PM Jepang Shigeru Ishiba Mengundurkan Diri, Begini Gerak Indeks Nikkei dan Yen

Perdana Menteri (PM) Jepang Shigeru Ishiba mengumumkan pengunduran dirinya setelah kurang dari setahun menjabat.

Diterbitkan 08 September 2025, 16:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengejutkan mengumumkan pengunduran diri pada Minggu, 7 September 2025. Keputusan ini datang setelah menjabat kurang dari setahun, menyusul kekalahan koalisi partainya dalam pemilihan parlemen yang menyebabkan hilangnya mayoritas di kedua majelis legislatif.

Pengunduran diri ini memicu reaksi signifikan di pasar keuangan Jepang, dengan indeks Nikkei melonjak tajam dan nilai tukar Yen melemah.

Ishiba menyatakan pengunduran dirinya dilakukan setelah negosiasi tarif dengan Amerika Serikat mencapai tonggak penting, sebuah isu yang ia gambarkan sebagai 'krisis nasional'.

PM Jepang ini juga menyampaikan penyesalan mendalam karena merasa gagal memenuhi harapan sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP). Pengunduran diri ini diharapkan dapat mencegah 'perpecahan besar' di dalam tubuh LDP yang semakin memanas.

Pengumuman ini, yang disampaikan di Tokyo, telah menimbulkan spekulasi luas mengenai masa depan politik Jepang dan stabilitas koalisi yang berkuasa. Ishiba akan tetap menjabat sebagai Perdana Menteri hingga penggantinya terpilih, memberikan waktu bagi LDP untuk melakukan pemilihan ketua partai yang baru.

Dampak Pengunduran Diri PM Ishiba terhadap Pasar Keuangan Jepang

Seiring pengunduran diri Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba pada akhir, bursa saham Jepang menguat signifikan.

Mengutip CNBC, Senin (8/9/2025), indeks Nikkei 225 di Jepang naik 1,45% dan ditutup ke posisi 43.643,81. Hal ini seiring pernyataan perdana menteri yang muncul setelah tekanan yang meningkat selama berminggu-minggu atas kekalahannya dalam pemilihan nasional akhir tahun lalu.

Selain itu, indeks Topix naik 1,06% dan ditutup di rekor tertinggi di 3.138,2. Di sisi lain, Yen Jepang melemah 0,64% menjadi 148,33 terhadap dolar AS, sedangkan obligasi Jepang terus mengalami aksi jual.

Mengutip CNBC, Menteri Pertanian Koizumi Shinjiro kemungkinan besar akan menjadi kandidat kuat untuk memimpin. Demikian disampaikan Kepala Ekonom Moody’s Analytics dalam sebuah catatan pada Senin pekan ini.

Sementara itu, Sanae Takaichi, anak didik mendiang Perdana Menteri Abe Shinzo dan runner-up dalam kontes partai tahun lalu juga merupakan kandidat utama.

Manajer Portfolio di Comgest, Richard Kaye menuturkan, respons pasar yang sangat positif pada Senin memang sedikit mengejutkan. Namun, hal itu mencerminkan antusiasme yang menyelimuti Koizumi dan Takaichi.

Kaye menunjukkan calon penerus Takaichi yang bersemangat tentang deregulasi dan tidak terlalu tertarik pada kenaikan suku bunga. “Kemungkinan besar merupakan kandidat yang akan mendorong pertumbuhan dan dia akan membenarkan reli pasar hari ini,” ujar dia.

Imbal Hasil Obligasi

Imbal hasil obligasi 30 tahun Jepang naik lebih dari 4 basis poin menjadi 3,272% setelah mencapai rekor tertinggi Rabu lalu. Hal ini terjadi setelah melonjak lebih dari 100 basis poin tahun ini. Imbal hasil obligasi 20 tahun lebih dari 3 basis poin menjadi 2,676%.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang telah mencapai rekor tertinggi baru karena investor memperhitungkan inflasi yang terus berlanjut, kebijakan moneter yang lebih ketat, serta ketidakpastian fiskal.

Alasan Pengunduran Diri

Keputusan mundur Ishiba disebut dipengaruhi pertemuannya pada Sabtu dengan Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi serta mentornya, mantan PM Yoshihide Suga, yang menyarankan agar ia angkat kaki sebelum pemungutan suara partai pada Senin.

Mengutip Kanal Global Liputan6.com, sebelumnya, Ishiba berkukuh ingin bertahan dengan alasan Jepang tengah menghadapi tantangan besar, mulai dari tarif dagang Amerika Serikat dan dampaknya terhadap perekonomian, inflasi, reformasi kebijakan beras, hingga meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan.

Namun, sejak LDP merilis laporan evaluasi kekalahan pemilu pekan lalu yang menyerukan “perombakan total” partai, suara-suara yang mendesak pengunduran diri Ishiba atau pemilihan kepemimpinan lebih awal semakin menguat.

Bursa Saham Asia Pasifik

"Jepang kini bersiap menghadapi periode ketidakpastian yang berkepanjangan hingga kuartal keempat 2025," tulis analis dari BMI, unit Fitch Solutions.

 "Meskipun pemimpin LDP berikutnya biasanya akan otomatis menjadi perdana menteri, secara teoritis oposisi mungkin dapat bersatu di bawah kandidat pesaing untuk jabatan perdana menteri."

Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,45% menjadi 3.219,59, sementara indeks Kosdaq berkapitalisasi kecil melonjak 0,89% menjadi 818,6.

Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,8%, sementara indeks CSI 300 Tiongkok daratan naik 0,16% menjadi 4.467,57 setelah ekspor Tiongkok pada Agustus naik 4,4% dalam dolar AS, lebih rendah dari perkiraan, dibandingkan tahun sebelumnya. Para ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan kenaikan sebesar 5,0%. Impor juga tumbuh lebih rendah dari perkiraan karena kemerosotan sektor properti yang berkelanjutan, meningkatnya ketidakpastian pekerjaan, dan faktor-faktor lainnya.

Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 melemah 0,24% dan mengakhiri perdagangan di level 8.849,6. Indeks Nifty 50 Indiamenguat 0,44%, sementara indeks Sensex menguat 0,34%.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6