Survei Kearney: Nilai Investasi Tembus USD 13,6 Miliar, Indonesia Kian Dilirik Investor Global

Indonesia berhasil menarik investasi sebesar USD 13,6 miliar pada tahun 2024. Tak heran jika negara ini terus memposisikan diri sebagai pasar yang menjanjikan bagi investor yang ingin memperluas jejak bisnisnya.

Diterbitkan 14 Mei 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Global Business Policy Council dari Kearney merilis Foreign Direct Investment (FDI) Confidence Index 2025, sebuah survei yang menggambarkan sentimen investor terhadap arus Foreign Direct Investment (FDI) dalam tiga tahun ke depan.

Kawasan Asia Tenggara masih menarik daya tarik tersendiri bagi investor dengan Indonesia berhasil menempati posisi ke-12 dalam 15 besar Emerging Market Index. Para investor menyebutkan bahwa talenta dan keterampilan tenaga kerja (32%) serta sumber daya alam (27%) – sebagai produsen nikel terbesar di dunia dan penghasil utama tembaga, emas, bauksit, serta industri logam – adalah alasan utama untuk berinvestasi.

Pada 2024, minat investor utamanya didorong oleh kapabilitas teknologi dan inovasi Indonesia, yang mencakup 17%. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 21% pada 2025.

Didorong oleh faktor-faktor utama tersebut, Indonesia berhasil menarik investasi sebesar USD 13,6 miliar pada tahun 2024. Tak heran jika negara ini terus memposisikan diri sebagai pasar yang menjanjikan bagi investor yang ingin memperluas jejak bisnisnya.

Regional Chair Asia Pasifik Kearney Shigeru Sekinada menjelaskan, perkembangan pesat dalam bidang teknologi dan kinerja ekonomi di kawasan Asia Pasifik tengah membentuk ulang lanskap investasi.

"Lompatan Jepang dan pencapaian bersejarah Korea Selatan menunjukkan kekuatan inovasi serta fundamental pasar yang solid, bahkan di tengah langkah tarif baru dari Amerika Serikat yang menambah kompleksitas dalam dinamika perdagangan global,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Rabu (14/5/2025).

Tren-tren ini semakin menegaskan bahwa investasi di bidang inovasi yang strategis dan visioner akan menjadi penggerak pertumbuhan yang berkelanjutan dan regeneratif di kawasan kita, di tengah dinamika global yang terus berkembang. Meski demikian, pelaku bisnis juga perlu melakukan perencanaan skenario saat menghadapi tarif dan bersiap terhadap risiko-risiko yang muncul.

"Sektor-sektor seperti otomotif dan manufaktur diperkirakan akan terdampak cukup berat, di samping tantangan biaya dan regulasi yang sudah ada,” ujar Shigeru Sekinada.

 

Hambatan Regional Membatasi Optimisme

Sentimen investor juga dipengaruhi oleh ketidakpastian yang meningkat. Sekitar 43 persen investor di Asia Pasifik yang disurvei memandang kenaikan harga komoditas sebagai perkembangan paling mungkin terjadi dalam satu tahun ke depan, naik tajam 14 persen dibandingkan tahun lalu.

Kenaikan ini kemungkinan disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap meningkatnya konflik global dan gangguan rantai pasok yang berpotensi mendorong lonjakan harga komoditas.

Tiongkok turun dari posisi ke-3 ke posisi ke-6, mencerminkan tantangan ekonomi yang sedang berlangsung, termasuk krisis properti yang berkepanjangan dan meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok. Meskipun demikian, inovasi teknologi di negara tersebut masih menjadi daya tarik, seperti yang tercermin dari peluncuran DeepSeek AI baru-baru ini.

 

Tantangan Tarif

Lebih lanjut, penurunan peringkat Singapura dari posisi ke-12 ke posisi ke-15 dan India dari posisi ke-18 ke posisi ke-24 menyoroti adanya peningkatan kekhawatiran terkait risiko perdagangan dan kompleksitas regulasi.

Shigeru Sekinada menambahkan, meskipun kawasan ini terus menunjukkan kekuatan yang signifikan, Kearney juga menyadari bahwa terdapat tantangan yang juga muncul di tengah lanskap global yang terus berubah.

"Sebagai contoh, tarif baru dari Amerika Serikat telah berdampak pada negara-negara Asia Tenggara serta penerima manfaat utama dari strategi China +1," kata dia.

Terlepas dari tantangan tersebut, pasar Asia Pasifik tetaplah menarik berkat fundamentalnya yang kuat—seperti inovasi berbasis teknologi, talenta yang unggul, dan lingkungan bisnis yang mendukung. Dengan kebijakan yang proaktif dan investasi strategis, kami yakin kawasan ini memiliki kesiapan yang baik untuk membuka nilai jangka panjang di tengah ketidakpastian global.”

 

ASEAN Bersinar di Antara Negara-Negara Berkembang

Kawasan Asia Tenggara terus menunjukkan performa unggul dalam Emerging Market Index yang diluncurkan oleh FDICI pada tahun 2023 untuk menyoroti pasar negara berkembang yang menarik bagi investasi asing langsung (FDI) dalam tiga tahun ke depan. Tiga negara anggota ASEAN-6—Thailand, Malaysia, dan Indonesia—berhasil menempati posisi 15 besar.

Para investor menyebut kualitas dan keterampilan tenaga kerja sebagai alasan utama berinvestasi di Indonesia (32 persen), Thailand (34 persen), dan Malaysia (30 persen).

Selain kualitas sumber daya manusia, Indonesia juga menonjol berkat kekayaan sumber daya alamnya (28 persen). Indonesia hadir sebagai destinasi utama untuk proyek greenfield, salah satunya ditandai oleh investasi senilai USD 11 miliar dari Xinyi Group, produsen kaca dan produk tenaga surya asal Tiongkok.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6