Sukses

Harga Minyak Dunia Anjlok karena Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada perdagangan hari Senin, mengikuti pelemahan pasar saham di Amerika Serikat (AS). Penurunan harga minyak dunia ini terjadi setelah rilis data sektor jasa AS yang menimbulkan kekhawatiran bahwa Bank Sentral AS atau the Fed akan melanjutkan pengetatan kebijakan yang agresif.

Mengutip CNBC, Selasa (6/12/2022), harga minyak mentah berjangka Brent turun USD 2,57 atau 3 persen menjadi USD 83 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun USD 2,67 atau 3,3 persen menjadi USD 77,32 per barel.

Kedua tolok ukur harga minyak dunia ini sebelumnya naik lebih dari USD 2, dan kemudian berbalik arah menuju zona negatif.

Kontrak bulan depan untuk minyak WTI diperdagangkan lebih rendah dari harga setengah tahun. Struktur ini menyiratkan bahwa tengah terjadi kelebihan pasokan di pasar.

Aktivitas industri jasa AS secara tak terduga meningkat pada November, dengan ketenagakerjaan pulih kembali, menawarkan lebih banyak bukti tentang momentum yang mendasari ekonomi karena bersiap menghadapi resesi yang diantisipasi tahun depan.

Berita itu menyebabkan pasar minyak dan saham bergerak ke zona negatif. "Kegelisahan ekonomi makro tentang The Fed dan apa yang akan mereka lakukan pada suku bunga mengambil alih pasar," kata analis grup Price Futures, Phil Flynn.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Keputusan OPEC+

Sedangkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang disebut juga OPEC+, pada Minggu sepakat untuk tetap berpegang pada rencana yang telah dibuat Oktober lalu untuk memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari (bpd) dari November hingga 2023.

"Keputusan itu tidak mengherankan, mengingat ketidakpastian di pasar atas dampak larangan impor minyak mentah Rusia UE 5 Desember dan pembatasan harga G7," kata Ann-Louise Hittle, wakil presiden konsultan Wood Mackenzie.

“Selain itu, kelompok produsen minyak ini juga menghadapi risiko penurunan permintaan dari potensi melemahnya pertumbuhan ekonomi global dan kebijakan nol COVID China.” tambah dia.

Negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dan Australia pekan lalu menyepakati batas harga USD 60 per barel untuk minyak Rusia lintas laut.

 

3 dari 3 halaman

Permintaan China

Pada saat yang sama, sebagai tanda positif untuk permintaan bahan bakar di importir minyak utama dunia, lebih banyak kota di China melonggarkan pembatasan COVID selama akhir pekan.

Aktivitas bisnis dan manufaktur di China, ekonomi terbesar kedua di dunia, tahun ini terpukul oleh langkah-langkah ketat untuk mengekang penyebaran virus corona.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS