Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Indonesia Tetap Terjaga, Ini Buktinya

Aktivitas ekonomi global pada semester pertama 2025 menunjukkan perbaikan signifikan. Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan global dan Indonesia untuk 2025 dan 2026.

Diterbitkan 04 Agustus 2025, 15:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 30 Juli 2025.

"Anggota Dewan Komisioner OJK dapat disampaikan bahwa Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 30 Juli 2025 menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam konferensi pers RDKB Juli 2025, Senin (4/8/2025).

Mahendra mengatakan, walaupun perekonomian global masih diliputi ketidakpastian, OJK menilai bahwa kondisi domestik mampu mempertahankan ketahanan sektor keuangan nasional. Penilaian ini didasarkan pada indikator ekonomi utama dan kebijakan yang tetap akomodatif.

Ia menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi global pada semester pertama 2025 menunjukkan perbaikan signifikan. Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan global dan Indonesia untuk 2025 dan 2026. Hal ini turut menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar dan lembaga jasa keuangan di dalam negeri.

"Dalam laporan terbarunya, IMF meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2025 dan 2026," ujarnya.

Peningkatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal seperti meredanya tensi perang dagang dan kesepakatan tarif antara Amerika Serikat dengan sejumlah mitra dagangnya.

"Lalu, tarif resiprokal AS lebih rendah dari yang diumumkan sebelumnya, perbaikan likuiditas global, serta kebijakan fiskal yang akomodatif. Tensi perang dagang mereda seiring dengan kesepakatan tarif antara AS dengan beberapa negara mitra utama," ujarnya.

Kebijakan fiskal global yang akomodatif dan membaiknya likuiditas turut memperkuat keyakinan pasar. OJK menilai faktor-faktor tersebut mendukung stabilitas dan pertumbuhan sektor keuangan Indonesia.

 

Indikator Ekonomi Semakin Kuat

Menurut OJK, indikator ekonomi global dan domestik sama-sama menunjukkan tren yang menguat. Kinerja manufaktur dan perdagangan internasional mengalami perbaikan, sementara pertumbuhan ekonomi negara utama seperti AS dan Tiongkok pada kuartal II-2025 tercatat lebih tinggi dari ekspektasi.

Hal ini berdampak positif terhadap persepsi risiko global dan mendorong arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pasar keuangan global juga menguat, ditandai dengan meningkatnya aktivitas investor dan menurunnya volatilitas. Fenomena risk-on ini membuat investor kembali mengalirkan dana ke emerging markets.

"Sejalan dengan itu, indikator ekonomi global menunjukkan tren membaik dan tercatat di atas ekspektasi. Ditunjukkan oleh kinerja manufaktur dan perdagangan global yang meningkat serta rilis pertumbuhan beberapa negara utama di kuartal ke-II 2025 seperti AS dan Tiongkok yang lebih baik dibandingkan ekspektasi sebelumnya," ujarnya.

 

Sisi Domestik

Di sisi domestik, permintaan masyarakat masih terjaga. Hal ini terlihat dari inflasi yang rendah dan pertumbuhan uang beredar yang berada dalam tren positif. Dengan daya beli yang relatif stabil, lembaga keuangan pun memiliki ruang untuk memperluas layanan intermediasi mereka.

Meskipun neraca perdagangan tetap surplus dan cadangan devisa berada di tingkat tinggi, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur masih berada di zona kontraksi. Ini menjadi perhatian agar upaya pemulihan ekonomi tetap merata di semua sektor.

"Indikator sisi penawaran masih mix dengan surplus neraca perdagangan yang persisten dan cadangan defisa di level yang tinggi. Meskipun PMI Manufaktur masih di zona kontraksi," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6