Sukses

Dukung Sektor Bisnis, PLN Tambah Daya Listrik Pondok Indah Mall Jadi 13 Juta VA

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) siap memberikan dukungan untuk pertumbuhan ekonomi di sektor bisnis dan industri terutama di masa pandemi Covid-19. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menyiapkan pasokan listrik yang cukup dan andal.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Doddy B. Pangaribuan mengatakan, salah satu dukungan PLN kepada sektor bisnis dan industri adalah penambahan daya listrik untuk Pondok Indah Mall (PIM) 3.

"PIM 3 memang ditargetkan opening pada April ini dan PLN sudah menyiapkan suplai listrik menjadi 13.320.000 Volt Ampere (VA) dari sebelumnya 4.330.000 VA," kata Doddy, Minggu (11/4/2021).

General Manager Pondok Indah Mall Eka Dewanto menambahkan, dengan pengoperasian ini, diharapkan PIM 3 dan PLN juga bisa menggerakkan perekonomian bangsa, karena seperti yang sudah dilakukan di PIM 1 dan 2 termasuk Galery banyak sekali tenant yang ada yang artinya pembukaan mal ini menambah pendapatan para pencari nafkah.

Begitupun Wakil Presiden Direktur PT Metropolitan Kentjana Jeffry Tanudjaja yang merupakan perusahaan pengelola Pondok Indah Mall, menyampaikan apresiasi atas kerjasama positif yang sudah terbangun dengan PLN.

Untuk kebutuhan listrik proyek PT Metropolitan Kentjana selanjutnya maupun pengembangan bisnis lain di Jakarta, Doddy menyatakan kesiapan kecukupan daya listrik dengan cadangan listrik di sistem Jakarta.

"Berapapun dayanya dan kapanpun diminta, kami selalu siap," kata Doddy.

Demikian untuk mendukung kelancaran bisnis maupun operasional di bidang lainnya, PLN mempunyai produk layanan listrik premium yang memberikan keandalan ekstra karena dipasok dari dua sistem berbeda.

Sehingga, apabila pada suplai utama mengalami gangguan bisa dialihkan ke sumber cadangan dengan kualitas listrik yang sama.

2 dari 3 halaman

Jalankan Tugas Negara, PLN Siap Pasok Setrum dan Uap di Blok Rokan

Sebelumnya, PT PLN (Persero) memastikan siap memasok kebutuhan listrik dan uap ke Blok Rokan di Riau. Hal ini seiring dengan berakhirnya pengelolaan Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI). Adapun kebutuhan listrik blok ini mencapai 400 Mw serta steam 355 MBSPD.

Kegiatan usaha penyediaan listrik di Blok Rokan, disebut memang harus dilakukan PLN. Ini seiring berakhirnya kontrak blok migas ini dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada awal Agustus 2021.

“Bagi PLN melistriki Blok Rokan bukan tentang keuntungan melainkan tentang menjalankan tugas nasional,” ujar Direktur Niaga dan Layanan Pelanggan PLN, Bob Saril pada webinar bertajuk Pengamanan Aset Negara dan Keberlanjutan Pasokan Listrik di Blok Rokan, Kamis (8/4/2021).

Dalam proses ini, CPI diminta berkomunikasi dengan PLN selaku pemegang mandat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No 634 12/20/600.3/2011. PLN juga telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dan Uap (PJBTLU) dengan Pertamina.

Dikatakan jika mengacu pada Kepmen nomor 634, tidak ada Badan Usaha selain PLN yang berhak atau berwenang untuk melakukan kegiatan usaha Penyediaan Listrik di Blok Rokan.

Ditegaskan jika penyediaan tenaga listrik adalah sangat penting dalam mendukung efisiensi dan kecukupan listrik secara nasional, setiap badan usaha yang hendak turut serta dalam usaha penyediaan tenaga listrik sebaiknya selalu berdasarkan kerja sama dengan PLN sebagai penyedia tenaga listrik di seluruh wilayah Indonesia.

Mayoritas pasokan listrik di Blok Rokan berasal dari PLTGU yang dikelola PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) yang mayoritas sahamnya dimiliki Chevron Standar Ltd (CSL).

Perjanjian listrik dan uap Chevron dengan MCTN yang sahamnya mayoritas dimiliki CSL sebagai satu grup Holding Chevron, dituangkan dalam bentuk Energy Service Agreement (ESA) dengan pembayaran pengembalian investasi dalam bentuk Capacity Fee.

Masa kontrak mulai 2000 hingga 8 Agustus 2021, yang diperkirakan penerimaannya telah melebihi pengembalian investasi sehingga kepentingan pemegang saham sudah terpenuhi selama ini.

Bob menjelaskan, setelah berakhir masa kontrak pengelolaan Blok Rokan oleh CPI, ESA antara CPI dan MCTN juga berakhir.

CSL sebagai pemegang saham mayoritas MCTN sepantasnya tidak melakukan bidding terbuka penjualan saham MCTN dengan menggunakan jasa konsultan keuangan JP Morgan.

Karena pengelolaan Blok Rokan oleh CPI berakhir pada Agustus 2021, lanjut Bob, CSL selaku pemilik saham mayoritas MCTN yang Perjanjiannya dengan CPI juga berakhir pada Agustus 2021 seharusnya melakukan komunikasi yang kondusif dengan penyedia listrik dan uap yang sudah ditunjuk Pertamina dalam penyediaan listrik dan uap yang andal dan efisien untuk jangka panjang seiring dengan pengelolaan Blok Rokan yang beralih ke Pertamina mulai 9 Agustus 2021.

Bob menyebutkan, PLN siap menjalankan amanah penting untuk mendukung pengelolaan Blok Rokan oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), anak usaha PT Pertamina Hulu Energi, berproduksi dan menghasilkan sebesar-besarnya bagi negara.

PLN juga siap secara business to business negosiasi dengan Chveron terkait pembangkit di Blok Rokan. “Masalah B2B, yes we do, tentu saja ini harus dilandasi dengan fairness. Yang ditawarkan itu harus sesuatu yang wajar,” tegas Bob.

Menurut dia, PLN sanggup mengelola pembangkit CSL di Rokan. Apalagi PLN terbiasa menggunakan teknologi apapun untuk pembangkit. “Seperti PLTGU di Tanjung Priok dan Muara Karang, itu mesinnya sama seperti di Rokan,” katanya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: