Harga Minyak Mentah Anjlok, Pelaku Pasar Waspadai Potensi Pelonggaran Sanksi Rusia

Trump tiba di Alaska pada Jumat dan menyatakan ingin segera melihat gencatan senjata dalam konflik Rusia dengan Ukraina. Hasil dari pembicaraan akan menjadi arah gerak harga minyak dunia.

Diterbitkan 16 Agustus 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/8/2025) menjelang pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska.

Pertemuan ini dinilai berpotensi menghasilkan kesepakatan gencatan senjata di Ukraina sekaligus membuka peluang pelonggaran sanksi terhadap Moskow.

Mengutip CNBC Sabtu (16/8/2025), Minyak mentah berjangka Brent ditutup turun USD 0,99 atau 1,5% menjadi USD 65,85 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah USD 1,16 atau 1,8% ke USD 62,80 per barel.

Trump tiba di Alaska pada Jumat dan menyatakan ingin segera melihat gencatan senjata dalam konflik Ukraina. Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa Rusia siap mengakhiri perang, namun memperingatkan akan menjatuhkan sanksi sekunder bagi negara-negara yang tetap membeli minyak Rusia jika perundingan tidak membuahkan hasil.

Putin, yang juga telah tiba di Anchorage, melalui juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, menyampaikan harapan bahwa pembicaraan akan memberikan hasil positif.

 

Ancaman Trump

Wakil Presiden Senior BOK Financial Dennis Kissler mengatakan, pertemuan antara dua pimpinan dunia ini dapat memicu ketegangan di pasar minyak.

“Trump kemungkinan akan mengancam tekanan tarif lebih lanjut terhadap India dan mungkin China jika pembicaraan menemui jalan buntu. Sebaliknya, pengumuman gencatan senjata akan menjadi sentimen negatif bagi harga minyak mentah dalam jangka pendek,” jelasnya.

Prospek eskalasi konflik semacam ini menciptakan ketidakpastian yang besar, dan secara umum dapat menekan harga minyak karena potensi perlambatan ekonomi global.

Pergerakan harga minyak sepanjang minggu ini telah mencerminkan sentimen pasar yang berhati-hati. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun sebesar 1,7%, sementara harga minyak Brent melemah 1,1%. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar sudah mengantisipasi atau bereaksi terhadap kemungkinan dinamika baru yang akan muncul.

 

Data Ekonomi China

Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi kekhawatiran permintaan bahan bakar yang melemah di China. Data resmi menunjukkan output industri pada Juli tumbuh pada laju terendah dalam delapan bulan, sementara penjualan ritel meningkat paling lambat sejak Desember.

Produksi kilang minyak China naik 8,9% secara tahunan pada Juli, namun menurun dibandingkan Juni yang merupakan level tertinggi sejak September 2023. Ekspor produk minyak juga meningkat, menandakan lemahnya konsumsi domestik.

Di sisi suplai, prospek surplus minyak global semakin besar. Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak AS naik satu menjadi 412 unit pekan ini.

Sementara itu, analis Bank of America memproyeksikan surplus rata-rata 890.000 barel per hari dari Juli 2025 hingga Juni 2026, seiring meningkatnya pasokan dari OPEC+.

Prediksi ini sejalan dengan laporan Badan Energi Internasional (IEA) awal pekan yang menyebut pasar minyak global membengkak akibat peningkatan produksi OPEC+.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6