Dihadang Banyak Tantangan, Bos Kadin Pede Ekonomi Indonesia 2024 Moncer

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi masih ada sejumlah hambatan perekonomian nasional di 2024 mendatang. Namun, hal itu diyakini tidak terlalu berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi.

Diterbitkan 23 November 2023, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi masih ada sejumlah hambatan perekonomian nasional di 2024 mendatang. Namun, hal itu diyakini tidak terlalu berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar mengatakan ada sejumlah sektor yang terkenda dampak dari pelemahan ekonomi global. Di sisi lain, adanya fluktuasi suku bunga yang ikut berpengaruh.

"Jadi banyak sekali ada faktor yg bisa menghambat salah satunya para pelaku usaha banyak menunda investasi, kemudian faktor yang terjadi juga sisa barang yang diproduksi stoknya banyak, sehingga mereka mengurangi produksi," tuturnya di Menara Kadin, Jakarta, ditulis Kamis (23/11/2023).

Namun, dari sisi industri, Bobby melihat kemungkinan penguatan ekonomi, menimbang pula tingkat purchasing managers index (PMI) manufaktur yang masih menunjukkan ekspansif. Disamping itu, dia juga membidik pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen.

"Kalau kita bisa tutup di angka 5 persen, prediksi pemerintah juga tahun depan masih dikisaran 5 persen, rasanya 2024 masih menjanjikan," kata dia.

Bobby mengatakan, utamanya pada sektor-sektor yany terkait dengan pasar dalam negeri. Misalnya, makanan dan minuman yang konsumsinya cukup besar untuk dalam negeri.

"Tapi kalau sektor yang untuk tujuan ekspor, nah ini yang kita mesti hati-hati karena market-nya mengecil dan persaingan yang makin kuat dari negara-negara yang berebut pasar yang semakin kecil ini," tuturnya.

 

Makin Baik

Lebih lanjut, Bobby melihat kalau industri makanan minuman akan semakin baik di 2024 mendatang. Sehingga pertumbuhan ekonomi diprediksi tak terlalu jauh dengan perolehan di 2023.

"Jadi 2024 so far angka nya mungkin pertumbuhannya gak terlalu jauh dari 2023, tapi beberapa sektor seperti mamin itu makin baik," katanya.

Sementara itu, ada sektor yang akan tetap tumbuh meski dibayangi oleh besaran suku bunga. Yakni, sektor properti dan kendaraan listrik yang pasarnya mulai terbentuk.

"Kita lihat ada 2 sektor seperti properti dan industri itu terkait dengan suku bunga, kalau suku bunga tinggi itu orang mau kredit menjadi satu konsideran, memang ada pasar baru, tetapi jumlahnya belum besar yaitu di pasar EV atau kendaraan listrik," ungkap Bobby.

 

Ekonomi Syariah

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa ekonomi syariah dan industri halal telah dipandang sebagai sumber mesin pertumbuhan ekonomi baru, tidak hanya di tingkat domestik, tetapi juga di tingkat global.

Potensi ekonomi syariah terutama pasar halal pun kian membesar. Berdasarkan data Pew Research Center's Forum on Religion and Public Life, populasi penduduk muslim di dunia pada tahun 2020 mencapai 1,9 milyar jiwa, dan diperkirakan akan terus bertambah hingga 2,2 milyar jiwa atau 26,5% dari total populasi dunia di tahun 2030.

"Peningkatan angka tersebut akan diiringi oleh semakin meningkatnya permintaan terhadap produk dan jasa halal," kata Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Indonesia Halal Industry Awards 2023, dikutip pada Selasa (24/10/2023).

Agus mengatakan, posisi ekonomi syariah Indonesia di tataran global terus meningkat di berbagai sektor. Hal itu dibuktikan berdasarkan The State of the Global Islamic Economy Report 2022, Indonesia menempati urutan kedua di tahun 2022 pada sektor makanan halal setelah sebelumnya berada di peringkat keempat pada tahun 2021.

Pada sektor modest fashion, Indonesia tetap berada pada tingkat ketiga sepanjang tahun 2021 hingga 2022.

 

Belum Puas

Namun, pada sektor farmasi Indonesia mengalami penurunan ke peringkat 9 di tahun 2022 sementara sebelumnya ada di peringkat keenam pada tahun 2021.

"Secara keseluruhan, indikator ekonomi syariah Indonesia menduduki peringkat ke-4 di dunia selama tahun 2021 hingga 2022," ujarnya.

"Kalau saya sih belum puas ada di peringkat keempat," lanjutnya.

Menanggapi penurunan peringkat pada sektor farmasi, Agus mengatakan "Penurunan ini tentu harus kita cermati. Akan dipelajari negara-negara mana aja yang menyalip Indonesia, dan bagaimana mereka bisa menyalip kita. Itu harus kita petakan."

"Sehingga kita ada benchmark, due diligence, kemudian juga kalau saya pergunakan istilah ofensif, kita bisa counter attack sehingga setidaknya kita bisa mengembalikan farmasi ke peringkat keenam, dan mudah-mudahan bisa meningkat jadi lima besar," tambahnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6