CSR Badak LNG Olah Ikan Teri jadi Bernilai Ekonomi, Kisah Sugiono Sang Pensiunan Guru SD

Sugiyono melihat hasil tangkapan nelayan, khususnya ikan-ikan kecil sejenis teri banyak terbuang akibat minimnya pengolahan dan kurangnya permintaan hingga akhirnya diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Diterbitkan 18 Oktober 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Namanya Sugiyono. Ia merupakan Guru Sekolah Dasar (Guru SD) sejak 1995 dan pensiun pada 2024. Sugiono yang merupakan Guru Sejarah di Sekolah Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) Bontang, Kalimantan Timur memiliki ide bermanfaat.

Kala itu, Sugiyono melihat hasil tangkapan nelayan, khususnya ikan-ikan kecil sejenis teri banyak terbuang akibat minimnya pengolahan dan kurangnya permintaan.

Ia lalu mencoba menghubungi PT Badak NGL atau Badak LNG yang diketahuinya kerap membantu masyarakat melalui kegiatan CSR-nya.

Bak gayung bersambut, tidak bertepuk sebelah tangan, idenya untuk mengembangkan pengolahan ikan teri dan limbah ikan mendapat dukungan dari Badak LNG.

Diketahui, PT Badak NGL merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Pertamina Hulu Energi, yang melalui 4 pilar kegiatan tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) aktif terlibat dalam upaya pembangunan Kota Bontang.

Pada bidang pemberdayaan, perusahaan berkolaborasi dengan masyarakat mendesain dan menjalankan berbagai program yang memanfaatkan potensi ekonomi daerah secara optimal.

Di mana, salah satunya adalah program "Waste Free Ocean for Future Fit Society", menyasar pengolahan produk perikanan laut dan limbah yang dihasilkannya.

"Berbekal ide dan tidak malu, saya pengen punya kegiatan produksi yang ada di Bontang melimpah, yaitu ikan teri. Ikan teri itu tidak menyenggol orang lain dan di Jakarta berapa pun jumlahnya pasti menerima," cerita Sugiyono saat ditemui Liputan6.com dan beberapa media lainnya, Rabu 15 Oktober 2025 di Bontang, Kalimantan Timur.

Dia lalu menjelaskan bagaimana proses pengolahan ikan teri.

"Mulai dari dapat dari nelayan, kemudian kita pilah, kita hampar di tempat tray, baru kita rebus, kemudian kita jemur. Setelah itu baru kita sortir sesuai ukuran, ada yang besar, ada yang kecil. Kita sortir, baru kita packing. Baru kita siap kirim ke lokasi," cerita Sugiyono.

Dia menjabarkan, berangkat dari situasi Kota Bontang yang pesisir, banyak hasil ikan dan kadang terbuang, sehingga harus mengawetkan, maka itu bisa kami manfaatkan, dan jadi produk ekonomi.

"Hasil lain disamping teri, kita ada limbahnya, terutama limbah yang selama ini terbuang dan mengganggu lingkungan. Kami olah, kami keringkan juga, dan kami tepungkan dan ada nilai ekonominya juga," kata Sugiyono.

Menurut Sugiyono, saat ini, hasil olahan ikan terinya dikirim ke Jakarta. Namun untuk besaran pengirimannya, berdasarkan hasil tangkapan dan olahannya.

"Sementara ini kami kirim ke Jakarta. Kirimnya menyesuaikan dengan hasil tangkapan dan hasil produksi kami, yang dirata-rata antara 2-3 ton per bulan," ucap dia.

 

Tak Hanya Sendiri dan Bukan Cuma Ikan Teri

Sugiyono tak sendiri. Ia memulai kegiatan pengolahan teri bersama kelompoknya bernama Berkah Laut Berjaya pada 2024 lalu dengan dukungan dari Badak LNG.

"Alhamdulillah sekarang kami bisa menampung hasil tangkapan nelayan sekaligus menambah penghasilan bagi anggota kelompok yang melakukan pengolahan," ucap Sugiyono.

Dia menjabarkan, saat ini kelompoknya terbagi menjadi 3, yaitu penangkap ikan 10 orang di laut, pengolah 4 orang, dan produksi termasuk packing 7 orang. Total ada 21 orang.

"Untuk pemberdayaan warga lokal itu ada satu kelompok sebagai pengolahnya, pemilahnya dari ibu-ibu yang selama ini tidak punya kegiatan jadi ada tambahan kegiatan, tambahan penghasilan dari memilah ikan tadi. Termasuk dari lingkungan yang punya limbah ikan kering, yang biasanya dibuang, itu kita kumpulkan, kita hargai, dan bisa kita manfaatkan," terang Sugiyono.

Ya, Sugiyono bersama kelompoknya juga berhasil memanfaatkan teri-teri jelek atau tak lolos seleksi menjadi tepung untuk makan hewan ternak.

"Kalau teri itu utuh. Nah yang tidak layak ditepungkan, dikeringkan, dan digiling. Karena yang dinilai itu protein untuk pakan hewan ternak," cerita Sugiyono.

Limbah ikan teri yang tadinya hanya terbuang begitu saja, kini dihargai Sugiyono Rp 2.000 per kilogram/kg untuk selanjutnya diolah menjadi tepung.

Tak sembarangan, tepung teri tersebut juga telah dicari tahu terlebih dahulu di dalam laboratorium untuk mengetahui berapa besaran protein yang bagus untuk bisa menjadi pakan ternak.

"Tepung di-lab kan dulu, misal kadar air 10 persen yang bagus untuk pakan ternak, nah baru kita olah, kita proses," ucap Sugiyono.

Untuk tepung, menurut Sugiyono, saat ini lebih banyak dikirim ke Kota Samarinda, Kalimantan Timur maupun wilayah Kalimantan lainnya.

 

Omzet Beragam dan Dukungan dari Badak LNG

Menurut Sugiyono, omzet yang didapat dari pengolahan ikan teri ini nilainya beragam sesuai dengan hasil tangkapan dan olahan.

"Omzetnya beragam, bisa mencapai Rp 60 Juta per bulan," kata dia.

Sugiyono mengaku, dukungan dari program CSR Badak LNG sangat terasa untuk dirinya dan warga sekitar.

"Badak LNG disamping fisik yang diberikan ke kami yaitu tempat dan yang tidak kalah pentingnya adalah edukasi tentang ilmu keekonomiannya, serta informasi dari tempat-tempat lain yang bisa kami sontek," kata Sugiyono.

"Kami harap, masih terus berlanjut untuk memberikan edukasi kepada kami. Targetnya dengan teman-teman, di sini bisa menjadi tempat untuk latihan menggali keekonomian dari sektor yang ada di Bontang, terutama perikanan," tandas dia.

Sementara itu, Manajer CSR & Relations PT Badak NGL Putra Peni Luhur Wibowo mengatakan, pihaknya mendorong pemberdayaan masyarakat Bontang melalui banyak program lainnya.

"Semuanya berkelanjutan dan juga berhubungan, termasuk usaha pengolahan teri kelompok Berkah Laut Berjaya ini," tegas Luhur, sapaan akrabnya.

Dia menjelaskan, untuk program Waste Free Ocean for Future Fit Society, perusahaan juga menekankan pada pemanfaatan limbah, termasuk untuk membangun workshop pengolahan.

"Badak LNG menggunakan beragam sisa material sebagai bahan bangunan, juga batako yang dihasilkan dari limbah non B3 di program lainnya," ucap dia.

Terkait inovasi kontainer pengering, Luhur menyebut, teknologi sederhana yang digunakan terinspirasi dari kilang LNG, dalam hal ini uap perebusan teri dialirkan ke kontainer untuk mengeringkan teri.

"Hasilnya cukup efektif, sehingga tidak perlu lagi bergantung pada cuaca untuk mengeringkan teri. Ini juga meniadakan risiko limbah akibat teri rusak karena tak bisa diolah gara-gara cuaca," jelas Luhur.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6