Harga Minyak Mentah Naik 2% di Tengah Ancaman Surplus dan Ketatnya Pasar

Harga minyak menguat lebih dari 2% didorong ketatnya pasokan jangka pendek dan lonjakan permintaan musim liburan, meski IEA memperingatkan potensi surplus besar tahun ini.

Diterbitkan 12 Juli 2025, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah naik lebih dari 2% pada perdagangan hari Jumat. Kenaikan harga minyak ini karena investor mempertimbangkan ketatnya pasar minyak mentah terhadap potensi surplus besar tahun ini yang diproyeksikan oleh International Energy Agency (IEA).

Sementara tarif AS dan kemungkinan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia juga menjadi fokus investor saat ini.

Mengutip CNBC, Sabtu (12/7/2025), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,72 atau 2,51% dan ditutup pada USD 70,36 per barel. Untuk harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik USD 1,88 atau 2,82% menjadi USD 68,45 per barel.

Pada level tersebut, Brent diperkirakan akan naik 1,6% minggu ini, sementara WTI naik sekitar 0,6% dari penutupan minggu lalu.

IEA mengatakan pada hari Jumat bahwa pasar minyak global mungkin lebih ketat daripada yang terlihat, dengan permintaan yang didukung oleh puncak operasional kilang di musim panas untuk memenuhi kebutuhan perjalanan dan pembangkit listrik.

Kontrak Brent untuk bulan September diperdagangkan dengan premi USD 1,11 terhadap kontrak berjangka Oktober.

“Warga sipil, baik yang bepergian menggunakan pesawat maupun yang bepergian menggunakan kendaraan pribadi menunjukkan keinginan yang kuat untuk liburan,” ujar analis PVM, John Evans, dalam sebuah catatan pada hari Jumat.

IEA meningkatkan proyeksi pertumbuhan pasokan tahun ini, sekaligus memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan, yang menyiratkan pasar surplus.

“OPEC+ akan segera dan secara signifikan meningkatkan pasokan minyak. Ada ancaman kelebihan pasokan yang signifikan. Namun, dalam jangka pendek, harga minyak tetap terdukung,” ujar analis Commerzbank dalam sebuah catatan.

 

Produksi Rusia

Menambah dukungan terhadap prospek jangka pendek, Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, mengatakan pada hari Jumat bahwa Rusia akan mengkompensasi kelebihan produksi terhadap kuota OPEC+ tahun ini pada bulan Agustus-September.

Tanda lain dari permintaan minyak yang kuat adalah prospek Arab Saudi mengirimkan sekitar 51 juta barel minyak mentah ke Tiongkok pada bulan Agustus, pengiriman terbesar dalam lebih dari dua tahun.

Namun, dalam jangka panjang, lembaga peramalan saingan OPEC memangkas proyeksi permintaan minyak global pada tahun 2026 menjadi 2029 karena melambatnya permintaan China, demikian pernyataan kelompok tersebut dalam Prospek Minyak Dunia 2025 yang diterbitkan pada hari Kamis.

Kedua kontrak berjangka acuan turun lebih dari 2% pada hari Kamis karena investor khawatir tentang dampak kebijakan tarif Trump yang terus berkembang terhadap pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak.

"Harga telah pulih dari penurunan ini setelah Presiden Trump mengatakan ia berencana untuk membuat pernyataan besar tentang Rusia pada hari Senin. Hal ini dapat membuat pasar khawatir tentang potensi sanksi lebih lanjut terhadap Rusia," tulis analis ING dalam catatan klien.

 

Pembatasan Harga

Trump telah menyatakan frustrasi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin karena kurangnya kemajuan dalam perdamaian dengan Ukraina dan meningkatnya pemboman Rusia terhadap kota-kota Ukraina.

Komisi Eropa akan mengusulkan pembatasan harga minyak mengambang untuk Rusia minggu ini sebagai bagian dari rancangan paket sanksi baru, tetapi Rusia mengatakan pihaknya memiliki "pengalaman yang baik" dalam mengatasi dan meminimalkan tantangan tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6