Maduro Ditangkap, Trump Serukan Raksasa Minyak AS Rebut Kembali Aset di Venezuela

Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan kembalinya perusahaan migas AS ke Venezuela usai Penggulingan Presiden Nicolas Maduro.

Diterbitkan 06 Januari 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penggulingan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, berpotensi menjadi titik balik besar bagi industri energi global, khususnya bagi perusahaan-perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat (AS) yang selama bertahun-tahun kehilangan aset bernilai miliaran dolar akibat kebijakan nasionalisasi.

Dikutip dari CNBC, Selasa (6/1/2026), Venezuela, yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia dengan sekitar 303 miliar barel atau setara 17 persen dari cadangan global, kembali menjadi sorotan investor setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan kembalinya perusahaan-perusahaan migas AS ke negara Amerika Selatan tersebut.

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan bahwa perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat siap menggelontorkan investasi bernilai miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang rusak parah.

“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” kata Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah pasukan AS menangkap Maduro dan istrinya, memicu spekulasi pasar bahwa perubahan rezim akan membuka jalan bagi pemulihan aset migas yang sebelumnya disita pemerintah Caracas.

Reaksi pasar pun terlihat jelas. Saham-saham perusahaan minyak besar seperti Chevron, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips mengalami kenaikan, mencerminkan optimisme investor terhadap peluang bisnis baru di Venezuela.

Selama bertahun-tahun, ketiga perusahaan tersebut terdampak langsung oleh kebijakan nasionalisasi yang dilakukan mendiang Presiden Hugo Chavez pada 2007, yang memaksa mereka hengkang dari proyek-proyek strategis di Sabuk Orinoco.

Meski demikian, para analis menilai bahwa kembalinya investasi migas AS tidak akan terjadi secara instan. Stabilitas politik, kepastian hukum, serta mekanisme pemulihan klaim arbitrase bernilai miliaran dolar menjadi faktor krusial sebelum modal besar benar-benar mengalir kembali ke Venezuela.

Peluang Besar di Tengah Produksi yang Terpuruk

Produksi minyak Venezuela pernah mencapai puncaknya di level 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an. Namun, menurut data konsultan energi Kpler, produksi saat ini hanya berada di kisaran 800 ribu barel per hari. Penurunan tajam ini disebabkan oleh minimnya investasi, sanksi internasional, serta kerusakan infrastruktur yang meluas.

Sebagian besar cadangan minyak Venezuela berada di Sabuk Orinoco dan berbentuk minyak mentah ekstra berat yang membutuhkan teknologi serta keahlian tinggi untuk diekstraksi. Kondisi ini membuka peluang besar bagi perusahaan minyak internasional yang memiliki kemampuan teknis dan modal besar.

Chevron Dinilai Paling Siap

Chevron dinilai berada di posisi paling strategis untuk meningkatkan produksi dalam waktu relatif cepat. Perusahaan ini merupakan satu-satunya raksasa migas AS yang masih beroperasi di Venezuela melalui usaha patungan dengan perusahaan minyak negara PDVSA. Pada kuartal IV 2025, Chevron tercatat mengekspor sekitar 140 ribu barel per hari dari Venezuela.

Chevron juga menguasai sekitar 23 persen produksi minyak Venezuela melalui berbagai joint venture. Meski begitu, perusahaan menegaskan tetap memprioritaskan keselamatan karyawan dan kepatuhan terhadap hukum internasional di tengah situasi politik yang masih dinamis.

Klaim Miliaran Dolar Exxon dan ConocoSementara itu, Exxon Mobil dan ConocoPhillips masih memiliki klaim arbitrase besar yang belum diselesaikan. Conoco disebut memiliki klaim mendekati USD 10 miliar, sekitar Rp 167 triliun (kur USD 1 = Rp 16.765).

 Exxon juga mengklaim sekitar USD 2 miliar, sekitar Rp 33 triliun akibat nasionalisasi aset di era Chavez. Kedua perusahaan menyatakan masih memantau perkembangan situasi dan menilai terlalu dini untuk memastikan langkah investasi ke depan.

Tantangan Keamanan dan Infrastruktur

Analis memperkirakan dibutuhkan dana sekitar USD 10 miliar, sekitar Rp 167 triliun per tahun untuk memulihkan industri migas Venezuela. Selain investasi besar, stabilitas keamanan menjadi syarat mutlak. Tanpa transisi kekuasaan yang tertib, skenario pemulihan bisa berujung kacau seperti yang pernah terjadi di Libya atau Irak.

Meski penuh tantangan, perubahan rezim di Venezuela tetap dipandang sebagai peluang strategis besar bagi industri energi global, terutama bagi perusahaan minyak AS yang ingin merebut kembali aset dan pengaruh di salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6