Sukses

Lonjakan Kasus Covid-19 Bikin Aktivitas Pabrik di China Menyusut

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas pabrik di China dilaporkan menyusut pada bulan Maret 2022, ketika penyebaran Covid-19 terburuk di negara itu memicu lockdown dan pembatasan mobilitas.

Dilansir dari Channel News Asia, Kamis (31/3/2022) data dari Biro Statistik Nasional China (NBS) bahwa Purchasing Manager Index (PMI) negara itu turun ke angka 49,5, tepat di bawah 50 poin persentase yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi.

Itu adalah kontraksi pertama dalam lima bulan dan lebih rendah dari prediksi para ekonom yang dikumpulkan Bloomberg.

Penurunan aktivitas pabrik terjadi ketika otoritas China berjuang meredam wabah Covid-19 dengan pembatasan dan lockdown di pusat-pusat manufaktur utama seperti Shenzhen dan Changchun.

Selama beberapa pekan, China telah mencatat penambahan ribuan kasus Covid-19 dalam sehari, setelah hampir dua tahun berhasil mencegah semua infeksi di dalam perbatasannya.

"Baru-baru ini, wabah berkelompok telah terjadi di banyak tempat di China," kata ahli statistik senior NBS, Zhao Qinghe.

"Ditambah dengan peningkatan signifikan dalam ketidakstabilan geopolitik internasional, kegiatan produksi dan operasi perusahaan China telah terpengaruh," tambahnya.

2 dari 2 halaman

Ekonom Perkirakan PMI China Bakal Anjlok

Kepala ekonom Nomura di China, yakni Lu Ting, juga memperkirakan PMI negara itu akan turun lebih jauh "pada peningkatan lockdown dan langkah-langkah pembatasan".

Dia memperingatkan bahwa lockdown di Shanghai bisa menyebabkan penundaan pengiriman logistik dan kemacetan pelabuhan. 

Sebuah data juga mengungkapkan, sudah ada  lebih dari 150 kapal kargo yang mengantri di luar pelabuhan di China timur.

"Tekad Beijing dalam mempertahankan strategi nol-COVID-19 untuk memerangi varian Omicron kemungkinan besar akan memberikan pukulan telak bagi ekonomi China," kata Lu Ting kepada AFP.

Pembatasan COVID-19 telah berdampak besar pada industri travel China.

tahun lalu, ada tiga maskapai terbesar China yang melaporkan kerugian tahunan hingga USD 6,5 miliar.