Ketimpangan Pendapatan Orang Indonesia Lebih Tinggi Dibanding Vietnam dan Thailand

Rasio Gini atau ketimpangan pendapatan penduduk Indonesia pada Maret 2025 mencapai 0,375

Diterbitkan 18 Oktober 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Indonesia memiliki berbagai isu sosial yang belum sepenuhnya terselesaikan, terutama soal ketimpangan pendapatan yang tinggi, akses terhadap kesempatan pendidikan, kesehatan, dan keadilan, serta masalah klasik kemiskinan yang mempengaruhi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.

Sebagai salah satu fakta, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rasio Gini atau ketimpangan pendapatan penduduk Indonesia pada Maret 2025 mencapai 0,375. Walaupun sedikit menurun dari tahun sebelumnya, ketimpangan pendapatan penduduk Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara tetangga Vietnam dan Thailand.

Isu-isu sosial juga menjadi perhatian sektor usaha, termasuk PT Bank Jago Tbk. Sebagai sebuah badan usaha, perusahaan memang memiliki tujuan utama menghasilkan keuntungan dari penjualan barang atau jasa kepada masyarakat. Di sisi lain, perusahaan perlu bertujuan memberikan dampak positif dan meningkatkan kesejahteraan banyak orang.

“(Perusahaan) gak cuma ngejar cuan tapi juga punya nilai sosial. Mungkin semacam multi bottom line gitu yang gak cuma profit tapi juga impact,” kata Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago Andy Djiwandono.

Sebagai informasi, multi bottom line atau triple bottom line merupakan sebuah konsep bisnis yang menyatakan bahwa perusahaan harus berkomitmen untuk mengukur dampak sosial dan lingkungan mereka selain kinerja keuangan atau selain fokus pada menghasilkan laba.

Memiliki aspirasi untuk meningkatkan kesempatan tumbuh berjuta orang melalui solusi keuangan digital yang berfokus pada kehidupan, Bank Jago juga meyakini konsep tersebut. Menurut Andy, bank berbasis teknologi juga memiliki ruang untuk menciptakan dampak sosial yang nyata. Sebagai pelaku di sektor finansial, Bank Jago bisa membantu orang dengan cara yang paling fundamental, paling sederhana, yaitu membantu mereka mengatur keuangan.

“Sekitar 4-5 tahun lalu, visi Bank Jago mungkin masih agak fluffy (mengawang) dan belum sepenuhnya terdefinisi. Tapi justru di situ menariknya karena kita bisa terlibat langsung proses memikirkan dan membentuk apa yang kita bangun, cara berpikirnya, produknya, dan kontribusinya kepada banyak orang,” tutur Andy.

 

 

Road Map Program Keberlanjutan

Seiring dengan fokus untuk menciptakan dampak sosial yang nyata tersebut, Bank Jago membangun peta jalan (road map) program keberlanjutan (sustainability). Melihat standar program sustainability global, Andy berpikir fokus sustainability Bank Jago adalah menciptakan dampak sosial kepada target individu nasabah Bank Jago, daripada fokus kepada lingkungan, iklim, atau emisi karbon.

Andy menjelaskan bahwa agenda sustainability Bank Jago terbagi dalam beberapa fase. Pertama, menciptakan dampak sosial melalui inklusi keuangan (financial inclusion) dan literasi kesehatan keuangan (financial health literacy).

“Intinya, kita ingin bantu orang-orang punya akses ke layanan keuangan secara mudah karena kita ini digital. Lebih dari itu, layanan kita juga harus bisa bantu orang lebih pintar dalam mengelola keuangannya. Jadi, bukan cuma ngasih akses tapi juga memberdayakan,” tuturnya.

Kedua, menyalurkan pinjaman ke debitur, baik individu maupun bisnis, yang juga bisa menciptakan dampak sosial. Andy melanjutkan, pinjaman yang diberikan harus bisa memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau menciptakan lapangan kerja yang terukur.

“Ke depan, fase selanjutnya mungkin saja kredit yang diberikan berupa green loans kepada individu atau bisnis yang punya komitmen terhadap lingkungan. Bahkan kita bisa menerbitkan obligasi untuk mendanai berbagai pinjaman tersebut,” ujarnya.

 

Skor Kesehatan Keuangan

Ke depan, lanjut Andy, program sustainability Bank Jago akan menjadi bagian penting dari Aplikasi Jago dan produk pinjaman (responsible lending) hanya salah satu bagiannya. Selain responsible lending,

Aplikasi Jago juga akan dilengkapi dengan AI-powered financial health navigator, yang dapat menganalisis riwayat transaksi, pola arus kas, saldo tabungan, dan kewajiban utang nasabah untuk menghasilkan skor kesehatan keuangan yang dipersonalisasi untuk setiap individu.

“Tentu ini merupakan inovasi-inovasi yang melengkapi unique value proposition dari Aplikasi Jago. Tantangan kami adalah bekerja menyeimbangkan output profit dan menciptakan dampak sosial. Namun culture di sini sangat mendukung sehingga saya yakin bisa menanamkan nilai sosial di jantung inovasi Bank Jago,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6