Sukses

Keluh Kesah Pengusaha Bangun Energi Terbarukan, Sulit Izin hingga Biaya Mahal

Liputan6.com, Jakarta - Coca Cola Amatil Indonesia turut berperan aktif untuk membatasi peningkatan suhu global di bawah 1,5 derajat celcius. Oleh sebab itu, perusahaan menargetkan setidaknya 60 persen dari kebutuhan energinya bersumber dari energi terbarukan dan rendah karbon.

Salah satu yang dilakukan perusahaan yaitu mengimplementasikan atap panel surya. Namun, dalam proses implementasinya ada sejumlah tantangan dalam pengembangan energi terbarukan.

Salah satunya, regulasi yang kurang menunjang investasi energi terbarukan untuk institusi non-pemerintah. Dalam hal ini adalah birokrasi yang cukup rumit.

"Tantangan pertama yaitu simplifikasi birokrasi proses perizinan. Contohnya, kami membutuhkan waktu enam bulan untuk mendapatkan sertifikat izin operasi, dan sertifikasi laik operasi untuk dapat mengoperasikan atap solar panel," kata Pubic Affairs, Communications & Sustainability Director Coca Cola Amatil Indonesia, Lucia Karina, dalam webinar pada Selasa (2/3/2021).

Tantangan kedua, yaitu biaya yang cukup mahal untuk mengembangkan energi terbarukan. Ditambah lagi tidak ada stimulus atau insentif dari pemerintah untuk mendorong penerapan energi terbarukan oleh industri.

"Kita bisa contoh negara lain seperti Jerman, yang memberikan insentif keuangan bagi pengusaha yang membangun PLTS untuk industrinya," tutur Lucia.

Tantangan selanjutnya, adalah belum ada pengaturan batas atas harga untuk panel surya yang bisa dijangkau industri dan masyarakat di Indonesia.

Ia pun berharap PT PLN (Persero) dapat meningkatkan penggunaan pemakaian listrik tenaga air untuk memasok industri. "Karena dengan demikian, jejak karbon di industri juga bisa berkurang," jelasnya.

 

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Kurangi Energi Fosil

Lucia mengatakan, keterlibatan industri dapat membantu pemerintah mengurangi energi bahan bakar fosil, serta meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan.

"Capaian target pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca cukup berat tanpa dukungan industri dan masyarakat. Jadi kami berharap dengan upaya yang kami lakukan bisa mendukung target pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030," ungkap Lucia.

Coca Cola Amatil Indonesia pada 2019 telah memasang atap panel surya di pabrik terbesarnya di Cikarang barat, dengan luas 72 ribu meter persegi. Ini disebut menghasilkan 9,6 juta kwh tenaga surya bersih untuk menggerakkan fasilitas manufaktur, serta mengurangi 8,9 juta kilogram emisi karbon setiap tahunnya.