Sukses

Catat Ekspor USD 13 Miliar, Indonesia Berperan Penting di Industri Tekstil Dunia

 

Liputan6.com, Jakarta Lembaga nirlaba tekstil berkelanjutan, Rantai Tekstil Lestari (RTL), terus mendorong penguatan aksi kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam rangka mewujudkan transformasi industri tekstil dan fesyen yang berkelanjutan di Indonesia.

“Sustainable fashion, circular fashion tidak hanya sebuah trend, yang muncul sesaat kemudian lenyap. Transformasi ini nyata. Hanya dengan aksi kolaborasi termasuk melakukan beberapa pilot project antar stakeholders, termasuk industri, akademisi, desainer, pemilik brand internasional, dan pemerintah, Indonesia akan mampu mengatasi tantangan dan mendapatkan porsi dari pasar tersebut yang saat ini masih dalam kisaran USD 10 miliar,” kata Ketua Umum RTL Basrie Kamba, dalam “Indonesia Sustainable Conference 2022” yang dilaksanakan RTL di Jakarta, dikutip Rabu (30/11/2022).

Menurut Basrie, industri fesyen global senilai USD 1,3 triliun per tahun sedang memasuki era pembangunan yang berkelanjutan dan sirkular. Indonesia, dengan nilai ekspor sebesar USD13 miliar tahun lalu, masih merupakan produsen tekstil penting dan inti dari rantai pasokan dunia.

“Reformasi rantai industri sirkular dan praktik ekonomi sirkular di industri TPT global ini tentunya akan memberikan tantangan sekaligus peluang bagi para pemain Indonesia,” tambah Basrie.

Konferensi yang dibuka oleh Ketua Umum KADIN, Arsjad Rasjid, diikuti oleh hampir 200 peserta, termasuk lebih dari 100 peserta yang hadir secara daring.

Dua pembicara asing dalam konferensi tersebut adalah Henriette Faergemann dari Kedutaan Besar Komisi Eropa di Jakarta dan Cyndi Rhoades, pendiri dari Worn Again Technologies dan World Circular Textile Day.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Transformasi Industri Tekstil

Panelis lain termasuk Amalia Adininggar Widyasanti, deputi bidang ekonomi, BAPPENAS, Michelle Tjokrosaputro, Sekretaris Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Svida Alisjahbana, CEO dari GCM Group.

Basrie mengatakan konferensi pertama RTL ini bertujuan untuk mengintegrasikan dan berkolaborasi mendukung transformasi industri tekstil dan fesyen tanah air dalam memberikan dampak secara sosial, ekonomi dan lingkungan di Indonesia.

Ketua Umum KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid, menghimbau agar pelaku industri tekstil dan fesyen dapat menerapkan prinsip keberlanjutan pada seluruh mata rantai operasional.

Hal ini sejalan dengan KADIN Net Zero Hub, yakni sebuah ekosistem yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan dalam energy transtition dalam upaya dekarbonisasi.

Dalam paparannya, Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa Bappenas berkomitmen untuk ikut mewujudkan terbentuknya masterplan tekstil Indonesia dimana didalammya termasuk peta jalan transformasi industri tekstil dan fesyen yang berkelanjutan.

“Dengan kolaborasi, nantinya kita dapat menyusun peta jalan yang sejalan dengan prinsip SDGs, yaitu dengan pendekatan perencanaan pembangunan yang Tematis, Holistik, Integratif dan Spasial,” paparnya.

3 dari 4 halaman

Cegah PHK Massal, Menperin Cari Pasar Ekspor Baru Industri Tekstil

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengambil langkah mitigasi akan mencarikan pasar baru untuk ekspor bagi sektor industri, utamanya industri tekstil, produk tekstil dan alas kaki.

Berdasarkan laporan dari sejumlah asosiasi, industri tekstil dan produk tekstil serta alas kaki sedang mengalami kinerja yang melambat.

“Hal ini dikarenakan menurunnya utilisasi di sektor industri serat (20 persen), spinning (30 persen), weaving dan knitting (50 persen), garmen (50 persen), pakaian bayi (20-30 persen), dan alas kaki (49 persen). Beberapa perusahaan itu sudah ada yang memangkas jam kerjanya jadi 3-4 hari, yang biasanya 7 hari kerja,” kata Menperin, Selasa (8/11/2022).

Atas kondisi tersebut, tenaga kerja yang terdampak PHK dari industri tekstil dan garmen dilaporkan mencapai 92.149 ribu orang dan dari industri alas kaki sebanyak 22.500 orang. Namun demikian, dari hasil laporan itu, sedang dilakukan cross check di lapangan oleh satgas internal Kemenperin maupun lintas kementerian dan lembaga terkait.

Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, Kemenperin sudah menyiapkan langkah-langkah mitigasi dari berbagai tekanan, khususnya risiko global.

“Pertama, kami upayakan pencarian pasar baru untuk ekspor bagi sektor industri. Kami mencoba buka akses untuk pasar ke Amerika Latin dan Selatan, Afrika, negara-negara Timur Tengah, dan Asia,” ujarnya.

Langkah selanjutnya yaitu penguasaan pasar dalam negeri, dengan memperkuat dan mendorong promosi dan kerja sama lintas sektoral agar program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) semakin tumbuh.

“Melalui program ini juga akan menumbuhkan sektor industri itu sendiri,” imbuh Agus Gumiwang Kartasasmita.

4 dari 4 halaman

Penguatan Daya Saing

Lebih lanjut, upaya lain yang perlu dipacu adalah penguatan daya saing industri dengan kemudahan akses bahan baku, penguatan ekosistem usaha, dan penguatan sistem produksi.

“Kita bisa lihat dengan berbagai instrumen seperti BMDTP, juga larangan terbatas (lartas), dan banyak lagi instrumen lain yang bisa kita pergunakan,” ujarnya.

Pada triwulan III – 2022, industri TPT tumbuh mencapai 8,09 persen (y-o-y), namun mengalami perlambatan secara q-to-q, terkontraksi hingga -0,92 dibandingkan triwulan II – 2022. Meski begitu, ekspor secara kumulatif masih mengalami kenaikan sampai dengan September 2022 sebesar 15,6% bila dibandingkan data yang pada periode yang sama tahun 2021.

Sementara itu, industri alas kaki, kulit, dan barang dari kulit tumbuh 13,44 persen (y-o-y) pada periode ini. Ekspor alas kaki secara kumulatif sampai dengan September 2022 juga masih mengalami kenaikan sebesar 35,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS