Berapa Harga Besi Bekas yang Diduga Jadi Rebutan Warga di Kasus Ledakan Amunisi Garut?

Salah satu pemilik lapak besi tua di kawasan Batutulis, Kota Bogor, Irda (45) mengungkapkan soal harga jual besi tua atau besi bekas ke lapaknya.

Diterbitkan 15 Mei 2025, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keterlibatan warga dalam operasi peledakan amunisi kedaluarsa di Garut, Jawa Barat diduga karena perebutan besi bekas. Lantas, berapa sebenarnya harga besi bekas?

Meledaknya amunisi kedaluarsa itu menewaskan setidaknya 13 orang. Dengan 4 merupakan anggota TNI dan 9 lainnya merupakan warga sipil, yang diduga mencaribesi bekas. Perlu diketahui, belum ada keputusan final mengenai keterlibatan warga sipil dalam aktivitas peledakan amunisi kedaluarsa tersebut.

Salah satu pemilik lapak besi tua di kawasan Batutulis, Kota Bogor, Irda (45) mengungkapkan soal harga jual besi tua atau besi bekas ke lapaknya. Saat ini, diakui harganya sedang rendah, di Rp 4.000 per kilogram.

"Buat besi padat itu Rp 4.000 per kilo. Ini harganya emang lagi turun," kata Irda, saat ditemui Liputan6.com, Rabu (15/5/2025).

Hal yang sama diakui oleh pengepul besi tua lainnya, Sandi (40). Di lapaknya, dia memberikan harga Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per kilogram untuk jenis besi. Padahal, jika dalam kondisi bagus, harganya bisa sampai Rp 6.000 per kilogram.

"Harga lagi hancur, merosot jauh, terutama jenis besi. Sekarang Rp 3.500-4.000 per kilogram, biasanya Rp 4.500-6.000 per kilogram," ucapnya kepada Liputan6.com.

 

Ambil Keuntungan Tipis

Saat berbincang, Irda juga mengisahkan kalau pendapatannya sebagai pemilik lapak besi tua menyusut dalam beberapa bulan terakhir. Apalagi dengan margin keuntungan yang diambilnya ketika menjual besi-besit tua miliknya ke pabrik pengolahan untuk daur ulang.

Dia mengisahkan, harga beli Rp 4.000 itu setidaknya sudah bertahan selama lebih dari 1 tahun. Alhasil, pendapatannya pun ikut susut karena harga jual ke pabrik ikut turun.

"Kalau lapak kecil kita cuma ngambil untung Rp 500 buat jual ke pabrik. Kalau pengepul besar biasanya ambil Rp 1.000 per kilogram. Tapi emang pabriknya juga lagi susah (mengambil barang dari lapak/pengepul)," tuturnya.

 

Sering Dapat Skala Kecil

Irda mengaku mebih sering mendapatkan pasokan besi tua dari perorangan dengan skala kecil. Biasanya, orang-orang mendatangi lapaknya dengan membawa kantong kresek berisi besi tua.

Seperti pantauan Liputan6.com, setidaknya ada 3 orang yang membawa kresek berisi besi padat, kaleng, hingga kawa yang sudah berkarat untuk ditimbang.

"Seringnya begitu (orang membawa besi ke lapak). Jarang dapat borongan atau bongkaran," katanya.

 

Masih Ada Belum Terjual

Dia mengatakan masih banyak barang yang belum terjual ke pabrik yang biasanya menerima pasokan besi bekas darinya. Padahal, ada besi bekas karoseri di lapaknya itu.

Harga besi itu berbeda dari nilai besi yang dibawa secara perorangan. Dia mengaku membayar besi bekas karoseri senilai Rp 5.000 per kilogram. Hanya saja, sudah dua bulan barang itu belum terjual kembali.

"Itu ada besi bekas karoseri, belum laku terjual. Kalau dijual juga masih rugi, pabrik mintanya Rp 5.000 (per kilogram), padahal saya juga beli harga segitu, ya gak untung," tuturnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6