Sukses

China Kembali Lockdown Ketat, BI Jaga Rupiah Biar Tak Terkapar

Liputan6.com, Jakarta China kembali mengalami kenaikan kasus COVID-19. Data himpunan Komisi Kesehatan Nasional per 29 November, kasus baru yang dilaporkan mencapai 37.828. Menurut data BBC, saat ini China tengah menyentuh puncak kasus COVID-19 tertingginya, melebihi kasus yang terjadi pada bulan April 2022 lalu.

Kembali untuk menekan penularan Covid-19 tersebut, Pemerintah China pun kembali menjalankan kebijakan lockdown ketat. Kebijakan yang diambil oleh China ini membuat Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry was-was. Alasannya, Kebijakan lockdown Covid-19 di China ini pasti akan berdampak kepada ekonomi Indonesia.

"BI waspada bahwa dunia memang sedang bergejolak, demikian juga lockdown 6 bulan di Tiongkok (China)," kata Perry Warjiyo dalam webinar bertajuk Bank Indonesia Bersama Masyarakat di Jakarta, Jumat (2/12/2022).

Selain kebijakan lockdown, Bank Indonesia juga mewaspadai dampak lanjutan dari perang Rusia dan Ukraina. Perry menilai, dampak perang tersebut dapat menganggu rantai pasok distribusi perdagangan barang dan jasa yang berakibat buruk terhadap perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Dan berkaitan (penguatan) mata uang Dolar (USD) yang begitu kuat juga memberikan tekanan pelemahan terhadap mata uang berbagai negara, termasuk Rupiah," imbuhnya.

Oleh karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi nasional. Antara lain ​memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai dengan kenaikan suku bunga BI7DRR tersebut untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasarannya lebih awal.

Kemudian, memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan tetap berada di pasar sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi, terutama imported inflation melalui intervensi di pasar valas baik melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian/penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Terakhir, melanjutkan penjualan/pembelian SBN di pasar sekunder untuk memperkuat transmisi kenaikan BI7DRR dalam meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN bagi masuknya investor portofolio asing guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kasus COVID-19 di China Melonjak, Kali Ini Lebih Tinggi dari Gelombang Sebelumnya

Saat ini, China tengah kembali mengalami kenaikan kasus COVID-19. Data himpunan Komisi Kesehatan Nasional per 29 November, kasus baru yang dilaporkan hari itu mencapai 37.828.

Pada Rabu, 30 November 2022, dari mereka yang terinfeksi COVID-19 ada 4.288 orang diantaranya yang dinyatakan positif kemarin mengalami gejala, sementara sisanya 33.540 tidak bergejala.

Kasus COVID-19 harian tersebut pun sebenarnya telah menurun bila dibandingkan dengan sehari sebelumnya yang mencapai 38.645 kasus.

Sedangkan merujuk pada data yang dipublikasikan oleh BBC, saat ini China tengah menyentuh puncak kasus COVID-19 tertingginya, melebihi kasus yang terjadi pada bulan April 2022 lalu.

Dalam seminggu, jumlah kasus COVID-19 di China telah mencapai hampir 200 ribu. Infeksi baru terjadi pada seluruh kota. Termasuk Guangzhou, Beijing, Shanghai, dan Chongqing.

Meski sedang terjadi lonjakan kasus, tak menghalang warga China untuk melakukan protes menolak aturan lockdown yang berlaku. Demo besar-besaran berlangsung di sana, banyak warga yang bentrok dengan para polisi di Guangzhou pada Selasa, 29 November 2022.

Seperti diketahui, China memiliki salah satu rezim anti COVID-19 terberat di dunia. Pihak otoritas setempat memberlakukan lockdown meskipun hanya ada segelintir kasus.

Sejauh ini, saat ada kasus baru, tes COVID-19 massal diadakan pada tempat-tempat dimana kasus telah dilaporkan. Warganya yang positif COVID-19 diperbolehkan untuk isolasi di rumah maupun di fasilitas pemerintah.

 

3 dari 4 halaman

Aturan Lockdown di China

Di sisi lain, saat lockdown berlaku, bisnis, pusat pertokoan, dan sekolah ditutup. Kecuali toko yang menjual makanan. Lockdown tersebut akan berlangsung hingga tidak adanya lagi infeksi baru yang dilaporkan.

Alhasil, puluhan juta orang harus berdiam diri di rumah selama lockdown berlangsung. Beberapa otoritas lokal bahkan mengambil tindakan ekstrem dengan memaksa para pekerjanya untuk tidur di dalam pabrik. Gunanya agar para karyawan dapat bekerja selama lockdown berlangsung.

Aturan nol kasus COVID-19 di China menuai protes. Namun, pemerintah China menganggap bahwa hal itu menyelamatkan nyawa karena wabah yang tidak terkendali akan membahayakan banyak orang rentan, termasuk para orang tua.

Akibat lockdown tersebut, ekonomi China pun hanya tumbuh 3,9 persen selama setahun terakhir. Persentase tersebut menurun dibandingkan dengan targetnya sebesar 5,5 persen di tahun 2022.

Angka pengangguran pun meningkat di kalangan anak muda China. Pasar properti melemah hingga ikut memengaruhi bisnis dan konsumen di seluruh dunia.  

4 dari 4 halaman

Jumlah Tempat Tidur di RS China Tidak Memadai

Mengutip laman NPR,  ada banyak rumah sakit yang kekurangan tempat tidur. Sehingga aturan lockdown tersebutlah yang dianggap efektif mencegah kenaikan kasus.

Salah satu pakar di China memperkirakan jika Beijing mencabut aturan lockdown, maka jumlah rawat inap akan sangat banyak dan merusak sistem medis di sana.

Sementara tingkat vaksinasi secara keseluruhan pun di sana cukup tinggi. Meskipun capaiannya untuk kategori orang tua masih rendah. China pun diketahui tidak mau menerima vaksin dari negara lain.

Padahal, para peneliti di China mengatakan vaksin buatan China masih kurang efektif bila dibandingkan dengan vaksin mRNA di negara lain. 

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS