Menko Airlangga: Eskalasi AS–Venezuela Belum Berdampak ke Harga Minyak Indonesia

Menko Airlangga menyebut konflik AS dan Venezuela belum memicu gejolak harga minyak impor Indonesia.

Diterbitkan 05 Januari 2026, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan hingga kini eskalasi politik antara Amerika Serikat dan Venezuela belum memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak impor Indonesia. Pemerintah, kata Menko Airlangga, terus mencermati perkembangan geopolitik tersebut secara intensif.

Hal itu disampaikan Airlangga sebelum melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin. Menurutnya, sebagai salah satu produsen minyak dunia, kondisi Venezuela tetap menjadi perhatian dalam pemantauan harga energi global.

“Harga minyak kita monitor, kalau satu-dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi,” ujar Airlangga dikutip dari Antara. 

Ia menambahkan, hingga saat ini harga minyak dunia masih berada pada level yang relatif rendah, yakni sekitar USD 63 per barel. Kondisi tersebut dinilai belum memberikan tekanan terhadap biaya impor energi Indonesia.

Meski demikian, Airlangga mengakui eskalasi politik antara Amerika Serikat dan Venezuela berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia apabila konflik berlanjut dan memengaruhi pasokan global.

Oleh karena itu, pemerintah memastikan terus melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna mengantisipasi kemungkinan perubahan harga minyak yang berdampak pada perekonomian nasional.

 

Kondisi Venezuela Makin Kompleks

Di sisi lain, situasi di Venezuela dilaporkan semakin kompleks. ekspor minyak negara tersebut dilaporkan lumpuh di tengah operasi militer Amerika Serikat. Sejumlah sumber menyebutkan aktivitas pengiriman minyak terhenti akibat belum diterbitkannya izin keberangkatan kapal tanker.

Ekspor minyak Venezuela disebut mengalami penurunan drastis menyusul kebijakan sanksi dan blokade yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap kapal-kapal tanker tertentu. Akibatnya, sejumlah kapal pengangkut minyak mentah yang dijadwalkan berlayar ke Amerika Serikat dan Asia tertahan di pelabuhan.

Data pelacakan kapal dari TankerTrackers menunjukkan beberapa kapal belum dapat berlayar karena kendala perizinan dari otoritas setempat. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.

Namun demikian, Airlangga menegaskan pemerintah Indonesia akan terus memantau dinamika tersebut dan menyiapkan langkah mitigasi apabila terjadi lonjakan harga minyak dunia.

“Pemerintah selalu siap melakukan antisipasi dan koordinasi apabila terjadi perubahan signifikan,” ujarnya.

 

Aset Pertamina Aman

Sementara itu, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memastikan aset minyak yang dimiliki di Venezuela tidak terdampak oleh eskalasi konflik tersebut. PIEP diketahui menguasai 71,09 persen saham perusahaan migas asal Prancis, Maurel & Prom (M&P), yang memiliki aset di negara tersebut.

“Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela,” kata Manager Relations PIEP Dhaneswari Retnowardhani dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Sebagai langkah antisipasi, PIEP terus menjalin koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas guna memastikan keamanan operasional dan keselamatan seluruh personel.

Pemerintah berharap situasi geopolitik global tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan yang dapat memengaruhi stabilitas harga energi. Dengan pemantauan yang ketat dan koordinasi lintas pihak, Indonesia optimistis dapat menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6