Usaha Mikro Bakal Kena Dampak, Pemerintah Diminta Tak Kerek Harga BBM Imbas Perang Iran-Israel

Kenaikan harga minyak mentah dunia dikhawatirkan ikut mempengaruhi harga BBM di dalam negeri. Alhasil, pelaku usaha mikro akan menjadi pihak yang paling terdampak.

Diterbitkan 25 Juni 2025, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumandiri) menyoroti potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) imbas memanasnya perang Iran-Israel. Pemerintah diminta mampu menahan harga agar tidak jadi beban, khususnya kepada usaha mikro.

Ketua Umum Akumandiri, Hermawati Setyorinny menyampaikan kenaikan harga minyak mentah dunia dikhawatirkan ikut mempengaruhi harga BBM di dalam negeri. Alhasil, pelaku usaha mikro akan menjadi pihak yang paling terdampak.

"Nah itu harusnya ada pemerintah harus hadir di pihak di sisi pelaku usaha mikro ya yang kita omongin bukan yang gede-gede ya. Tapi mikro dia ada di posisi itu, jadi tetap kalau bisa ya tidak dinaikkan harganya (BBM)," kata Hermawati saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (25/6/2025).

Menurutnya, selain menaikkan harga BBM imbas meningkatnya harga minyak dunia, pemerintah bisa mengalokasikan lebih dari efisiensi anggaran lain. Pasalnya, BBM menjadi salah satu komponen dalam penentuan biaya pokok produksi usaha mikro.

"Jadi kayaknya itu sih elemen penting ya dalam untuk berusaha sebenarnya kan di minyak di bahan bakar itu. Kalau itu terjadi ya karena kalau itu terjadi pasti harga barang-barang juga naik," kata dia.

"Enggak cuman se simple itu gitu ya, pasti semuanya akan naik. Nah itu kayaknya pemerintah harus ada regulasi kebijakan dan berpihak kepada, bukan hanya berpihak, tapi ada di posisi masyarakat kecil gitu," tegas Hermawati.

 

UMKM Lokal Terganggu

Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mengatakan ketegangan imbas perang Iran dan Israel akan berdampak ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia. Hal ini bisa terjadi jika perang mengganggu stabilitas ekonomi global dan merembet ke Tanah Air.

Menurutnya, UMKM menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Namun, pada saat yang sama menjadi yang paling rentan terkena dampak krisis energi imbas geopolitik global.

"UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Tapi di tengah ancaman krisis energi dan geopolitik, mereka juga yang paling rentan. Kenaikan bahan bakar, bahan baku, dan logistik bisa mengguncang stabilitas usaha kecil," kata Anggawira saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (25/6/2025).

 

Apa yang Perlu Dilakukan?

Dia turut meminta pelaku usaha swasta dan pemerintah mengambil upaya antisipasi. Misalnya melalui penguatan ekosistem digital UMKM serta membuka pasar ekspor mikro melalui agregator ekspor dan e-commerce lintas batas.

Setidaknya ada 3 poin yang menurutnya perlu dilakukan untuk memperkuat UMKM menghadapi ancaman krisis ekonomi. Pertama, akses likuiditas dan pembiayaan murah.

Kedua, pelatihan manajemen risiko dan efisiensi operasional. "(Ketiga) Konsolidasi koperasi atau platform kolektif untuk pembelian bahan baku," tegas Anggawira.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6