Daftar Perempuan Paling Berpengaruh di Asia 2025, Ada dari Indonesia

Fortune Merilis daftar Most Powerful Women Asia 2025 yang menampilkan 100 pemimpin perempuan berpengaruh di 14 Negara. Perempuan Indonesia juga tak kalah saing, siapakah Perempuan Indonesia yang masuk jajaran elit dunia? Simak di sini.

Diterbitkan 08 Oktober 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fortune resmi merilis daftar "Most Powerful Women Asia 2025", menyoroti 100 sosok Perempuan Paling Berpengaruh  yang tak hanya memimpin bisnis besar, tapi juga menavigasi gejolak ekonomi dan geopolitik kawasan dengan strategi visioner. Mereka adalah para CEO, pendiri, dan eksekutif puncak yang membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan kini menjadi kekuatan penggerak utama di Asia.

Dikutip dari Fortune, Rabu (8/10/2025), di antara nama-nama besar dari Singapura, China, India, hingga Jepang, dua pemimpin asal Indonesia turut mencuri perhatian dunia: Direktur Utama Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), Maya Watono, dan CEO Hartadinata Abadi, Sandra Sunanto.

Keduanya menjadi simbol transformasi dan ketangguhan perempuan Indonesia di panggung bisnis internasional.

Dari bank terbesar di Asia hingga perusahaan teknologi raksasa, berdasarkan data yang dikumpulkan Fortune berikut daftar "Most Powerful Women Asia" tahun ini—menegaskan bahwa perempuan bukan lagi sekadar bagian dari perubahan, mereka juga termasuk arsitek masa depan ekonomi Asia.

10 Perempuan Paling Berpengaruh di Asia 2025

1. Tan Su Shan – CEO DBS Group (Singapura)

Tan Su Shan dikenal sebagai sosok yang “hidup untuk pasar.” Bahkan saat melahirkan pada 1999, ia membawa terminal Bloomberg ke ruang bersalin demi memantau pergerakan yen. Kini, ia mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin DBS Group, bank terbesar di Asia Tenggara. Setelah lebih dari 15 tahun berkarier di DBS, Tan dipercaya menggantikan Piyush Gupta, tokoh legendaris yang mengubah DBS menjadi raksasa finansial kawasan.

Optimistis di tengah ketidakpastian global, Tan menekankan pentingnya inovasi dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), yang ia sebut sebagai “pengubah permainan” bagi dunia perbankan.

 

2. Grace Wang – Chairwoman dan CEO Luxshare Precision Industry (Tiongkok)

Setelah satu dekade bekerja di Foxconn, Grace Wang mendirikan Luxshare bersama saudaranya pada 2004. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan itu menjelma menjadi tulang punggung rantai pasok global, terutama bagi Apple, yang memproduksi AirPods hingga merakit iPhone.

Dengan pendapatan lebih dari USD 37 miliar pada 2024 dan pencatatan ganda di bursa Shenzhen serta Hong Kong, Wang membawa Luxshare menjadi simbol ketahanan industri manufaktur Tiongkok di tengah tensi geopolitik dan kebijakan proteksionis dunia.

 

3. Meng Wanzhou (Sabrina Meng) – Deputy Chairwoman & CFO Huawei (Tiongkok)

Putri pendiri Huawei, Ren Zhengfei, ini kini memegang peran strategis sebagai salah satu ketua bergilir perusahaan. Meng memainkan peran penting dalam memperkuat posisi Huawei di tengah pembatasan ekspor chip oleh Amerika Serikat.

Dengan pendapatan mencapai USD 118 miliar pada 2024, Huawei membuktikan ketangguhannya sekaligus menjadi simbol kemandirian teknologi Tiongkok di panggung global.

 

4. Bonnie Y. Chan – CEO Hong Kong Exchanges and Clearing (Hong Kong SAR)

Bonnie Chan berada di garis depan kebangkitan pasar saham Hong Kong. Di bawah kepemimpinannya, Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX) kembali menjadi magnet bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok dan Asia Tenggara untuk melantai di bursa.

Ia juga dikenal progresif dalam memperjuangkan keberagaman di dunia korporasi. Berkat kebijakan tegas HKEX, hampir seluruh perusahaan publik di Hong Kong kini memiliki perwakilan perempuan di jajaran dewan direksi.

 

5. Kathy Yang Chiu-chin – Rotating CEO Foxconn (Taiwan)

Kathy Yang mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi CEO bergilir di Foxconn, raksasa manufaktur elektronik dunia.

Ia mengawasi operasi global pabrik Foxconn, termasuk logistik, kepatuhan perdagangan, hingga platform rantai pasok JUSDA. Di tengah lonjakan permintaan chip dan perangkat AI, kepemimpinan Yang membawa Foxconn membukukan rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

 

6. Malina Ngai – Group CEO AS Watson (Hong Kong SAR)

Sebagai pemimpin jaringan ritel kesehatan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 gerai, Malina Ngai memimpin ekspansi besar-besaran AS Watson ke berbagai pasar Eropa dan Asia.

Bernaung di bawah konglomerasi CK Hutchison, Ngai sukses menjadikan bisnis ritel sebagai tulang punggung utama pendapatan grup. Di luar dunia bisnis, ia juga dikenal sebagai mantan atlet Hong Kong yang menanamkan semangat sportivitas dan disiplin dalam gaya kepemimpinannya.

 

7. Roshni Nadar Malhotra – Chairperson HCLTech (India)

Putri miliarder teknologi Shiv Nadar ini kini menjadi perempuan terkaya di India sekaligus simbol keberlanjutan kepemimpinan generasi baru.

Sebagai Ketua HCLTech, Roshni berfokus pada transformasi digital dan penerapan AI di sektor teknologi. Ia juga aktif dalam kegiatan filantropi, mendukung pendidikan di pedesaan dan pelestarian alam, serta mendorong lebih banyak perempuan berkarier di bidang teknologi.

 

8. Choi Soo-yeon – CEO Naver (Korea Selatan)

Choi Soo-yeon menjadi wajah baru kebangkitan teknologi Korea. Di bawah kepemimpinannya, Naver—raksasa teknologi di balik mesin pencari terbesar di Korea—terus memperluas bisnis e-commerce dan cloud computing.

Choi juga mendorong inovasi “sovereign AI”, model kecerdasan buatan yang disesuaikan dengan budaya dan konteks tiap negara. Visi ini membuat Naver menjadi pionir AI Asia yang berdaulat secara digital.

 

9. Makiko Ono – CEO Suntory Beverage & Food (Jepang)

Makiko Ono menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin perusahaan Jepang dengan valuasi di atas JPY 1 triliun. Di bawah kepemimpinannya, bisnis minuman non-alkohol Suntory mencetak rekor pendapatan pada tahun fiskal terakhir.

Ono ingin membuka lebih banyak peluang bagi perempuan di dunia korporasi Jepang, yang masih didominasi pria. “Kami membuka pintu agar generasi berikutnya bisa melangkah lebih jauh,” ujarnya kepada Fortune.

 

10. Mitsuko Tottori – Presiden dan CEO Japan Airlines (Jepang)

Mitsuko Tottori merupakan Wanita Perempuan pertama yang memimpin maskapai nasional Jepang, Perusahaan penerbangan terkenal asal Jepang, Japan Airlines. Ia memulai kariernya sebagai pramugari dan kepala bagian pelanggan.

Dibawah kepemimpinananya, maskapai ini melaporkan pendapatan sebesar USD 12,7 miliar untuk tahun fiskalnya (yang berakhir pada bulan Maret)—sebuah rekor bagi maskapai ini, karena wisatawan terus berdatangan ke Jepang.

Ada 2 dari Indonesia

75. Maya Watono – CEO Aviasi Pariwisata InJourney (Indonesia)

Sosok muda yang menginspirasi, Maya Watono dipercaya memimpin "holding" pariwisata dan penerbangan BUMN, InJourney, sejak 2024.

Di bawah kepemimpinannya, InJourney mencatat lonjakan laba bersih hingga 120 persen pada 2024, menandai kebangkitan sektor pariwisata pascapandemi. Sebelumnya, Maya juga dikenal sebagai perempuan pertama dan termuda yang menjabat CEO Dentsu Indonesia.

Visi Maya jelas: menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata kelas dunia yang terintegrasi dan berdaya saing global.

 

91. Sandra Sunanto – CEO Hartadinata Abadi (Indonesia)

Sandra Sunanto membawa sentuhan akademik dan ketekunan dalam memimpin bisnis perhiasan raksasa Hartadinata Abadi.

Di bawah arahannya, perusahaan tersebut membukukan pendapatan lebih dari USD 1,2 miliar dan menempati peringkat ke-244 dalam daftar "Southeast Asia 500".

Selain sebagai pelaku bisnis, Sandra juga dikenal sebagai pendidik dan mantan dosen di Universitas Katolik Parahyangan—membuktikan bahwa kepemimpinan bisa berakar dari ruang kuliah hingga ruang rapat korporasi.

 

Daftar "Most Powerful Women Asia 2025" tidak sekadar menampilkan kekuatan ekonomi, tetapi juga perubahan paradigma. Dari Singapura hingga Indonesia, para pemimpin perempuan ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan beradaptasi, membangun visi, dan menginspirasi generasi berikutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6