Sukses

Inflasi September 2022 Tembus 1,17 Persen Gara-gara Harga BBM Naik

Liputan6.com, Jakarta Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pemicu inflasi September 2022. Usai Indonesia mencatat deflasi pada Agustus 2022 sebesar 0,21 persen dibanding bulan sebelumnya.

Inflasi September 2022 tercatat sebesar 1,17 persen. Sementara inflasi tahun kalender 2022 mencapai 4,84 persen sedangkan inflasi secara tahunan sebesar 5,95 persen.

"Inflasi sebesar 1,17 persen di September ini utamanya didorong kenaikan di sektor transportasi tapi mampu diredam karena di kelompok makanan minuman terjadi deflasi," jelas Kepala BPS Margo Yuwono dalam pembacaan inflasi September 2022, Senin (3/10/2022).

Dia menyebutkan detail jika penyumbang utama inflasi di antaranya berasal dari kenaikan bensin, tarif angkutan dalam kota, beras, solar, tarif angkutan antarkota, kendaraan online, dan bahan bakar rumah tangga (BBRT).

Angka inflasi September 2022 dipantau dari hasil pemantauan indeks harga konsumen (IHK) di 90 kota, yang sebagian besar mengalami inflasi.

"Inflasi September 2022 sebesar 1,17 persen merupakan tertinggi sejak Desember 2014," jelas dia.

Di mana sebanyak 88 daerah mengalami inflasi, dan 2 tercatat deflasi. Di mana yang tertinggi berada di Bukit Tinggi sebesar 1,87 persen.

Inflasi ini disebabkan kenaikan harga BBM dengan andil 0,81 persen dan harga beras sebesar 0,35 persen dan angkutan dalam kota 0,18 persen.

Sementara inflasi September terendah di Kota Merauke sebesar 0,07 persen. Kemudian 2 kota mengalami deflasi di Manokwari sebesar 0,64 persen dan Timika deflasi sebesar 0,59 persen.

Sedangkan jika secara tahunan, inflasi tertinggi ada di Sampit sebesar 8,85 persen dan terendah di Waingapu 3,92 persen.

Dia menyebutkan pada September terdapat beberapa kejadian yang mempengaruhi inflasi nasional. Seperti kenaikan harga BBM pada 3 September 2022.

Kemudian ada panen raya komoditas holtikultura yang berpengaruh ke perkembangan harga di holtikultura.

Selain itu, adanya kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Day RR demi menahan laju inflasi.

 

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

Cegah Inflasi Melonjak, BI Luncurkan GNPIP di Manado

Bank Indonesia terus melakukan langkah lanjutan untuk mengatasi inflasi pangan di sejumlah daerah, baik dari sisi pasokan maupun permintaan. Salah satunya di kawasan Timur Indonesia. 

Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sulampua (Sulawesi, Maluku, dan Papua) upaya pengendalian inflasi pangan dimulai dari Manado, Sulawesi Utara, sebagai wilayah yang berperan penting dalam pembentukan harga di tiga wilayah pulau ini.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman, menyebut Manado merupakan salah satu kota di Sulawesi Utara yang inflasinya di bawah 4 persen, kendati begitu inflasi tersebut harus tetap dijaga.

Tercatat pada bulan Agustus inflasi Indonesia mencapai 4,69 persen, sudah ada penurunan tetapi tetap sumbangannya berasal dari kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food. Kemudian juga dari proses transmisi dari harga-harga energi yang masuk ke dalam kelompok barang yang ditentukan oleh Pemerintah atau administered price.

Sementara, untuk inflasi dari sisi permintaan menunjukkan pertumbuhan ekonomi itu baru 3,04 persen. Jadi, masih di bawah target inflasi kita 3 plus minus 1 persen. Bahkan kalau kita lihat di Sulampua ini masih sama, tren inflasinya lebih tinggi dari inflasi nasional.

"Yang bagus ini ada di Sulawesi Utara inflasinya masih di bawah 4 persen, baik di Manado maupun di kotamobagu. Mudah-mudahan kita bisa terus jaga tren ini ke depan," kata Aida dalam Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan Sulampua, Senin (3/10/2022).

Bank Indonesia pun berharap inflasi di Manado bisa terus dijaga, karena pihaknya melihat tekanan inflasi masih berlanjut, harga pangan dan energi masih mengalami peningkatan, dan disrupsi dari pasokan terus terjadi sehingga resiko inflasi Indonesia di atas 4 persen di tahun 2022 dan di tahun 2023 juga diproyeksikan masih tinggi.

"Untuk itulah kami di Bank Indonesia pada bulan ini mengangkat tema bauran kebijakan menjaga sinergi untuk stabilisasi dan pemulihan ekonomi," ujarnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.