Sukses

CEO hingga Artis Ramai Jualan NFT, Primadona Baru Aset Digital Setelah Tren Bitcoin?

Liputan6.com, Jakarta Bitcoin dan mata uang kripto lainnya bukan satu-satunya sektor di industri keuangan dan teknologi yang mendulang popularitas selama pandemi Covid-19 setahun terakhir. Non-fungible token (NFT) juga diserbu banyak orang penting, mulai dari CEO, artis hingga atlet.
 
NFT merupakan model baru transaksi aset secara digital dengan memanfaatkan blockchain, sistem serupa yang juga dipakai dalam transaksi Bitcoin dan kawan-kawannya. Bedanya, NFT bukanlah alat transaksi dan hanya berperan sebagai aset tunggal yang tidak bisa diduplikasi.
 
Salah satu inisiatif penjualan aset NFT yang sempat menyita publik global yaitu saat sosialita kenamaan dunia, Paris Hilton pada Agustus tahun lalu, menjual gambar kucing peliharaannya yang dibuat secara digital olehnya langsung.
 
Dikutip dari Decrypt, Senin (12/4/2021) hasil gambar tangannya itu kemudian berhasil laku dengan transaksi menggunakan Etherium (ETH) sebanyakan 40 ETH. Nilainya setara dengan USD 17.000 atau sekitar Rp 245 juta.
 
Model baru jual beli aset ini juga mulai menapaki tangga popularitas di kalangan miliarder teknologi semenjak CEO Twitter, Jack Dorsey menjual cuitan pertamanya sebagai aset NFT.
 
Cuitan bersejarahnya itu kemudian laku dibeli oleh CEO Bridge Oracle, Sina Estavi dengan harga USD 2,5 juta atau setara lebih dari Rp 35 miliar.
 
Bos Tesla yang juga merupakan salah satu orang paling kaya di dunia, Elon Musk tidak absen untuk mencicipi popularitas tren baru ini. Bahkan ia sempat mendulang perhatian publik atas sikap labilnya di Twitter terkait perdagangan NFT.
 
Sosok yang terkenal aktif mempromosikan Bitcoin dan mata uang kripto lainnya ini sempat mengabarkan akan menjual sebuah musik EDM berdusasi kurang dari 3 menit sebagai aset NFT.
 
Kabar itu dibagikannya di Twitter pada 16 Maret dan sempat ditawar seharga USD 69 juta atau hampir Rp 1 triliun. Meski begitu, sehari setelahnya Musk kembali mengumumkan di twitter bahwa ia tidak akan menjualnya.
 
Dengan catatan perjalanan bisnisnya yang bisa dibilang cukup moncer, Mark Cuban ikut serta dalam pertarungan baru ini dengan menjual kisah inspiratif kala merintis bisnisnya. Pria yang terkenal sebagai taipan bisnis media dan penyiaran ini menjual sebuah gambar yang menampilkan foto dirinya dilengkapi sengan sebuah kutipan motivasi.
 
"Tidak ada yang pernah mengubah dunia dengan melakukan apa yang dilakukan orang lain - Mark Cuban" kutipan motivasi ini tepat berada di atas gambar dirinya.
 
2 dari 5 halaman

Harapan Baru Industri Olahraga

 
Miliarder Mark Cuban bukan hanya terkenal sebagai taipan media, namun juga pebisnis yang aktif berinvestasi ke sejumlah klub olahraga.
 
Menjadi pemilik dari klub basket terkenal, Dallas Mavericks, ia juga kabarnya berencana untuk mengubah sistem penjualan tiket pertandingannya menjadi NFT untuk mengumpulkan lebih banyak pendapatan untuk timnya. 
 
"Kami ingin dapat menemukan cara agar tidak hanya konsumen kami, penggemar kami, dapat membeli tiket dan menjualnya kembali, tetapi kami terus membuat royalti atas mereka." sebut Cuban dalam wawancara di The Delphi Podcast seperti dikutip dari CNBC.
 
Dilema sepinya pertandingan olahraga rupanya juga telah mengubah cara sejumlah atlet untuk tetap menghasilkan pemasukan. Terutama setelah sejumlah pertandingan terpaksa dihentikan, jualan NFT adalah solusi yang masuk akal untuk dicoba.
 
Salah satu atlet American Football terkenal AS dan juga pemain di klub Tampa Bay Buccaneers, Rob Gronkowski merilis NFT perdananya. Karya seni ini terdiri atas lima jenis kartu bergambar dirinya saat sedang di lapangan, beserta tanda tangan asli. Setiap jenis karya seni tersebut diproduksi terbatas hanya untuk 87 unit per jenisnya.
 
Setelah Gronkowski berhasil meraup pendapatan sekitar USD 2 juta atau hampir Rp 30 miliar, Bleacherreport juga merilis kabar, atlet American Football lainnya juga menyusul kesuksesan Gronkowski menjual karya NFT. 
 
Kini giliran pemain dari Kansas City Chiefs, Patrick Mahomes yang menjual enam buah karya seni bergambar dirinya sedang di lapangan pertandingan. Salah satu dari karyanya itu bahkan dihargai USD 247.000 atau Rp 3,5 miliar.
3 dari 5 halaman

Musisi Rama-Ramai Jualan NFT

 
Pandemi juga telah memukul mesin uang bagi para musisi, terutama setelah lockdown membuat jadwal konser dibatalkan secara serentak. Mereka harus memutar otak untuk tetap bisa menghasilkan uang dengan karyanya, termasuk menjamin tim produksinya dapat bertahan di tengah musim paceklik.
 
Dikutip dari The Wall Street Journal, analisis yang dilakukan oleh peneliti teknologi musik Cherie Hu menunjukkan adanya tren penjualan NFT di kalangan musisi. Sepanjang bulan Juni 2020 hingga pertengahan Maret 2021, ada sekitar 29.800 unit NFT yang melibatkan musisi. 
 
Dari penjualan puluhan ribu unit tersebut, total nilainya menghasilkan USD 42,5 juta atau lebih dari Rp 600 miliar. Dengan rata-rata nilai transaksi per unit sebesar USD 1.427 atau sekitar Rp 20,5 juta. 
 
Salah satu musisi yang ikut serta dalam perdagangan baru ini ialah musisi beraliran EDM, Justin Blau atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya 3LAU.  Sejak akhir Februari, ia mulai merilis kurang lebih 33 unit NFT.
 
Dalam satu bulan perilisan, ia berhasil meraup USD 17 juta atau sekitar Rp 245 miliar. Sebagian besar disumbangkan dari penjualan NFT albumnya tiga tahun silam "Ultraviolet" yang secara khusus meraup hingga USD 11 juta atau lebih dari Rp 158 miliar.
 
Harga NFT untuk satu albumnya itu bahkan memecahkan rekor penjualan satu unit NFT dengan harga termahal dalam sejarah, yang sebelumnya dipegang oleh animator dan desainer digital Mike Winkelmann atau akrab dikenal Beeple. Harga tertinggi satu unit NFT yang berhasil dijual Beeple yaitu USD 3,6 juta atau sekitar Rp 51,8 miliar.
 
"Ini adalah cara untuk memonetisasi basis penggemar anda dengan cara yang tidak pernah mungkin dilakukan. Saya pikir teknologi ini pasti akan mengubah dunia, tetapi saya sangat optimis karena tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana menghargai barang ini," sebut Blau.
 
Musisi lainnya, ada grup duo, Disclosure yang merilis single yang diproduksinya dari Twitch dan dijual sebagai NFT dengan harga USD 69.000 atau hampir Rp 1 miliar. Begitupun musisi sekaligus DJ kelahiran Miami, Steve Aoki yang sudah meraup USD 4,25 juta atau lebih dari Rp 60 miliar dari penjualan sejumlah unit NFT miliknya.
 
 
4 dari 5 halaman

NFT sebagai Misi Sosial

Selain 3LAU dan beberapa musisi lain yang merilis aset NFTnya. Band rock senior asal Tennessee, Kings Of Leon merilis album NFT pertamanya awal bulan lalu. Keputusan itu menjadikannya musisi pertama yang merilis album barunya secara penuh dalam bentuk aset model baru ini. 
 
Kings of Leon merilis album NFT perdananya berjudul 'When You See Your Self'.  Hanya dalam beberapa hari perilisan, album NFT ini sudah dihargai lebih dari USD 2 juta atau hampir Rp 30 miliar.
 
Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi anggota group, mereka juga melakukannya untuk kegiatan amal. Dari hasil yang didapatkan, USD 500.000 atau hampir Rp 7,5 miliar akan didonasikan untuk membantu para pekerja di acara musik yang kehilangan pekerjaan selama pandemi.
 
Tujuan serupa juga dilakukan oleh Jack Dorsey yang menjual tweet pertamanya. Hasil dari lelang itu akan diberikan kepada penduduk Afrika yang terancam kelaparan akibat kehilangan pekerjaan selama pandemi. Penyaluran donasi ini dilakukam lewat lembaga amal Give Directly yang berbasis di New York.
 
Begitupun dengan karya seni NFT yang dijual oleh Paris Hilton, yang kabarnya hasil penjualan saat itu disalurkan kepada sejumlah lembaga sosial.
 
Beberapa lembaga itu diketahui memiliki fokus penyaluran bantuan kepada warga AS yang tidak memiliki tempat tinggal, serta menyediakan makanan secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
 
 
Reporter: Abdul Azis Said
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Ini