Sukses

KB Bukopin Ajak Investor Korsel Ekspansi Bisnis di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta KB Bukopin mencatat, hingga kuartal I 2022, program Korean Link Business telah menjaring 51 korporasi Korea Selatan di Indonesia, 44 di antaranya dalam penghimpunan dana, serta 7 lainnya dalam penyaluran kredit dan trade finance.

Program ekosistem korporasi di dunia bisnis ini dirancang untuk membantu perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia mengembangkan bisnis mereka.

Wakil Direktur Utama KB Bukopin Robby Mondong menyampaikan, selain mengakomodasi pelaku usaha dan korporasi Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia, KB Bukopin yakin bahwa program Korean Link Business telah berhasil mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia.

"Sekaligus memperkuat eksistensi KB Bukopin menuju bank terbesar di Indonesia dan global," ujarnya di Jakarta, ditulis Rabu (8/6).

Banyak fasilitas yang disediakan Korean Link Business seperti produk kredit (lending), simpanan (funding), bank garansi, serta fasilitas trade finance seperti letter of credit (LC), Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN), dan standby LC.

Sejak Korean Link Business dijalankan pada kuartal I 2021, tingkat penghimpunan dana (funding) meningkat Rp 6,3 triliun menjadi Rp 7,8 triliun.

Sementara penyaluran kredit sampai dengan 31 Desember 2021 telah mencapai Rp 420 miliar. Nama-nama besar masuk ke dalam daftar itu, di antaranya Krakatau Posco, Lotte Group, LG Electronics, Hyundai, Hankook Tire, Lock&Lock, dan masih banyak lagi.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

2.000 Perusahaan Asal Korea Selatan di Indonesia

Saat ini, terdapat lebih dari 2.000 perusahaan asal Korea Selatan di Indonesia, baik skala besar maupun kecil. Dari jumlah itu, terdapat 190 perusahaan yang menjadi nasabah KB Kookmin di Korea Selatan.

Salah satu dukungan yang diberikan adalah pada Hyundai, pabrikan mobil asal Korea. Melalui cabang Palembang, KB Bukopin telah menjalin kerja sama dalam hal pembiayaan purchase order unit kendaraan ke ATPM Hyundai Indonesia.

Saat ini, Hyundai merupakan pionir dari mobil listrik yang paling terjangkau bagi pasar Indonesia melalui produk Hyundai Kona dan Hyundai Ioniq. Berdasarkan data GAIKINDO, model Battery Electric Vehicle (BEV) dari Hyundai berhasil mendominasi penjualan ritel dengan pangsa pasar hingga 87,3 persen.

Dengan semakin berkembangnya mobil listrik di Indonesia, tentunya dampak ke KB Bukopin juga akan besar. KB Bukopin sendiri memiliki kedekatan dengan Hyundai karena Hyundai Pusat merupakan debitur KB Kookmin Bank di Korea.

Selain mengakomodasi pelaku usaha dan korporasi Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia, KB Bukopin yakin bahwa program Korean Link Business telah berhasil mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia dan sekaligus memperkuat eksistensi KB Bukopin menuju bank terbesar di Indonesia dan global.

 

3 dari 3 halaman

Investor Asing

Sebagai informasi, Penanaman Modal Asing (PMA) mendominasi investasi langsung di Indonesia di awal 2022. Sepanjang kuartal I-2022, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sebesar Rp 282,4 triliun.

Nilai tersebut tumbuh 28,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) atau 16,9 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam sedekade terakhir.

Secara komparatif, penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp 135,2 triliun atau tumbuh 25,1 persen dibandingkan kuartal I 2021. Menurut Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, hal ini adalah bukti bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia semakin kuat.

"Untuk global atau luar negeri sudah mulai nyaman dan sudah mulai yakin terhadap stabilitas kebijakan negara dalam mendorong investasi masuk ke Indonesia. Ini buktinya apa? Dibandingkan dengan kuartal IV-2021, itu tumbuhnya 31,8 persen," ujar Menteri Bahlil dalam konferensi pers Realisasi Investasi triwulan I 2022.

PMA bisa memberikan dampak positif terhadap negara penerima investasi seperti masuknya modal baru untuk membantu mendanai berbagai sektor yang kekurangan dana, membuka lapangan kerja baru sehingga angka pengangguran dapat berkurang, dan meningkatkan pendapatan negara melalui pajak.

Dari segi aktivitas produksi pun ada pengaruhnya juga seperti seperti transfer di bagian manajemen, produksi, dan teknologi dalam produksi.