Pengguna di Nataru 2025/2026

Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat peningkatan jumlah pengguna LRT Jabodebek selama masa angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026) yang dilaksanakan selama 18 hari, mulai 18 Desember 2025-4 Januari 2026.

Pada periode tersebut, LRT Jabodebek melayani 1.321.733 pengguna, meningkat dibandingkan Nataru 2024/2025 yang tercatat 1.198.315 pengguna, atau tumbuh 10 persen.

Manager of Public Relation LRT Jabodebek Radhitya Mardika mengatakan, capaian ini menegaskan peran LRT Jabodebek sebagai moda transportasi perkotaan yang tidak hanya berfungsi pada hari kerja, tetapi juga menjadi pilihan utama masyarakat pada masa libur panjang.

Selama periode Nataru, layanan ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan perjalanan. Termasuk menuju destinasi wisata, aktivitas keluarga, hingga akses ke pusat-pusat kegiatan perkotaan.

"Selama masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, pengguna LRT Jabodebek semakin merasakan manfaatnya. Integrasi antarmoda dan kemudahan akses ke berbagai pusat aktivitas membuat LRT Jabodebek menjadi solusi mobilitas perkotaan yang praktis, aman, dan terjadwal," ujarnya, Senin (5/1/2026).

Berikut daftar 5 stasiun LRT Jabodebek paling favorit selama Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 atau 18 Desember 2025-4 Januari 2026:

1. Stasiun Dukuh Atas, 443.925 pengguna

2. Harjamukti, 305.962 pengguna

3. Cikoko, 223.881 pengguna

4. Kuningan, 190.401 pengguna

5. Bekasi Barat, 181.509 pengguna

 

Alasan Tingginya Mobilitas

"Tingginya pergerakan di stasiun tersebut berkaitan dengan lokasinya yang melayani kawasan dengan aktivitas perjalanan yang beragam serta keterhubungannya dengan perjalanan lanjutan di wilayah Jabodebek," imbuh Radhitya.

Salah satu faktor pendorong meningkatnya penggunaan LRT Jabodebek adalah keunggulan integrasi antarmoda. Jaringan LRT Jabodebek terhubung dengan KRL Commuter Line, Kereta Cepat Whoosh, KA Bandara, MRT Jakarta, hingga Transjakarta.

Konektivitas ini memudahkan masyarakat berpindah antarmoda secara efisien dan menjangkau kawasan hunian dengan pusat-pusat aktivitas perkotaan, kawasan perkantoran, serta area komersial dan ruang publik.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6