Alasan Bank Sentral Global Perkuat Cadangan Emas Melalui Tambang Domestik

World Gold Council mencatat, beberapa bank sentral, terutama di Afrika dan Amerika Latin, mulai membeli emas langsung dari tambang emas domestik skala kecil

Diterbitkan 17 Juli 2025, 17:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laporan terbaru dari World Gold Council (WGC) mengungkapkan sejumlah bank sentral di dunia kini semakin berupaya memperkuat cadangan emas mereka. 

Bank-bank sentral kini beralih ke tambang di dalam negara mereka untuk memperkuat cadangan logam mulia tersebut. Selain lebih murah, mengamankan emas langsung dari tambang membantu mendukung industri lokal dan memperkuat cadangan tanpa membebani cadangan devisa.

Mengutip CNBC International, Kamis (17/7/2025), World Gold Council mencatat, saat ini semakin banyak bank sentral yang memiliki akses ke tambang emas domestik telah memulai, meningkatkan, atau sedang mempertimbangkan pembelian lokal langsung.

19 dari 36 responden survei bank sentral terbaru World Gold Council menunjukkan, bank sentral membeli emas langsung dari penambang emas skala kecil dan artisanal domestik dalam mata uang lokal. 

WGC juga mencatat, 4 bank sentral sedang mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan survei tahun lalu, ketika sekitar 14 dari 57 bank sentral mengatakan mereka membeli langsung emas dari sumber domestik.

"Salah satu tren yang kami amati adalah beberapa bank sentral, terutama di kawasan Afrika dan Amerika Latin, mulai membeli emas langsung dari tambang emas domestik skala kecil, yang jumlahnya semakin banyak karena harganya yang lebih tinggi," kata Shaokai Fan, kepala bank sentral global di WGC.

Bank-bank sentral Kolombia, Tanzania, Ghana, Zambia, Mongolia, dan Filipina mengandalkan emas yang ditambang di dalam negeri untuk membangun cadangan, menurut badan industri tersebut.

Dewan Emas Ghana, badan negara yang mengelola pembelian emas atas nama Bank Sentral Ghana pada April 2025 berhasil mencapai kesepakatan dengan beberapa perusahaan pertambangan untuk membeli 20% dari produksi emas mereka, menurut laporan yang dipublikasikan Reuters.

Selain itu, pada September 2024, otoritas pertambangan Tanzania dilaporkan mewajibkan semua eksportir emas, termasuk penambang dan pedagang, menyisihkan setidaknya 20% dari produksi mereka untuk dijual ke bank sentral dalam negeri.

"Bisa dibilang lebih murah daripada membeli emas di pasar internasional, karena banyak bank sentral ini membeli emas dengan sedikit diskon dari harga internasional," ungkap Fan.

Bagaimana Bank Sentral Kumpulkan Emas?

Secara tradisional, bank sentral memperoleh emas melalui pasar global over-the-counter, yang biasanya berpusat di London, yamg menjadi lokasi bagi emas ditransaksikan melalui bank-bank bullion besar, dengan harga dalam dolar AS, euro, atau poundsterling.

Pembelian ini sering kali melibatkan batangan London Good Delivery atau LGD dengan kemurnian tinggi, yang memenuhi standar perdagangan global dan disimpan di brankas-brankas terkemuka seperti yang ada di Bank of England.

Hal ini karena harga emas yang melonjak dan daya tariknya sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik, bank sentral negara-negara produsen kini beralih ke produksi domestik, ungkap Adrian Ash, direktur riset di perusahaan investasi emas BullionVault.

Harga Emas Dunia Kian Melonjak Dorong Pembelian Dalam Negeri

Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas dunia telah melihat lonjakan yang cukup besar, mencapai titik tertinggi baru di tengah ketidakpastian geopolitik dan memudarnya kepercayaan terhadap aset safe haven tradisional lainnya.

Harga emas spot saat ini diperdagangkan pada USD 3.328,3 per ons, naik hampir 27% year-to-date, data dari LSEG menunjukkan. Membeli hasil tambang domestik menghemat biaya perbankan dan perantara, serta biaya pengiriman.

Namun, negara-negara perlu membayar untuk pemrosesan dan pemurnian logam tersebut hingga mencapai standar LGD — standar internasional de facto untuk emas batangan besar. 

Proses ini perlu dilakukan di luar negeri jika negara tersebut tidak memiliki fasilitas pemurnian LGD domestik, yang akan menambah biaya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6