Sukses

Menko Luhut: Kita Tak Mau Lagi Basa-basi Sama Bule, daripada Dilecehkan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan atau Menko Luhut mengaku enggan untuk terlalu basa-basi dalam melakukan pembicaraan terhadap bule atau warga negara asing (WNA).

Hal ini dimaksudkan agar bangsa Indonesia tidak bisa direndahkan seenaknya oleh para bule.

"Karena setelah saya lihat, kita bicara terlalu basa-basi kita dianggap leceh aja sama dia (bule)," tegasnya saat membuka Konferensi Pers 5 DPSP, Rabu (1/12/2021).

Menko Luhut menyatakan, sebagai bangsa besar, Indonesia harus lebih berani dalam meningkatkan peran di tingkat dunia. Antara lain dengan menjadikan Indonesia sebagai hub dalam berbagai sektor.

"Saya bilang, kita nggak mau kalau orang lain jadi hub. Nggak bisa enggak. Bodoh banget kalau tidak (hub)," tekannya.

Pun, kata Luhut, sejumlah negara di dunia kini telah melihat perubahan besar dari Indonesia. Antara lain, kian membaiknya neraca perdagangan Indonesia. Bahkan, di tengah situasi ekonomi global sulit akibat pandemi Covid-19.

"Lihat ekspor kami, lihat angka kami, semua berbasis data. Kita (Indonesia) negara begitu kaya. Ekspor kita dalam kondisi begini (pandemi Covid-19) saja ekspor kita baik," keras Menko Luhut mengakhiri.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Presiden Jokowi Tidak Ingin Indonesia Pelihara Mental Terjajah

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, tidak ingin bangsa Indonesia memiliki mental inferior, inlander hingga terjajah. Sebab saat ini dia mengakui masih ada mental tersebut dari bangsa Indonesia.

"Kita tidak ingin, saya tidak ingin mental inferior, mental inlander, mental terjajah ini masih ada yang bercokol di dalam mentalitas bangsa kita. Ketemu bule saja kayak ketemu siapa gitu. Sedih kita. Kita kadang-kadang terlalu mendongak kayak gini wong sama-sama makan nasi juga," kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam HUT Ke-10 Partai NasDem SATU DEKADE DI JALAN RESTORASI di Kampus Akademi Bela Negara, Jakarta Selatan, Kamis (11/11).

Mantan Wali Kota Solo menduga terlalu panjangnya bangsa Indonesia dijajah selama 350 tahun menyebabkan munculnya DNA tersebut. Walaupun kata Jokowi sudah 76 tahun merdeka tetapi DNA tersebut masih saja muncul.

"Jangan-jangan seperti itu meskipun kita sudah 76 tahun merdeka dan merdekanya pun lewat sebuah perjuangan yang panjang bukan diberi. Tapi DNA itu yang masih terus menjadi kepikiran saya. Jangan-jangan kita memiliki mental inlander, mental terjajah, mental inferior gara-gara DNA yang diturunkan karena 350 tahun kita terjajah," ungkapnya.

Jokowi menyebut, Jangan sampai bangsa Indonesia kehilangan orientasi. Hal tersebut kata Jokowi yang dinamakan gerakan perubahan, gerakan retorasi.

"Ya di situ dan mental inlander itu, mental terjajah itu, mental inferior itu jangan sampe enggak ilang-ilang sampai sekarang. Jangan juga ada yang memelihara gitu, mental seperti itu jangan dipelihara," bebernya.

Sebab kata Jokowi, Indonesia memiliki banyak penggalan sejarah kejayaan dari pendahulu-pendahulu kita. Jokowi pun menegaskan kemerdekaan Indonesia bukan hasil dari pemberian tetapi hasil dari sebuah perjuangan panjang.

"Sebab itu sering saya smpekan bahwa kita ini kaya dengan warisan peradaban dan ajaran budi pekerti menurut saya menjadi sebuah hal yang sangat penting sekali untuk memperkuat identitas, memperkuat karakter bangsa ini," ungkapnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com