Sukses

Bos BI: Penerapan Kebijakan Covid-19 Kian Efektif maka Ekonomi Bisa Melesat

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan jika kecepatan pemulihan ekonomi tergantung pada implementasi berbagai kebijakan dalam rangka menanggulangi dampak pandemi Covid-19.

Tahun ini, Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini berkisar 4,8 persen hingga 5,8 persen. 

“Tergantung pada bagaimana kecepatan implementasi berbagai kebijakan. Semakin efektif maka akan semakin lebih tinggi di atas 5 persen,” ujar Perry dalam diskusi daring, Jakarta, Jumat (22/1/2021).

Perry mengatakan optimisme terhadap pemulihan ekonomi nasional akan dicapai melalui beberapa sumber. Mulai dari ekspor, fiskal, konsumsi, hingga investasi.

Adapun ekspor tahun lalu mencapai USD 16,5 miliar atau tumbuh 14,6 persen. “Ekspor ini akan menjadi daya dukung pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Lalu investasi, sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang salah satunya berupa Undang-Undang Cipta Kerja sehingga mampu mendorong penanaman modal asing ke Indonesia.

Sementara konsumsi, menurut Perry, mulai meningkat namun tidak secepat perkiraan pemerintah karena sangat bergantung pada bantuan sosial (bansos) dan mobilitas.

“Kemarin menjelang akhir tahun mobilitas naik, konsumsinya naik, sekarang ada PSBB jadi agak menurun sedikit, ini juga ada penurunan sedikit,” jelas dia.

Perbaikan ekonomi Indonesia tahun ini juga akan didukung oleh stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Inflasi diperkirakan terkendali yaitu 3 persen plus minus 1 persen. Defisit transaksi berjalan minus 1 persen sampai 2 persen dari PDB, kredit 7 persen sampai 9 persen, serta dana pihak ketiga 7 persen sampai 9 persen.

“Ini adalah beberapa ringkasan dari outlook 2021 yang mendasari kami untuk tetap optimistis. Mari kita bangun optimisme bagi pemulihan ekonomi,” tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Pembenahan Industri Manfaktur Bisa Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional

Pembenahan industri manufaktur menjadi kunci pemulihan ekonomi usah tertekan sebagai dampak dari pandemi Corona Covid-19. Hal ini karena sektor manufaktur mampu menyerap mayoritas pekerja Indonesia.

"Bagian penting dari struktural pemulihan ekonomi adalah kita memang perlu membenahi industri manufaktur kita. Karena sama-sama kita tahu, 15 tahun terakhir kita mengalami deindustrialisasi," kata Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal, Jakarta, Rabu (20/1/2021).

Faisal mengatakan, pemulihan sektor manufaktur akan berdampak langsung terhadap pemulihan ekonomi secara umum. Sebab, selama ini sektor manufaktur memegang peranan penting dalam menyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Memang ini tidak pemulihan untuk jangka pendek atau short term tapi untuk jangka panjang tidak hanya dikulitnya saja tapi sampai kepada transformasi yang fundamental dan struktural sehingga lebih kuat dan berkelanjutan pemulihan ekonomi kita ke depan," paparnya.

Pada saat pandemi Virus Corona menyerang Indonesia, manufaktur adalah sektor yang paling terpukul. Bahkan pertumbuhan sektor industri manufaktur berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pertumbuhan industeri manufaktur berada dibawah pertumbuhan ekonomi nasional, ini terjadi pada saat pandemi. Industri manufaktur terdampak lebih dalam dibanding sektor-sektor yang lain. Artinya masalah upaya mengembalikan ini jadi pekerjaan utama," jelasnya.

Dia menekankan, perbaikan sektor industri terutama manufaktur menjadi sangat penting ke depan. "Sektor ini, sektor yang paling besar sumbangsihnya terhadap ekonomi kita dan salah satu yang paling besar menyerap tenaga kerja kita," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini