Sukses

Rendria Labde, Pengelola Larva yang Masuk Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2021

Liputan6.com, Jakarta - Forbes baru saja mengeluarkan daftar Forbes 30 Under 30 Asia Tahun 2021. Terdapat banyak nama anak muda Indonesia yang masuk daftar tersebut. salah satunya adalah Rendria Labde.

Pria berusia 29 tahun ini dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia untuk sektor industri, manufaktur dan energi.  Labde mendirikan perusahaan agroteknologi bernama Magalarva.

Dalam akun instagramnya @rendialabde, Labde tidak menyangka bila dirinya masuk dalam faftar Forbes 30 Under 30 Asia Tahun 2021. Pegiat lingkungan asal Depok, Jawa Barat ini bersyukur, perusahan yang dibangunnya mendapatkan pengakuan dari Forbes.

"Super super honoured to be selected amongst super people from all over Asia. Thank you so much @forbes @forbesasia for acknowledging @magalarva," tulis Labde dikutip Senin (26/4/2021).

Perusahaan rintisan (Startup) Magalarva dibangun sejak 2017. Labde mendirikan Magalarva untuk mengurangi limbah dengan menggunakan larva dari serangga Black Soldier Fly (BSF).

Berlokasi di Bogor, Magalarva mengolah sampah organik untuk menjadi pakan larva BSF. Bila sudah waktunya, larva tersebut akan diolah menjadi pupuk, tepuk ikan atau bubuk kering yang digunakan untuk tambahan protein bagi hewan peliharaan.

Dalam menjalankan usahanya, Labde berhasil mendapatkan pembiayaan modal sebesar USD 500 ribu atau sekitar Rp 7,2 miliar (estimasi rupiah 14.514 per dolar AS). Startup ini juga sebelumnya berpartisipasi dalam program akselerator yang diprakarsai konglomerat Indonesia Salim Group dan Gree Ventures dari Jepang.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Pengenalan Program #ZerotoLandfill Agar Sampah Tidak Berakhir di TPA

Sebelumnya, dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2020, jaringan supermarket nasional terkemuka di Indonesia, Super Indo memperkenalkan berbagai inisiatif penanganan sampah yang didesain dalam program besar #ZerotoLandfiil.

Hal ini sebagai bentuk komitmen bisnis Super lndo yang ramah lingkungan. Program tersebut dikhususkan dalam manajemen sampah organik yang bisa memberikan nilai dan manfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Super lndo juga melakukan penandatangan kerjasama dengan para mitra pengelola sampah yaitu FoodBank of Indonesia, Magalarva dan Delta Hijau Abadi yang disaksikan oleh perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia serta awak media nasional.

”Saat ini, kita sedang menghadapi masalah penumpukan sampah yang dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Sudah saatnya kita bergerak melakukan penanganan sampah dengan cerdas dan benar-benar memahami bahwa sampah juga bisa memberikan manfaat,” terang Johan Boeljenga, Chief Executive Officer Super lndo di Jakarta, 28 Februari 2020.

“Kami di Super lndo menjalankan metode ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah di setiap kegiatan operasional kami, dan tentunya ini juga sebagai bentuk dukungan kami kepada pemerintah dalam memerangi sampah,” lanjutnya.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, diperkirakan Indonesia menghasilkan 66-67 juta ton sampah pada 2019. Komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, yakni mencapai 60 persen dari total sampah. Sampah plastik menempati posisi kedua dengan 15 persen dan sampah lainnya terdin’ atas kertas, karet, logam, kain, kaca, dan jenis sampah Iainnya.

Menurut D. Yuvllnda Susanta, Head of Corporate Affairs 8: Sustainability Super lndo, dalam bisnis supermarket grocery, sampah organik biasanya dipandang sebagai sampah tanpa nilai sama sekali dan harus Iangsung dibuang ketempat pembuangan sampah atau TPA.

“Super lndo dulu memiliki pemikiran yang sama, tetapi sekarang kami percaya bahwa sampah organik tidak boleh dilihat sebagai sumber pencemaran Iingkungan yang harus segera dibuang ke TPA atau dibakar di insinerator, karena ini dapat menyebabkan masalah polusi Iainnya. Sebaliknya, sampah organik harus dikelola agar bermanfaat dan berguna,” tuturnya.

Sejak 2016, Super lndo menjalankan program pengelolaan sampah dengan konsep ramah lingkungan. Untuk jenis sampah organik, yang secara volume jauh Iebih tinggi, Super lndo membuat dua kala prioritas penanganan.

Pertama adalah mengolah sampah organik menjadi produk bernilai dan kedua memanfaatkan sampah organik untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dalam menjalankan prioritas tersebut, Super Indo mengelola tiga jenis sampah organik yang paling banyal dihasilkan dalam kegiatan operasional, yaitu sampah buah, sayur, daging, ikan, minyak goreng bekas, dari produk makanan minuman yang masih baik namun tidak dapat dijual.

"Dalam menjaIankan program #ZerotoLanfiil ini, tentunya kami tidak bekerja sendiri. Kami dibantu oleh beberapa mitra pengelola sampah yang menangani masing-masing jenis sampah,” jelas Yuvlinda.

“Dan untuk menjalankan secara resmi kemitraan tersebut, hari ini kami melakukan MOU Signing dengan para mitra yaitu FoodBank of Indonesia dan Magalarva untuk menjalankan pengelolaan sampah organik agar bernilai dan bermanfaat,” sambungnya.

Pengelolaan beberapa sampah yang dijalankan Super lndo bersama mitra Magalarva dan Delta Hijau Abadi menghasilkan produk-produk yang bernilai ekonomis karena menggunakan konsep circular economy. Sementara yang bersama FoodBank of Indonesia, konsep yang diusung adalah pemanfaat makanan untuk membantu masyarakat prasejahtera dan korban bencana.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS