Sukses

Tertekan Obligasi AS, Rupiah Melemah Hampir Sentuh 14.500 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa ini. Rupiah melemah tertekan kenaikan imbal hasil obligasi AS

Mengutip Bloomberg, Selasa (9/3/2021), rupiah dibuka di angka 14.415 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.360 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus bergerak melemah ke 14.422 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.415 per dolar AS hingga 14.462 per dolar AS. jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 2,65 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.468 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.390 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi masih terkoreksi dibayangi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS.

"Dolar AS masih berpeluang menguat di awal sesi Selasa bila melanjutkan sentimen beli dolar AS yang ditopang naiknya tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya seperti dikutip dari Antara.

Telah disetujuinya stimulus fiskal pemerintah AS sebesar USD 1,9 triliun oleh Senat AS di akhir pekan lalu dan janji Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell untuk mempertahankan stimulus moneter untuk menopang pemulihan ekonomi AS, telah menopang kembali naiknya tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 2 halaman

Dolar AS Naik ke Level tertinggi

Dolar AS naik ke level tertinggi dalam 3,5 bulan pada Senin (8/3) kemarin karena meningkatnya tingkat imbal hasil obligasi AS yang membuat takut investor dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven dolar AS.

Setelah turun sekitar 4 persen pada kuartal terakhir 2020, dolar AS telah menguat hampir 2,5 persen pada tahun ini hingga hari ini karena investor memperkirakan kenaikan secara luas dalam tingkat imbal hasil obligasi AS yang dapat membebani penilaian ekuitas dan meningkatkan permintaan untuk mata uang AS.

Data ekonomi AS akhir-akhir ini juga mendukung penguatan dolar AS seperti laporan jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian yang menambahkan 379.000 pekerja pada bulan lalu.